Osama Bin Laden Melawan Amerika

Posted on November 16, 2008. Filed under: Islami | Tag: |

Kalau memang mengobarkan jihad melawan Yahudi dan Amerika untuk membebaskan Al-Aqsa dan Ka’bah dianggap sebuah tindakan kriminal, biarkan sejarah menjadi saksi bahwa saya adalah kriminal.” Osama Bin Laden

Sekilas Tentang Osama

osama-bin-laden Nama: Osama bin Laden

Wali: Mohammad bin Laden

Lahir: 1957

Pendidikan: Insinyur Teknik Sipil dari Universitas King Abdul Aziz, 1970-1980

1980-an: Datang ke Afghanistan sebagai sukarelawan, bergerak di bidang logistik, mengkonstruksi jalan serta membantu pengungsi.

1986: Terjun jihad di medan perang.

1989: Kembali ke Jeddah.

1991: Perang Teluk menjadikan Osama menawarkan pertahanan Arab Saudi terhadap ancaman invasi Saddam Hussein.

1992: Hengkang ke Khartoum.

1996: Hilang kewarganegaraan Arab Saudi.

1996: Ke Afghanistan setelah dipaksa keluar dari Sudan oleh tekanan AS dan Arab Saudi.

1998: Mengeluarkan fatwa jihad melawan AS dan Zionis.

1998: Terjadi pemboman di Kenya dan Tanzania.

1998: Kota Khost dirudal AS.

1999: Di persembunyian hingga sekarang.

Salam Untuk Amerika, Saya Osama
John Miller

Tembakan senjata api beberapa kali terdengar di udara, hanya dalam beberapa menit kemudian tembakan kian memekakkan telinga. Lusinan pemuda Arab mulai memuntahkan tembakan ke udara setelah melihat aba-aba cahaya lampu sorot di atap mobil pick-up gardan empat yang mengarah ke puncak bukit.

Telinga kanan saya terasa pekak. Saya berbalik, berharap dapat melihat meriam, namun sebaliknya, yang saya dapatkan anak kecil sedang tersenyum –mungkin umurnya baru sekitar lima belas tahunan dia menembakkan senjata otomatisnya hanya beberapa inci dari telinga saya. Saya kira bahwa hanya sebagai ujian, seperti yang biasa dilakukan. Dia berupaya untuk menakuti. Saya adalah seorang reporter dan mantan pejabat kepolisian di New York. Saya mendengarkan tembakan-tembakan pelampiasan kemarahan. Sambil tersenyum kepada anak kecil itu, perlahan saya dorong senjatanya. Ini cara saya untuk berkata, “Upaya yang bagus sekali! Tapi engkau tidak dapat membuat saya melompat terkejut.” Walaupun tembakan pelurunya hanya berjarak satu inci dari telinga saya, itu tidak menjadi masalah. Sekarang, itu bukan perkara lucu lagi. Saya marah kepadanya, tapi mari kita hadapi saja anak kecil dengan senjata AK-47 dan selilit 30 rangkai peluru. Seberapa lama saya dapat memelototkan mata? Satu hal yang saya ketahui di New York saat ikut mendamaikan peperangan di penghujung tahun delapan puluhan: anak belasan tahun yang menenteng senjata-senjata otomatis paling cocok untuk tidak dipukul. Saat saya saksikan seseorang datang dan kemudian pasukan setianya meletakkan senjata-senjata mereka dengan luapan kegembiraan, pemuda tadi hampir saja membuat saya tuli.

Puncak bebukitan di bagian selatan Afghanistan ini memang jauh dari rumah, tetapi dalam hal lain bukanlah demikian. Pada malam itu, saya bisa dibilang yakin bahwa orang yang akan saya temui adalah orang yang memerintahkan tembakan-tembakan tadi, dan dia juga yang menekan tombol peledakan gedung Pusat Perdagangan Dunia (World Trade Center) di New York. Dunia ternyata kecil.

Beberapa menit sebelum upacara penyambutan yang menegangkan, seorang berkata kepada saya, “Sebentar lagi Tuan Osama bin Laden akan datang.” Laki-laki yang bertubuh jangkung dan berjenggot dengan serban yang melilit di kepalanya itu tidak memperkenalkan jati dirinya, tetapi kelihatannya dia adalah sekretaris urusan pers Osama. “Kami telah persiapkan acara penyambutan yang meriah.” Kapan pun dia datang, akan selalu ada pesta.

Percikan-percikan api dan peluru yang ditembakkan membuat garis panjang di udara, silang-menyilang di kegelapan malam dan kesunyian langit yang penuh bintang. Kembang-kembang api dinyalakan, dan memancar indah jatuh bagai hujan berwarna kuning, lantas menguap sebelum sempat menyentuh bumi. Waktu tembakan-tembakan senjata terus terdengar, serombongan mobil bergardan empat melaju cepat di jalanan yang penuh lumpur.

Sejumlah pengikut setia Osama bin Laden juga terlihat, semua berbekalkan senjata otomatis buatan Rusia dan Cina. Beberapa orang ditempatkan di pos-pos tempat strategis dengan peluncur granat. Berbulan-bulan saya harus berupaya untuk mengatur pelaksanaan wawancara dengan orang ini. Baru sekarang dua bulan sebelum terjadi peledakan di Kedutaan Besar Amerika di Kenya dan Tanzania oleh bom-mobil Bin Laden –wawancara ini bisa dilakukan. Setelah larut malam, di atas bukit ini, saat Osama bin Laden belum menjadi “bulan-bulanan” Amerika Serikat.

Jaksa Agung di New York masih harus mencari dan mendengarkan berbagai bukti lebih kurang satu tahun lamanya tentang peranan Osama sebagai organisator dan donatur gerakan terorisme anti-Amerika. FBI menuduh Osama –atau paling tidak uangnya– berada di balik semua peristiwa: mulai dari pemboman Pusat Perdagangan Dunia, penembakan jatuh helikopter Amerika di Somalia, pemboman di Arab Saudi dan Yaman yang mentargetkan orang-orang Amerika di sana. Dan sekarang, Osama baru tahu bahwa target-targetnya berbalik mengancam eksistensi dirinya.

Itu yang menjadi alasan saya untuk mewawancarai Bin Laden, namun itu berlalu dengan proses yang tidak mudah. Aparat public-relation-nya ternyata sangat canggih dan punya jaringan yang kompleks, harus melalui agen dan penghubung. Pembicaraan pertama terjadi di sebuah hotel tua, Jefferson Hotel, di Washington. Dua produser ABC News, Chris Isham dan Len Tepper, membawa saya untuk menemui salah seorang yang dipercaya dan punya relasi baik dengan beberapa orang Muslim fundamentalis. Langsung saja orang ini berkata, “Kami harus terbang ke London dan menemui salah seorang pengikut Osama.” Bin Laden kelihatannya punya anggota dan simpatisan di seluruh dunia.

Dua pertemuan, keduanya di rumah bergaya Tudor, kira-kira setengah jam perjalanan dari pusat kota London. Kami katakan kepada mereka bahwa kami akan mengangkat isu-isu yang berhubungan dengan dia (Osama) dan “para simpatisannya” serta hal yang berhubungan dengan latar belakang hidupnya supaya orang dapat memahami banyak tentang dirinya, “Supaya orang tidak sekadar menghujatnya sebagai seorang teroris yang hanya bersembunyi di pegunungan.” Saya katakan kepada agen Osama, “Kami dapat merangkum isu-isu tentang Amerika dalam kemasan tertentu yang dapat membuat orang Amerika memahami argumentasi dia.” Orang itu hanya tersenyum. “Mungkin lebih baik dia tidak muncul untuk membuatnya lebih dipahami,” tegasnya kembali.

Dari kota London, kami bergerak menuju Islamabad dan menunggu instruksi-instruksi berikutnya di Hotel Marriot. Satu langkah telah kami lalui. Setelah satu hari berada di ibu kota Pakistan ini, datang seseorang yang mengaku bernama Akhtar. Kami hanya tahu bahwa dia bernama Akhtar. Akan tetapi, setelah beberapa minggu kemudian, rupanya dia menjadi orang yang paling penting dalam urusan paspor dan keselamatan hidup kami. Dia berperawakan tinggi, mungkin hampir dua meter, kurus dan langkah jalannya tidak terdengar, dengan tangan satu agak lebih kecil yang bergerak perlahan. Berlenggak-lenggok gaya orang sombong, bak gaya berjalannya anak hitam metropolitan. Dari mana dia belajar itu saya tidak pernah tahu. Akhtar ternyata berkebangsaan Afghanistan dan hampir tidak dapat berbicara bahasa Inggris sama s
ekali dan hanya sedikit bahasa Arab ini cukup bagi penterjemah warga Irak, yang kami panggil Ali, untuk dapat memahami instruksi pemandu ini.

Akhtar mengabarkan kepada Ali bahwa dia akan menginspeksi kamar dan perlengkapan kami. Kelihatannya dia bukan orang yang remeh, itu yang membuat saya terkadang geli. Satu pelajaran bagi orang yang datang dari New York, atau sebagai orang Amerika, atau sebagai manusia biasa terkadang ingin tertawa dalam kondisi yang tidak tepat, yaitu ketika hadir seorang prajurit teguh yang dituduh pemerintah Anda sebagai seorang teroris. Inspeksi yang dilaksanakan terhadap orang asing merupakan satu ide yang baik dan masuk akal. Paling tidak, sikap serius para prajurit ini menahan keinginan untuk bercanda, khususnya ketika tuan rumah tidak terlalu suka canda.

Pagi keesokan harinya, jendela kamar saya dikejutkan oleh sebuah gedoran. Akhtar bersama seseorang yang berperawakan tegap masuk ke dalam. “Mereka hanya ingin melihat Anda,” Ali menerangkan saat kedua orang tersebut mencermati saya yang berperawakan seperti seorang petinju. Mereka memperhatikan tas yang terbuka di atas tempat tidur. Akhtar dan temannya mengecek kamar mandi. Saya tidak tahu apa gerangan yang mereka cari. Mungkin mereka mengira kami sebagai agen CIA atau sebangsanya. Kedua orang tersebut meninggalkan kami, menuju kamar Ali untuk melanjutkan negosiasi. Pada malam itu Akhtar memanggil Ali ke hotel.

‘Ya, jadi!’ kata Ali seraya mengulangi instruksi Akhtar. “Bersiaplah pukul 7.00 malam, dan berpakaian seperti dia.”

Ali, kamerawan Rick Bennett, dan saya segera memesan taksi dan hotel menuju tempat perbelanjaan dan menemukan “Cash Department Store”. Di sana kami masing-masing membeli satu setel pakaian sesuai instruksi Akhtar, kira-kira AS $15. Rick terus berbelanja dan menemukan rompi, baju panjang sampai ke lutut, celana berbentuk baggy dengan tali yang terbuat dari katun sebagai pengikat. Kami ragu akan kepergian kami ke Afghanistan, namun ternyata kami tidak perlu meminta visa untuk masuk ke sana atau untuk kembali ke Pakistan. Akhtar hanya bilang bahwa orang-orang dia yang akan mengurus semuanya.

Pagi berikutnya, ada instruksi-instruksi kasar: “Cepat ke lapangan udara internasional Islamabad.” Sebelum pergi, saya sempat kirimkan duplikat lencana polisi dan kartu pengenal pensiunan yang saya masukkan ke dalam amplop FedEx beralamat Robert Tucker, pengacara saya di New York. Satu permintaan terakhir saya kepada orang-orang Bin Laden untuk menemukan lencana saya. Saya hanya bisa bersumpah sambil berupaya memperlihatkan surat keterangan polisi, “Saya bersumpah, saya hanya seorang juru tulis. Sungguh! Di bagian hubungan kemasyarakatan!” (Tucker kemudian memberi tahu saya di kemudian hari bahwa saat dia temukan lencana dan kartu identitas tanpa berita, dia kira bahwa saya sudah terbunuh. “Kemudian,” dia bilang, “saya sudah berangan-angan untuk memiliki mobil Anda.”)

Waktu itu, Akhtar juga berada di lapangan terbang. Dia hanya melihat kami dari kejauhan. Saya mengenakan celana baggy berwarna coklat muda dan baju yang kebesaran yang saya beli kemarin. Kelihatannya ini serbasama dengan jutaan manusia di wilayah ini. Yang berbeda dengan mereka, baik di lapangan terbang maupun di jalanan, hanyalah kaos kaki putih yang saya kenakan dan kacamata Armani serta cerutu Kuba yang saya bawa dari London. Kelihatannya saya tidak terlalu serasi. Rick dan Ali juga berpakaian sama dengan warna biru muda. Akhtar mengajak kami ke pintu gerbang masuk. Kami bepergian dengan penuh instruksi.

Sesampainya di atas pesawat, kami serahkan tiket. Kami menuju kota Peshawar, mutiara Pakistan.

Kabut sangat tebal sewaktu kami take-off. Kalau Anda bepergian ke kota Peshawar, asap mobil memenuhi udara dan terasa lengket di tenggorokan. Hampir di mana-mana tercium bau sesuatu yang terbakar –sampah, kayu, atau ban. Kami menginap di Grand Hotel, dengan dekorasi interior seperti paritai Miami tahun 1950-an yang terletak di gang jalan raya. Hotel dijaga oleh seorang berpakaian serba hijau dan baret merah serta menyandang senjata otomatis buatan Cina. Petugas hotel yang ramah mencantumkan nama-nama kami di dalam daftar koleksi warga negara –Amerika, Kanada, Irak, dan Pakistan– mereka cukup paham untuk tidak mempersoalkan tujuan kami datang ke kota Peshawar. Setelah masuk, Akhtar menghilang di kegelapan malam dengan membawa sebuah kantong plastik berisi barang-barangnya.

Saya keluar ke halaman lantai lima untuk menikmati suasana Romeo-Juliet Churchills. Hanya satu yang diperlukan oleh Peshawar: tambahan asap. Saya membayangkan kesedihan ini, betapa hiruk-pikuk kota ini saat berlangsung perang Afghanistan dan ketika ia diramaikan oleh para mujahidin. Saat yang sama ia juga menjadi basis organisator dan perekrut militan, para pejabat operasi CIA dan para agen KGB. Bahkan sekarang pun masih menjadi basis pergerakan militan Islam untuk daerah sekitar. Saya memandangi bulan yang muncul di antara tebalnya kepulan asap.

Pada pagi hari, Akhtar menelepon ke hotel dan kembali menyuruh kami untuk segera ke lapangan terbang Peshawar. Dan seperti biasanya kami harus menyerahkan tiket dan menunggu. Kami melangkah menuju kapal berbaling yang akan bepergian ke Bannu, wilayah utara Pakistan. Dalam setiap pemberhentian, lagi-lagi kami dibawa ke masa silam, setiap tempat terlihat dengan adat dan gaya hidupnya yang primitif. Di sini, keledai menarik gerobak, pria dan wanita memikul barang di pundak atau keranjang di atas kepala mereka. Di Bannu, kami menunggu di luar lapangan terbang kecil dengan mobil dan bus berlalu-lalang melintas. Setelah satu jam, sebuah mobil yang dipenuhi para penumpang lokal berhenti dan seorang tua kelihatan turun menyapa Akhtar. Kami semua berjejal di mobil tersebut yang sudah terlalu sesak. Kami diperintah untuk tidak berbicara. Penumpang lain sudah tahu bahwa kami adalah orang-orang Barat, tetapi mereka tidak perlu tahu bahwa di antara kami ada orang Amerika.

Mobil melaju lebih kurang dua jam. Semua penumpang lain turun; dua penumpang baru naik. Di kampung itu tidak ada yang lain kecuali rumah-rumah yang terbuat dari tanah liat dan beratapkan rerumputan, suara nyaring terdengar dari atas atap mobil. Seorang pemuda dengan bundelan kain yang diikat di potongan kayu melompat dari atap mobil, terus berlari menuju tenda. Hanya mobil yang kami tumpangi ini yang mengingatkan kami bahwa kami tidak hidup dua ribu tahun yang lalu.

Catatan tambahan: Bagi hampir semua orang Amerika, termasuk saya, mengalami sebuah kehidupan yang kuno ibarat mengalami hal yang terdapat di dalam Injil. Di dalam kitab suci terdapat berbagai cerita tentang dunia yang penuh dengan wabah penyakit yang mematikan dan menimbulkan banyak korban jiwa. Alam gubuk yang kumuh. Suatu kehidupan yang tidak mengenal kalah dalam bertempur. Dalam sejarah modern Amerika, kami sudah tidak punya keinginan lagi untuk pertaruhan yang pasti, yang dapat membuat sesuatu penuh dengan trik saat berhadapan dengan seseorang yang mengkhawatirkan sesuatu dan berani mengorbankan segala sesuatu. Di Bannu, kami merasa seperti sedang melintasi dunia tersebut, namun dengan naskah yang tidak terlalu kuno, meskipun para martir banyak berguguran.

Saat mobil kami tiba di suatu daerah, kami bergegas menuju mobil lain yang mengambil waktu satu jam untuk mengarah ke utara melalui pegunungan dan lembah-lembah yang kosong, lantas berhenti di daerah paling akhir sebelum memasuki wilayah ganas yang berbatasan dengan Afghanistan. Seorang tua memarkir mobil di halaman rumah kecil, dan gerbang besi ditutup, ini dilakukan demi menutupi keberadaan kami di desa ini. Orang tua tadi mengatakan bahwa di sini dahulu pernah menjadi tempat aman bagi para mujahidin yang ingin terjun ke dalam kancah peperangan Afghanistan. Dinding-dinding rumah penuh dihiasi dengan gambar-gambar tank baja dan granat. Sepasang AK-47 tergantung di atas paku dinding.

Sebagian besar wilayah Afghanistan sudah jatuh ke tangan Taliban, kelompok Muslim fundamentalis yang meyakini bahwa pesawat televisi itu tidak baik (pernyataan berbau sentimen ini mendapat popularitas di Barat) dan mengharamkan pengabadian makhluk hidup apa pun dalam bentuk foto atau video. Sehingga kami, tiga orang jurnalis Amerika yang merayap dengan perlengkapan kamera banyak mengalami hambatan yang cukup menyulitkan di pos pemeriksaan perbatasan. Akhtar memberi kami dua pilihan: (1) memakai kerudung panjang lebar dengan sedikit lobang mata untuk melihat, lalu menyeberang memasuki wilayah Afghanistan dengan menyamar sebagai wanita, atau (2) berjalan melintasi gunung-gunung yang terlindungi oleh kegelapan dengan harapan dapat menghindari patroli Taliban. Ali sudah memiliki firasat yang kuat dalam perkara ini. “Kami bukan wanita,” tegasnya. “Kami tidak akan memakai kerudung dan cadar. Kami akan berjalan sebagai pria.”

Setelah satu jam perjalanan, Ali sesak napas dan hampir tidak bisa melanjutkan perjalanan. Dia tidak memberi tahu bahwa dia punya penyakit asma. “Saya mau kembali ke mobil dan menjadi wanita sekarang,” ucap Ali sebelum dia memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan kembali. Saya dan Ali ketinggalan di belakang, sementara Rick dan dua orang penunjuk jalan kami terus berada di depan. Pada satu kesempatan, saya perhatikan pemandu kami yang sedang bergandeng tangan. “Ali,” saya berbisik sambil menunjuk ke arah mereka, “apakah Anda tidak perhatikan bahwa mereka kelompok teroris gay?” Dalam keadaan asma, dengan sabar dia memberi penjelasan bahwa di antara pria Muslim, berjalan dan bergandengan tangan adalah hal biasa. ini merupakan tanda persahabatan dan penghormatan, serta lambang kejantanan. “Oh, begitu,” ucap saya. “Saya cuma bercanda.” Waktu terus berlalu. Kami berjalan perlahan untuk menyelamatkan Ali yang terus diserang asma. “Ali, maukah kaupegang tanganku?” tanya saya. “Tidak,” jawabnya.

Suasana sudah mulai gelap ketika kami masuk ke wilayah Afghanistan. Sebuah mobil tengah menunggu dengan perlengkapan kami. Kami terus berjalan untuk beberapa jam lagi, kebanyakan melewati sungai yang kering, sebelum kami sampai di tempat pertama dan tiga tempat pelatihan militer milik Osama. Kemudian kami berhenti di jalanan yang kotor. Dua orang pengikut Osama merebut kamera kami dan pergi menghilang.

Kami tinggal di gubuk dan tidur di atas lantai yang hanya beralaskan selimut berwarna merah dan cokelat. Bantal bersandar di dinding. “Di sini bukan tawanan, tetapi tamu kami,” ujar salah satu pembantu Osama. “Kami menginginkan kalian tinggal di dalam. Dan kami tidak ingin mengumumkan kedatangan kalian.”

Beberapa pasukan Osama ditugasi untuk melindungi kami. Mereka tidur di gubuk sebelah kami. Kami membersihkan diri dengan menggunakan baskom dan air yang diambil dan keran di luar. WC-nya agak naik ke atas bukit. Kami menghabiskan waktu dengan membaca atau merokok dan bersenda gurau dengan para pengawal Osama, salah satu dan mereka dapat berbicara dalam bahasa Inggris dengan baik. Kami menikmati roti yang mengering dan daging, serta teh panas bersama mereka. Wawancara yang kami inginkan mungkin dapat molor berhari-hari, atau mungkin hanya beberapa hari, atau mungkin juga dibatalkan sama sekali. ini yang kadang-kadang terjadi. Berhari-hari menunggu dan tidak ada hasilnya. Itu juga pernah terjadi –pada Castro atau Mu’ammar Al-Qadzafi– namun di hotel yang cukup bagus. Dan inilah awal penakilukan.

Akhirnya, setelah saya tidak lagi menghiraukan waktu, kami ke jalan. Satu jam kemudian tiba-tiba terdengar suara tembakan.

Tembakan yang cepat, dan senjata otomatis. Saya dapat melihat semburan api dan moncong laras senjata. Suara itu datanguya dari tempat yang tinggi. Empat kali ledakan singkat serta lebih kurang tiga puluh kali tembakan dan salah satu sisi jalan dan jumlah yang sama di sisi yang lain. Pikiran saya jadi agak cemas. Dan beberapa kali dalam perjalanan tiga jam antara satu markas ke yang lain, orang-orang bersenjata melompat keluar dari kedua sisi jalan dan berteriak dalam bahasa Arab untuk memberhentikan mobil, dan meminta kami turun. Mereka ini merupakan bagian dari jaringan Al-Qaeda, yang diklaim sebagai pasukan Osama. Lalu siapakah yang menembaki kami? Dan mengapa? Haruskah kami mati? Saya telah berupaya untuk menundukkan kepala di antara kaki, tetapi karena kami bertiga, tidak ada lagi ruangan untuk menundukkan kepala. Perut saya kejang. Sekarang saya benar-benar berpikir ini brengsek.

Sekarang keadaan benar-benar tidak menguntungkan Mengapa saya harus mati untuk mewawancarai orang yang berpandangan radikal dan punya banyak uang … Demi Jesus, saya juga dapat melakukan itu di New York … Kemudian terlintas sesuatu di benak: suara tembakan tak terdengar lagi. Tembakan-tembakan itu tidak mengenai sasaran. Pemandu kami tidak merundukkan kepala. Jika kekhawatiran mereka telah menghilang, berarti keadaan sudah mulai aman. Pelan-pelan saya mulai mengangkat kepala.

Para penembak berteriak kepada kami untuk berhenti dan membuka pintu. Tembakan itu hanya sebagai tembakan peringatan. Di bawah cahaya lampu yang redup, saya dapat memandangi wajah-wajah mereka yang tampak masih muda, mungkin sekitar delapan atau sembilan belas tahunan. Sepertinya mereka tidak menerima pesan radio dan tempat pemeriksaan sebelumnya bahwa pemuda New York akan datang. Malam itu memang agak dingin, tapi anehnya saya malah mengelap keringat di dahi. Setelah sedikit ketegangan dan pembicaraan panjang, sopir mobil dapat menyelesaikan persoalan sehingga kami pun dapat melanjutkan perjalanan. Kami melewati satu lagi P05 pemeriksaan –tanpa kejadian apa pun– sebelum sampai di markas tempat Osama akan menjumpai kami.

Di markas ini terdengar gemuruh bunyi generator. Bau bensin kuat tercium di udara. Rick Bennett merasa berang karena orang Osama telah mengambil kameranya beberapa hari yang lalu, dan sepertinya tidak akan dikembalikan lagi. Sekarang mereka ingin memberikan kamera yang lain. Kamera kecil bermerek Panasonic. Bennett tidak mungkin datang dan jauh hanya untuk menyorot dengan kamera kecil itu. Dia meminta kembali kamera TV seharga AS $65.000, dan meminta untuk dikembalikan sekarang juga! Kemudian, rentetan tembakan kembali bergaung. Ternyata konvoi Osama bin Laden tiba. Sekarang tontonan yang diperlihatkan kepada kami sudah siap, namun kami tidak punya kamera. Orang Bin Laden memberikan kepada Bennett kamera Panasonic. Bennett mulai menyorot. Saat itulah anak kecil menembakkan senjatanya dekat telinga saya. Kemudian berlari mendekati Bennett dan menembakkan senjata kembali dekat telinga Bennett, saat dia perlahan mundur ke belakang untuk merekam kedatangan Osama.

Dalam lindungan tembakan-tembakan, Osama berjalan dengan cepat, dikelilingi oleh delapan pengawal. Masing-masing dengan AK-47. Mata mereka dengan tajam mengarah ke semua arah untuk mengantisipasi penyerang. Ini hanya untuk memperagakan sebuah drama –atau tanpa tujuan apa pun– karena dengan rentetan tembakan ke udara, itu tidak mungkin untuk membidik seorang pembunuh. Di sebelah Osama adalah komandan militer, Muhammad Atef. Di belakanguya, Ayman Al-Zawahiri, pimpinan Al-Jihad Al-Islami, kelompok Mesir yang tumbuh berkembang berkat sokongan militer Osama. Bin Laden, dengan serban putih dan jenggot hitam yang panjang, tinggi dan tertinggi di antara kelompoknya. Di tengah suasana yang tegang, pandangan matanya tampak tenang dan bersahaja, mantap dan tegap. Dia berjalan melewati saya dan menundukkan kep
alanya melangkah memasuki gubuk segi empat yang sengaja didirikan untuk menemui kami. Salah satu pembantunya menembakkan senjatanya, mungkin sebagai bagian dari penyambutan. Semua orang ikut memuntahkan pelurunya. Pada akhirnya, seluruh peluru kembali jatuh mencium bumi.

Osama bin Laden telah memasuki ruangan. Setelah pengawal keamanan yang ketat dan teliti berada di belakanguya, saya ikut masuk ke dalam gubuk. Di samping postur tubuhnya yang tinggi, satu hal yang membuat saya tercengang tentang Bin Laden adalah suaranya: benar-benar lembut dan agak sedikit tinggi, dengan sedikit serak seolah-olah menggambarkan seorang paman yang tengah memberikan nasihat. Bin Laden duduk di atas bangku yang dilapisi bantal merah di ruangan bersegiempat yang berdinding tanah liat dan bercat putih. Sambil duduk, dia meletakkan senjatanya ke dinding di belakangnya. Dua puluhan pembantunya dengan senjata lengkap berbaris duduk di sisi lain kamar yang panjang ini, bersenderan, siap untuk mendengarkan apa saja yang mungkin akan dibicarakan. Dan pakaian Osama terlihat bahwa dia termasuk dalam kelompok ini. Dia mengenakan jaket tentara berwarna hijau tanpa lencana. Sambil melepas jaket terlihat di dalamnya pakaian tradisional Muslim yang membuat dia tidak berbeda dengan saya.

Osama bin Laden berjabatan tangan dengan cukup mantap. Kami bersenda gurau dalam sopan santun, namun itu pun terasa kaku karena harus melalui penerjemah. Sejak kemarin para pembantunya telah berulang-ulang menegaskan saya untuk menyerahkan pertanyaan-pertanyaan tertulis yang mungkin akan diajukan. Ketika Osama sudah siap, salah satu dari mereka berkata kepada saya, “Saya punya berita bagus bagi Anda. Mr. Bin Laden akan menjawab semua pertanyaan.” Namun, dia menambahkan bahwa jawaban Bin Laden tidak akan diterjemahkan secara langsung. “Anda dapat membawa rekamannya ke New York dan menerjemahkannya di sana.”

“Kalau jawabannya tidak diterjemahkan sekarang, bagaimana mungkin saya dapat mengembangkan pertanyaan?” tanya saya kepada pembantunya.

“Oh, itu tidak akan menjadi persoalan,” jawabnya singkat. “Tidak ada pertanyaan follow-up.”

Pada kesempatan ini, Rick, dengan agak kasar –yang mungkin tidak akan dilakukan seseorang kepada teroris lain– meminta untuk dikembalikan kameranya. Tiba-tiba, semua perlengkapan muncul.

Untuk meredam ketegangan, saya katakan kepada penerjemah, “Katakan kepada Mr. Bin Laden: sebagai orang yang lahir dan keluarga kontraktor terkemuka dia mampu membangun jalan yang lebih baik menuju tempat ini.” Ya, saya akui itu tidak terlalu berkesan bercanda, tetapi penterjemah Bin Laden kelihatan kurang berkenan. “Tidak, tidak, tidak.” Saya katakan, “Tak usah diterjemahkan, tidak masalah kok!” Untuk menghindari teguran. “Okelah,” ucap saya, berusaha untuk menghindari musibah internasional. Tidak lucu. Maaf Jesus.

Saya terus merayu untuk dapat iizinkan mengalihbahasakan setiap pertanyaan, sementara ada lalat yang hinggap di wajah Osama dan serban putihnya. Rasanya ini telah menurunkan derajat seorang pemimpin. Pembantu Osama menyuruh temannya untuk keluar dan menyemprot lalat di luar.

Beberapa menit kemudian, dalam ruangan yang penuh dengan insektisida kami mulai wawancara.

Osama bin Muhammad bin Awad bin Laden lahir 41 tahun yang lalu di Arab Saudi. Dia merupakan salah satu dari dua puluh anak raja kontraktor kenamaan Muhammad bin Laden. Aset kerajaan kelompok Bin Laden ini ditaksir lebih kurang AS $5 milyar. Jalinan relasi dengan keluarga kerajaan Saudi yang terbina dengan baik membuat kelompok Bin Laden lebih mudah mendapatkan proyek besar pembangunan jalan raya kota dan padang pasir di Arab Saudi. Seharusnya suasana seperti ini membuat Osama dapat menikmati sekolah dan kehidupan di kota London serta memfokuskan diri kepada kemewahan hidup –kalau saja tidak ada intervensi sejarah.

Pada 25 Desember 1979, Uni Soviet menginvasi Afghanistan. Bin Laden yang ketika itu masih berumur 22 tahun tertarik untuk meninggalkan Saudi dan bergabung dalam jihad yang bergelora. Saat kedatangannya, dia tidak menyia-nyiakan waktu sedikit pun. Dengan kekayaannya, dia membiayai perekrutan, transportasi, dan mempersenjatai ribuan orang Palestina, Tunisia, Somalia, Mesir, Arab Saudi, dan Pakistan untuk berjihad melawan Uni Soviet.

Bahkan Bin Laden membawa buldozer-buldozer dan truk-truk pribadinya. Para mantan mujahidin yang sudah tua masih ingat bahwa pemuda itu sendiri yang menyopiri buldozer, menggali parit-parit di front terdepan. Orang-orang yang mengikuti Bin Laden dari awal telah mendengar kisah-kisah keteladanan beliau, dan menceritakannya kepada anak-anak yang lebih muda. Keterlibatan Bin Laden dalam jihad ini semata-mata hanyalah pertimbangan pribadi. Dia mengatakan bahwa senjata yang disandangnya sekarang ini direbut dari musuh di medan perang.

“Kami telah melewati berbagai peperangan sengit dengan Rusia,” ungkap Bin Laden kepada saya. “Rusia terkenal dengan kebrutalannya. Mereka menggunakan bermacam senjata kimia dan gas beracun melawan kami. Saya termasuk korbannya. Kami kehilangan banyak pejuang. Tapi kami dapat memukul mundur serangan komando Rusia yang tidak pernah terjadi sebelumnya.”

Saya bertanya kepada Bin Laden, mengapa orang sekaya dia, dan keturunan keluarga kuat dan kaya, harus pergi ke Afghanistan untuk hidup di dalam parit-parit dan memerangi penjajah Rusia di front terdepan.

“Ini sangat berat untuk dipahami oleh orang lain yang tidak atau belum memahami Islam secara benar,” ucap dia dengan sabar sambil menerangkan pemahaman keislamannya kepada warga negara yang dia bersumpah sebagai musuhnya. “Di hari-hari jihad, ribuan pemuda yang berlatar belakang keluarga kaya-raya secara sukarela meninggalkan Jazirah Arab dan daerah-daerah lain untuk bergabung dalam jihad. Ratusan mereka telah gugur di Afghanistan, Bosnia, dan Chechnya.”

Yang jelas, pada waktu kami bertemu, musuh sudah hengkang. Uni Soviet sudah tidak ada lagi. Musuh mereka adalah kami. Dan ketika saya tanyakan kepada Bin Laden perihal apakah dia khawatir kalau-kalau nanti tertangkap dalam operasi serangan Amerika. Dia langsung membantah kekhawatiran itu, bahkan sebaliknya mengungkapkan beberapa alasan kebencian dia kepada Amerika.

“Amerika memaksakan semua kehendaknya kepada orang lain. Amerika menuduh anak-anak kami di Palestina sebagai teroris –ketahuilah bahwa anak-anak itu tidak bersenjata dan bahkan tidak cukup umur. Pada waktu yang bersamaan, Amerika membela habis-habisan negara Israel yang mempunyai kebijaksanaan untuk merusak masa depan semua anak-anak tersebut.”

“Kami meyakini benar bahwa kami dapat menang melawan Amerika dan kaumYahudi sebagaimana dijanjikan oleh Rasulullah Saw. Hari kiamat tidak akan datang sampai Muslim memerangi Yahudi, saat mereka bersembunvi di belakang pohon-pohon dan bebatuan, dan pohon serta batu akan berbicara dan berkata, Wahai Muslim! Di belakang saya ada Yahudi. Kemarilah dan bunuh dia.”

Dengan mendengarkan jawaban-jawaban Bin Laden tanpa terjemahan, seseorang akan membayangkan bahwa dia sedang membicarakan sesuatu yang tidak begitu penting baginya karena saat bicara Bin Laden tidak pernah mengangkat tinggi suaranya dan tidak juga tersenyum. Dia melanjutkan pembicaraan dengan tetap menundukkan pandangannya ke arah tangan seakan-akan dia sedang membaca catatan yang tidak kelihatan. “Sikap Anda terhadap Muslim di Palestina benar-benar memalukan –karena tidak ada lagi rasa malu di Amerika. Rumah-rumah hancur berantakan, rata dengan bumi di depan anak-anak tersebut. Begitu juga halnya dengan sanksi yang diprakarsai Amerika atas Irak yang hanya menyebabkan jatuhnya korban satu juta anak-anak yang tak berdosa. Dan para tim penolong di Irak turut menjadi saksi bagi pembantaian di Irak. Semua ini dilakukan atas nama kepentingan Amerika. Kami yakin bahwa pencu
ri dan teroris terbesar di dunia sekarang adalah Amerika. Hanya ada satu cara bagi kami untuk membela din dan menghindari serangan, yaitu dengan menggunakan cara yang sama. Kami tidak mengkhawatirkan opini Amerika atau fakta bahwa mereka telah ‘menghargai’ kepala kami. Kami sebagai seorang Muslim meyakini bahwa takdir sudah ada yang mengatur.”

Teknik wawancara yang dilakukan Osama memang luar biasa. Di samping keuntungan untuk tidak di-follow-up-i secara langsung setiap jawaban, pendekatan Osama pada setiap pertanyaan persis seperti yang diajarkan oleh para penasihat public relations di Amerika: ungkapkan pesan Anda, baru kemudian jawab pertanyaannya kalau dihendaki.

Bin Laden percaya bahwa Amerika adalah negara yang banyak terlibat saat pejuangan di Afghanistan berlangsung. AS telah meremehkan pelajaran yang paling berharga dan mendalam dalam operasi ini, yaitu bahwa dengan kemauan yang kuat, negara adidaya pun dapat ditaklukkan.

“Ada pelajaran yang harus diingat bagi mereka yang mau belajar,” ucapnya. “Uni Soviet masuk ke Afghanistan pada minggu terakhir tahun 1979, dan dengan pertolongan Allah bendera mereka dapat dilipat beberapa tahun kemudian dan dilempar dalam kehinaan, setelah itu tidak ada lagi yang dinamakan Uni Soviet.”

Perang benar-benar telah mengubah Bin Laden. Dan Afghanistan memberikan pelajaran yang terbaik bahwa “Muslim tahu persis hakikat mitos adidaya,” ujarnya. Dia merupakan pelopor yang menggalang resistensi Islam terhadap Barat. Dia menjadi pahlawan bagi Muslim militan, mungkin lebih kurang dan tiga ribu orang menunggu untuk ambil bagian. Tetapi ikut dia ke mana, ke dalam peperangan? Banyak dan mereka sudah tidak pernah pulang ke kampung halaman mereka lagi. Oleh karena itu, perang sudah menjadi bagian hidupnya. Dan masih banyak gudang amunisi persenjataan otomatis, granat, serta peluncur roket vang dihibahkan oleh CIA untuk mujahidin.

Pada bulan Desember 1992, Bin Laden menemukan bahwa perang sudah lama menunggu. Amerika memprakarsai misi penyelamatan atas nama PBB di Somalia. Di tengah kelaparan, pemerintahan negeri itu benar-benar hancur, dan suku-suku yang berperang –sebagian besar Muslim– telah diputus dan segala macam bentuk bantuan kemanusiaan. Bangsa Somalia mati kelaparan di mana-mana, baik di kota maupun di desa. Dan Amerika, yang bergerak cepat dalam upaya penyelamatan negara Kuwait, telah dikritik habis-habisan karena tidak melakukan apa pun dalam penyelamatan bangsa ini.

Ketika pasukan marinir mendarat pada akhir 1992, Bin Laden telah mengirim pasukannya sendiri, yang hanya berbekal AK-47 dan peluncur granat. Dengan cepat, dengan menggunakan teknik yang teruji ketika melawan Rusia, mereka dapat menembak jatuh helikopter-helikopter Amerika. Gambar tentara Amerika yang diseret dalam keadaan telanjang dengan dikelilingi khalayak ramai cukup memancing amarah dunia. Misi penyelamatan Amerika yang mungkin akan berlangsung bertahun-tahun, tidak dapat bertahan lama. Misi yang berangkat dan panggilan kemanusiaan harus menemui ajalnya hanya dalam tiga minggu setelah beroperasi. Negara adidaya lainnya juga dipermalukan. Inilah kemenangan lain Osama bin Laden.

“Setelah meninggalkan Afghanistan, para mujahidin berangkat menuju Somalia dan bersiap-siap untuk peperangan yang panjang. Dalam pikiran mereka, Amerika sama seperti Rusia,” ujar Bin Laden. “Para pemuda merasa kaget, ternyata semangat juang tentara Amerika begitu rendah dan sekarang mereka menyadari bahwa tentara Amerika ibarat harimau yang terbuat dan kertas dan setelah dipukul, dan dalam kekalahan. Dan Amerika lupa dengan permainan dan semua propaganda media… tentang statusnya sebagai pemimpin dunia dan pemimpin Orde Dunia Baru. Setelah beberapa kali dipukul mereka lupa akan predikat itu dan pergi, dengan meninggalkan bangkai-bangkai dan kekalahan yang memalukan.”

Saya bertanya kepada Bin Laden, mengapa dia harus membunuh orang Amerika yang bertugas untuk memperbaiki keadaan dan mempermudah distribusi makanan.

“Mengapa kami harus percaya bahwa itu adalah alasan utama Amerika untuk datang ke sana?” dia menjawab. “Ke mana saja mereka pergi dan di situ ada Muslim hidup, semua yang diperbuat hanyalak membunuh anak-anak dan menjajah tanah Muslim.”

Dalam dua hari saya menunggu di markas untuk menemui Bin Laden. Ada di antara pejuangnya yang duduk di atas lantai gubuk kami dan bercerita tentang pengalaman perang. Satu tentara, tanpa rasa takut berkata bahwa dia pernah menggorok leher tiga tentara Amerika di Somalia.

Ketika saya tanyakan perihal kepada Bin Laden, dia menjawab, “Ketika peristiwa ini terjadi, saya sedang berada di Sudan, tetapi kemenangan ini benar-benar menggembirakan hati saya dan menggembirakan semua orang Muslim.”

Operasi di Somalia, dalam beberapa hal, adalah andil Bin Laden. Pada masa perang Afghanistan, CIA benar-benar sangat menaruh perhatian kepada dia (kendati agen ini tidak mengaku pernah menggerakkan dia). Di Somalia, Bin Laden tanpa menyia-nyiakan waktu berhasil memukul Amerika dengan pukulan telak mematikan. Lalu, pada perjuangan berikutnya, beberapa minggu kemudian, dia memulai dengan pukulan lain.

Tanggal 26 Februari 1993. Ketika itu turun salju di kota New York. Sebuah truk besar bermuatan bom berhasil meledakkan Pusat Perdagangan Dunia (World Trade Center) yang menghancurkan tiga tingkat gedung itu, mulai dan garasi, lantai bawah tanah hingga fondasi. Saat itu, saya masih bekerja sebagai reporter NBC. Ketika saya berjalan mengamati pemandangan, saya melihat seorang polisi yang saya ketahui berasal dan unit anti-teroris. Reportase awal ketika itu mengatakan bahwa itu terjadi karena ada ledakan dan gas atau transformer. “Sekarang mereka tidak mengatakan itu lagi,” dia mengingatkan, “Tetapi ini bom. Terlalu besar untuk dibawa oleh mobil kecil, mungkin dengan truk dari tingkat bawah di garasi. Di sana tidak ada sesuatu yang dapat meledak dan membuat lubang sebesar ini.”

Delapan orang meninggal, dan lebih dan seribu orang menderita luka-luka. Itu merupakan serangan terorisme internasional pertama yang dapat membidik mangsanya di tanah Amerika. Dalam hitungan mingguan, FBI telah berhasil menjaring empat orang pelaku pemboman, koleksi Muslim militan yang kebanyakan dan mereka pernah “sekolah” di Afghanistan dan menjadi pengikut tokoh buta di kota New Jersey, Syaikh Omar Abdel Rahman. Dan perancang peledakan ini adalah RamziYousef, yang berhasil lan dan terbang dan lapangan terbang Kennedy hanya beberapa jam setelah peledakan terjadi.

Di New York, FBI diberi dua mandat: temukan sisa pelaku peledakan, dan mencari tahu siapa di belakang mereka. Agen ini bekerja keras untuk melacak semua rekening Ramzi yang dipergunakan untuk membeli semua komponen perakitan bom besar itu. Uang itu dapat ditelusuri dan Bank Jersey City, yaitu Ramzi hanya menggunakan kartu ATM ke Detroit, London, Pakistan, dan terakhir Afghanistan. Agen FBI dan detektif New York yang terlibat dalam Pasukan Gabungan Antiteroris (Joint Terrorist Task Force) ramai berdebat: apakah pemboman itu dilakukan orang-orang Iran? Orang Irak? Libia? Akhirnya para detektif sampai pada sebuah konsensus bahwa Ramzi Yousef adalah seorang intel yang bekerja untuk kepentingan negara asing yang bermusuhan dengan Amerika. Akan tetapi, setelah itu, para investigator dapat menyingkap serial koneksi Ramzi dan kelompok yang dibiayai oleh seorang individu, Osama bin Laden. Namun, Bin Laden tetap menolak tuduhan bahwa dia berada di belakang peledakan itu dan dia menegaskan bahwa dia tidak pernah mengenal Ramzi Yousef. “Sayang,” ungkap Osama dengan mengangkat tangan, “saya tidak mengenal dia sebelum peristiwa itu.”

Kemudian, Ramzi Yousef muncul di Manila bersama Wali Khan Amin Syah, pahlawan perang Afghanistan yang dituduh punya hubungan dengan Osama. Mereka sibuk merencanakan peledakan lusinan maskapai penerbangan Amerik
a di atas Samudra Pasifik. Sekali lagi, Ramzi tidak punya pekejaan, tetapi kelihatannya punya banyak dana untuk membiayai operasi dan rencananya. Akhirnya, FBI dapat menangkap dia pada 7 Februari 1995 di Pakistan. Saat ditangkap, dia tinggal di guest house Su Casa di Islamabad. ini merupakan salah satu tempat yang dibangun oleh Bin Laden untuk menampung para pejuang.

Sumber-sumber pemerintah mengatakan bahwa Khan sekarang ini sudah bekerja sama dengan FBI. Para sumber mengklaim bahwa Khan sebelumnya sangat sibuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain untuk mewujudkan berbagai rencana Bin Laden. Dia mengatakan kepada agen bahwa dia pergi untuk mengirimkan mesin faks. demi mempermudah menerima kode instruksi Bin Laden dan pangkalaunya di Sudan dan Afghanistan.

Dia sedang berada di Manila saat itu untuk mendirikan markas pelatihan teroris setelah ada perintah untuk survei rute perjalanan Presiden Clinton dalam kunjungannya ke Filipina.

Musim dingin yang lalu, Khan, dengan mengenakan setelan baju berwarna oranye-terang, duduk di dalam kamar yang tertutup di Metropolitan Correctional Center di dekat Manhattan. Dengan tenang dia memberi penjelasan kepada agen bahwa racun mercury yang ditemukan di penginapannya di Manila bukan untuk membuat bom, melainkan untuk diletakkan di dalam peluru yang akan ditembakkan ke Presiden Clinton. “Dengan cara itu,” ujar Khan, “seandainya yang ditembak tidak mati, dia akan terkena racun.”

Ketika duduk di gubuk Bin Laden di pegunungan Afghanistan, saya bertanya kepadanya apakah dia pernah merencanakan untuk membunuh Bill Clinton. “Sebagaimana yang sudah saya katakan, setiap aksi mesti akan mendapat reaksi yang sama,” jelasnya. “Apa yang Clinton harap dari mereka yang telah kehilangan anak-anak dan ibu-ibu mereka?” Akan tetapi, dia dengan cepat mengelak supaya tidak terjebak dalam pertanyaan yang akan mempersulit dia. Realitas mengatakan bahwa dia tidak berada di Somalia, tetapi dia menyenangi apa yang dia lihat. Dia juga tidak meledakkan pangkalau Amerika di Arab Saudi, tetapi mereka yang melakukan dianggap syuhada olehnya. Dia tidak membiayai peledakan World Trade Center atau terlibat konspirasi upaya pembunuhan Bill Clinton, tetapi itu merupakan ide yang baik menurutnya.

Untuk masa yang akan datang, Bin Laden mengatakan kepada saya bahwa prioritas pertama adalah mengeluarkan tentara Amerika dan bumi Arab Saudi, tempat yang paling suci dalam Islam. “Setiap hari Amerika terus memperlambat kepergian mereka, mereka akan menyambut bangkai dan mayat baru,” ujarnya.

Pasukan Amerika telah mengalami pukulan yang dahsyat. Sembilan belas orang tentara terbunuh pada 1996 oleh ledakan bom di barak angkatan udara di kota Dhahran, dan lima orang tentara Amerika lainnya tergeletak tak bernyawa oleh ledakan bom di kota Riyadh pada 1995. Para investigator meyakini bahwa Bin Laden, dalam kadar tertentu, mesti terkait dengan kedua peledakan tersebut. Bin Laden mengatakan bahwa Amerika harus hengkang dari Arab Saudi, tanpa harus memandang sambutan kerajaan ini atas eksistensi Amerika. “Itu tidak akan berbeda kalau pemerintah menghendaki Anda tetap di sana atau pergi. Anda akan pergi pada saat para pemuda mengirimkan kepada Anda peti-peti mati. Dan Anda akan dapatkan di dalamnya mayat-mayat tentara dan sipil Amerika. Inilah situasi ketika Anda harus pergi.”

Warga sipil?

“Kami tidak membedakan antara mereka yang berseragam militer atau sipil. Mereka semua menjadi target di dalam fatwa ini.” Bin Laden menjelaskan bahwa sikap Amerika yang menentang serangan kami atas warga sipil jelas menunjukkan ambivalensi dan double standard.

“Sejarah Amerika tidak pernah membedakan mana sipil dan mana yang militer, wanita dan anak-anak. Mereka satu-satunya yang telah menjatuhkan bom atom atas Nagasaki dan Hiroshima. Dapatkah bom ini membedakan mana yang bayi, anak-anak, dan mana yang militer? Amerika tidak punya agama yang dapat mencegahnya dan pembumi hangusan manusia.”

Bin Laden yakin bahwa yang kami persepsikan sebagai tindakan terorisme dan kekerasan yang dilakukan sebenarnya itu mereka lakukan hanya untuk menarik “perhatian” Amerika. Tujuan Bin Laden adalah memberikan peringatan kepada Paman Sam, apakah mereka akan meneruskan dukungannya kepada Israel secara membabi buta tanpa mengindahkan nasib rakyat Palestina. Kalau memang sikap demikian terus dipertahankan AS, maka Washington tidak pelak lagi akan menuai tumpahan darah yang dijanjikan.

“Maka kami memberi pesan kepada Amerika sebagai manusia,” ungkap Bin Laden dengan nada lembut, “dan kami sampaikan kepada para ibu tentara-tentara dan rakyat sipil Amerika secara umum bahwa kalau memang mereka benar-benar menghargai nyawa mereka dan nyawa anak-anak, silahkan mencari pemerintah yang nasionalis yang dapat melindungi kepentingan mereka dan bukan untuk kepentingan bangsa Yahudi. Kalau memang tirani akan berlanjut, ini juga yang akan mengekalkan permusuhan kami kepada Amerika, sebagaimana yang dilakukan oleh Ramzi Yousef dan yang lainnya. Ini pesan saya kepada bangsa Amerika: untuk mencari pemerintah yang serius dan dapat melindungi kepentingan nasional serta tidak menyerang orang lain, tanah, atau kehormatan mereka. Dan pesan saya kepada jurnalis Amerika adalah jangan mempertanyakan mengapa kami lakukan ini semua, tetapi tanyakan apa yang dilakukan oleh pemerintahan mereka sehingga memaksa kami untuk mempertahankan diri.”

Ucapan terakhir dia di depan kamera adalah, “Ini tugas kami untuk membawa manusia kepada cahaya.”

Ketika wawancara usai, saya pergi mencari Ali yang disuruh untuk tinggal di belakang kamar wawancara. “Sebenarnya tadi cerita apa sih?” Saya berbisik kepadanya. “Ayo ceritakan kepada saya, mudah-mudahan satu jam itu bukan hanya berupa pujian pujian kepada Tuhan saja.”

“Tidak,” kata Ali. “Kami punya cerita bagus.” Saya kembali bertanya kepada Ali apa gerangan cerita tersebut. “Dia memandang ke kanan tepat di mukamu saat bercerita,” kata Ali, “dan dia katakan bahwa Anda –orang Amerika– akan pergi dan Timur Tengah ketika sudah dikemas rapi dalam peti-peti mati.”

“Dia katakan itu?” tanya saya, dengan nada terkejut. “Dan ketika dia katakan itu, apa gerangan yang saya lakukan?” tanya saya kembali kepada Ali.

Ali memandangku agak sedikit aneh dan berkata, “Kamu hanya mengangguk seakan setuju dengan semua rencananya.”

Dalam wawancara yang berjalan lebih kurang satu jam, Bin Laden tahu persis bahwa sesungguhnya saya benar-benar tidak paham walau satu kata pun dari yang dia ucapkan. Itu yang membuat dia harus melihat ke pengalih bahasa saat menyerahkan jawaban yang tertulis. Perlu diketahui bahwa berdasarkan konvensi wawancara di dalam TV Amerika, seseorang yang diwawancarai harus mengarahkan jawabannya ke kamera agar kelihatan bahwa kami benar-benar melaksanakan wawancara secara langsung. Saya tetap memandangi Bin Laden dan mengangguk sepanjang waktu untuk mengekspresikan pemandangan situasi wawancara agar kelihatan hidup dan memahami semua jawaban.

“Jadi, Anda katakan bahwa dia menjanjikan pembunuhan massal, dan saya hanya mengangguk seperti burung beo?”

“Ya,” kata Ali, tersenyum.

Akan tetapi, yang jelas kami punya sedikit cerita, dan beberapa minggu kemudian Osama bin Laden akan mengucapkan “Hai!” kepada Amerika dalam beberapa menit penayangan. Tidak banyak orang yang akan hirau dan dia tak ubah seperti teroris Arab lainnya.

Bin Laden sekali lagi dikelilingi pengawalnya, meninggalkan tempat melalui jalan yang lain. Ketika itu jam menunjukkan pukul dua dini hari dan tembakan-tembakan seperti biasanya dilakukan. Kali ini Rick dapat menyorot semua pemandangan. Akan tetapi, ketika kami sudah mengemas perlengkapan kami, lagi-lagi pembantu Bin Laden bidang pers dan kepala keamanan datang untuk
menginspeksi rekaman kami. Dengan memperhatikan semua rekaman dengan cermat sejak kedatangan Osama sampai kepergiannya, mereka memerintahkan untuk menghapus beberapa wajah yang tidak tertutup dengan kaffiyeh. Ketika saya berkeberatan, mereka bilang caranya sederhana saja, “Kalau kamu tidak mau menghapus wajah-wajah itu, kamu pergi tanpa membawa rekaman.” Malam semakin larut, mereka masih terus memutar balik rekaman yang ada. Setiap wajah yang tidak tertutup dihapus dan hanya dua wajah yang ditoleransi. “Dia sudah pergi,” kata salah seorang kepada temannya dan kami harus menghapus salah satu atau keduanya.

Menurut FBI, kelompok orang-orang Bin Laden yang sudah “pergi” ternyata menuju Kenya dan Tanzania di musim panas yang lalu. Pada tanggal 7 Agustus 1998, dua truk yang sarat dengan bom telah menghancurkan dua kedutaan besar Amerika di kedua ibu kota negara tersebut. Dua ratus tiga puluh orang meninggal di Kenya. Dua belas di antara mereka adalah warga negara Amerika. Di Tanzania, tidak ada satu pun dan dua belas yang meninggal berkebangsaan Amerika. Kebanyakan dan mereka adalah orang-orang Afrika. Dan di antara mereka juga ada yang Muslim.

Dua minggu setelah peristiwa pemboman terjadi, Presiden Clinton memerintahkan penyerangan tepat di tempat pertemuan kami dengan Osama bin Laden. Ketiga tempat markas milik Osama hancur berantakan dan banyak korban yang jatuh. Namun, Bin Laden, Al-Zawahiri, Atef dan kebanyakan tokoh pemimpin lainnya telah mengantisipasi serangan balasan Amerika dengan pergi dan markas ke tempat persembunyian lain.

Akhtar, yang menghilang di perbatasan Afghan saat kami sudah memasuki wilayah yang dilanda perang selama dua dekade ini, ternyata termasuk mereka yang turut memeriahkan kedatangan dan kepergian Bin Laden dengan menyandang pistol 9 mm di pundaknya. Saat kami pulang, dia tetap bertanggungjawab mengawal kami keluar dan Afghanistan dan mengantar kembali ke Islamabad.

Sementara itu, kedatangan orang-orang Bin Laden untuk bergabung dengan pejuang Albania menentang Serbia di Kosovo sudah didokumentasikan. Di mana saja umat Islam dalam pertikaian, sepertinya orang-orang Osama akan selalu ada di sana, membunuh musuh entah nyata atau hanya ilusi. Inilah mimpi buruk abad modern, sungguh penjahat yang punya jaringan luas, freelancer dengan sumber finansial bak sebuah negara yang tidak harus menyepakati semua obligasi yang berbahaya. Laksana Yayasan Ford (Ford Foundation) untuk pergerakan teroris-atau pejuang-pejuang kemerdekaan, tergantung kepada siapa Anda bertanya.

Setelah penyerangan Amerika dengan rudal cruise, sumber intelijen mengatakan kepada saya bahwa pembicaraan Bin Laden melalui telepon satelit dapat diintersepsi, saat dia mencoba berkomunikasi untuk mengalkulasi kerusakan dan berita jumlah korban yang jatuh akibat serangan. Sumber yang sama mengatakan bahwa Bin Laden telah memindahkan operasinya dari kota Khost ke Kandahar dan di sana dia mendirikan markas baru. Untuk mengurusi pertemuan lain, Chris Isham dan saya meminta Ali untuk kembali ke London.

Beberapa hari kemudian, orang-orang yang kami hubungi di London sudah tertangkap oleh pasukan Scotland Yard’s Anti-Terrorist Branch dengan tuduhan punya koneksi dengan kelompok teroris Osama. Salah satu dan mereka kemungkinan akan diekstradisi ke Amerika. Kami kirim satu permintaan lagi kepada Osama, kali ini kepada orang kami di Peshawar, bersamaan dengan daftar pertanyaan. Namun, kami tidak pernah mendapatkan jawabannya.

Setelah pemboman terjadi, rumah Bin Laden yang lama –rumah besar dengan dilengkapi menara– sudah menjadi tempat penginapan para pengikut dan simpatisannya. Mereka ini kelihatannya sukarelawan baru yang semakin hari semakin bertambah. Sebagian pergi berjihad di Kashmir, sebagian lagi berada di front terdepan melawan oposan Taliban, dan sebagian tentu akan pergi untuk menyampaikan “pesan-pesan” Bin Laden. Setelah gelap, konvoi sekitar dua puluhan mobil dengan jendela berwarna melaju di sekitar kota Kandahar dengan cepat. Tidak ada orang yang bertanya siapa itu gerangan. Osama bin Laden bergegas melewati kegelapan, sinar kian lenyap dalam gumpalan debu, “a most wanted man” itu pun menghilang dalam persembunyian.

Satu hari setelah penyerangan balasan Amerika, kolega kantor berita ABC di Pakistan menerima telepon dari Ayman Al-Zawahiri, yang menemani Osama saat pertemuan dengan kami malam itu. Al-Zawahiri berkata bahwa Bin Laden masih hidup dan dalam keadaan baik dan dia punya pesan bagi kami: “Perang baru saja dimulai. Orang Amerika harus menunggu balasan.”

Memburu OSama Bin LAden
Douglas Waller dan Peter Hawthorne

Pada 14 Oktober 1998, Jaksa Umum Janet Reno mengajak 200 polisi dan wilayah metropolitan Washington untuk datang ke markas FBI dalam rencana melakukan pelatihan penanggulangan kemungkinan serangan teroris di ibu kota negara. Pelatihan ini diberi sandi “Reaksi Kolektif”. Empat skenario yang direncanakan pada pagi hari Rabu itu: serangan bom-mobil, serangan senjata kimia di tengah pertandingan sepak bola di Redskins Washington, pemasangan bahan peledak di gedung federal, dan upaya pembunuhan Menteri Luar Negeri Madeleine Albright. Latihan perang ini –yang bertujuan untuk membantu semua agen agar bekerja sama– malah menimbulkan percekcokan dan saling tuding antar mereka.

Menurut pejabat negara, dapat dipahami kalau memang Reno meninggalkan tempat pelatihan gabungan tadi dalam keadaan resah dan tidak tenang. “Reaksi Kolektif” tidak menghasilkan apa-apa kecuali yang terjadi di lapangan. Di saat para polisi melakukan pelatihan gabungan –tanpa mengetahui siapa sebenarnya yang akan melancarkan serangan mematikan ini– yang ada di benak Reno dan para pejabat administrasi Clinton hanya ada satu nama: Osama bin Laden. Markas besarnya di Afghanistan telah diluluhlantakkan dengan serangan rudal dua bulan yang lalu (20 Agustus 1998). Jaringannya mungkin akan segera datang ke sini. Para sumber intelijen mengatakan kepada majalah Time bahwa mereka punya bukti kuat tentang kemungkinan rencana serangan Bin Laden yang paling berani –mungkin sekarang. Washington atau juga New York yang akan menjadi sasaran dalam pembalasan eyefor-an-eye. “Kami telah meratakan markas mereka, sekarang mereka akan pukul kami,” ucap pembantu Departemen Luar Negeri.

Ide dan ilham pelatihan gabungan ini merupakan bagian dan yang pernah diucapkan oleh Albright sebagai “peperangan masa depan” (the war of the future) –pertempuran yang para prajurit musuhnya adalah teroris yang sukar diantisipasi dan dilacak. Mereka ini yang sedang dicari oleh agen-agen intelijen. Dalam hal ini, musuh adalah seorang yang berumur 41 tahun dengan rekening bank sekitar 100-300 juta dolar Amerika, dengan jaringan global dan kebencian yang sangat kepada Amerika serta keinginan untuk mengusir kekuatan ini dan ibu pertiwinya, Arab Saudi. Bagian dan perang berdarah ini terjadi pada 7 Agustus 1998, ketika agen-agen Bin Laden dituduh meledakkan dua kedutaan besar Amerika di Kenya dan Tanzania, yang menewaskan sekitar 224 orang, 12 di antaranya warga negara AS.

Dua serangan tersebut merupakan serangan teror yang paling dahsyat bagi Amerika yang terjadi di luar negeri sejak serangan bom atas barak marinir di Beirut tahun 1983. Kendati Washington sudah melancarkan serangan balasan hanya dalam tempo 13 hari dengan serangan rudal atas basis Osama di Afghanistan –pejabat AS masih menyembunyikan luka-luka dendam. Serangan Osama di Afrika Timur terjadi saat AS sudah melakukan kampanye rahasia selama empat tahun untuk mengontrol dan menghabisi aktivitasnya –peperangan model ini cukup melelahkan AS yang terkadang menang dan terkadang kalah. Agen-agen AS sudah melacak, menangkap dan menginterogasi jaringan teror Bin Laden di berbagai negara. Sekarang ada dua penyelidikan pemerintah –yaitu inspektor umum CIA dan Badan Penyidik Akuntabilitas Deplu AS– untuk mencari jawaban pertanyaan
yang tidak mudah dijawab: mungkinkah serangan di Afrika Timur dapat dihindari?

Jaringan untuk meringkus Osama mulai agak serius kirakira dua tahun setelah peledakan WTC tahun 1993 terjadi –yang menewaskan 6 orang dan melukai lebih dan seribu orang. Pada malam bulan Februari 1995, sebuah helikopter berlalu lalang di atas Sungai Hudson ke kantor FBI di City Federal Plaza, New York. Di dalamnya, Ramzi Yousef (otak peledakan WTC yang baru tertangkap di Pakistan) duduk di samping kepala biro Lewis Schiliro dengan mata tertutup. Selama perjalanan menyeberangi Samudra Atlantik menuju AS, dengan nada bangga Ramzi mengatakan bahwa rencana dia sebenamya adalah menanam perangkat berhulu ledak yang besar di gedung kembar “110-story” yang mungkin akan menelan korban 250.000 orang baik di dalam maupun di luar gedung. Operasi ini gagal karena tidak dapat membeli dinamit yang cukup dan akhirnya memutuskan untuk meledakkan yang kecil saja.

Ketika helikopter mendekati WTC, anggota agen melepas penutup mata Ramzi. “Lihat!” ucap seseorang menunjuk ke arah gedung yang diledakkan Ramzi. “Gedung ini masih berdiri,” sambungnya. Ramzi hanya berkedip dengan penuh harapan, “Di masa yang akan datang … kalau saya punya uang lebih akan saya robohkan,” komentarnya. Mendengar kata-kata ini, Schiliro, penanggung jawab investigasi FBI atas pemboman di Afrika, merasa dingin di sekujur tubuhnya. Para koleganya telah menemukan bukti bahwa teroris sekarang telah mendapatkan suntikan dana cash untuk mewujudkan ancaman dan gertakan kepada Amerika. Kelihatannya Ramzi punya seorang dermawan, milyuner asal Saudi bernama Osama bin Laden, orang yang di tahun 1980-an telah berhasil menyalurkan pejuang gerilya untuk memerangi Soviet di Afghanistan. Orang ini juga telah meninggalkan negeri kelahirannya setelah dituduh memprovokasi gelombang oposisi fundamentalis untuk merongrong keluarga kerajaan.

Sampai di sini, FBI dan CIA menganggap Bin Laden sebagai “Gucci Terorist” dengan kantong tebal dan mulut besar. Pada mulanya, para pengikut Bin Laden terdiri dan veteran perang Afghanistan yang dapat dikatakan tidak terkoordinasi secara rapi di bawah payung yang disebut Al-Qaeda. Tapi Bin Laden terus mengembangkan organisasinya menjadi sebuah liga yang bergerak di berbagai negara. Akhirnya, pendukung dan simpatisan Al-Qaeda ini dituduh bertanggungjawab atas penyerangan terhadap pasukan AS di Somalia, Yaman, dan Arab Saudi. Tidak hanya itu, mereka juga tertuduh merencanakan penculikan personal militer AS di negara-negara Teluk, serta tuduhan kemungkinan memiliki rudal Stinger buatan AS warisan jihad Afghan. Selanjutnya, pejabat intelijen menyingkap bahwa sejak tahun 1993, Bin Laden sudah berburu senjata nuklir. Pasar pertama yang dibidik Osama adalah senjata berhulu ledak nuklir di pasaran gelap Rusia. Namun, rencana itu dibatalkan karena tidak ditemukannya pasar tersebut. Sebagai alternauf, para agen Bin Laden berkeliaran di berbagai negara pecahan Soviet untuk menemukan uranium yang sudah diperkaya dan komponen persenjataan yang dapat dirakit.

Untungnya, “Penanggungjawab pengadaan senjata ini bukan seorang ahli fisika sehingga dapat dikelabui penjual dengan mudah,” ucap pejabat Departemen Energi. Uranium yang ditawarkan ternyata berubah menjadi bahan bakar reaktor yang bermutu rendah yang tidak dipakai untuk persenjataan. Ada lagi yang ingin menjual kepada mereka sampah radioaktif yang dianggap sebagai “red mercury”, yang diperkirakan sebagai bom Rusia yang mematikan. Akan tetapi, menurut CIA, ini tidak pernah ada di dalam arsenal Rusia. Osama yang frustrasi, akhirnya beralih ke persenjataan kimia yang relatif lebih mudah diproduksi.

Walaupun intelijen AS belum berhasil membidik persembunyian pabriknya, mereka tetap mencurigai Sudan. Di sini Bin Laden sempat tinggal selama lima tahun sebelum hengkang ke Afghanistan pada 1996. Dengan bantuan para pejabat Sudan, Bin Laden berhasil menguji coba senjata urat saraf yang dapat dipasang di bom atau dengan tembakan artileri.

Pada akhir tahun 1995, Presiden Bill Clinton telah menandatangani perintah top-secret, yang disahkan oleh Komite Intelijen Kongres. Perintah ini telah menugaskan CIA untuk memulai suatu operasi penghancuran jaringan terorisme Bin Laden. Pusat agen kontra-terorisme –berkantor di ruangan kecil tanpa jendela dengan 200 pegawai di markas besar CIA Langley, Va.– telah membentuk pasukan khusus untuk membekuk Osama bin Laden. Para analis bertugas membaca setiap media dan kata yang ditulis atau dibaca orang Saudi. Perangkat komputer yang canggih dan lengkap dengan sistem dan program “jaringan analisis” sangat sibuk mencetak semua diagram jaringan kerja Osama. Di sini semua data ribuan pejuang Muslim dengan tingkatan-tingkatan aliansi yang berbeda dan hampir lusinan negara diidentifikasi. Pada awal 1996, sumber intelijen mengatakan kepada majalah Time bahwa CIA juga sudah memulai perencanaan “membekuk” Osama dari negara asing dan memboyongnya ke AS untuk disidang. Akan tetapi, Bin Laden selalu dapat menghindar dari negara-negara tersebut saat AS sudah siap untuk menangkap –termasuk Qatar dan Kuwait.

Karena kompleksnya upaya penjaringan Osama, CIA meluncurkan berbagai program rahasia untuk menjebol jaringannya. Dengan menggunakan informan plus komputer antiterorisme sentral yang dapat melacak semua paspor dunia, CIA dapat mengetahui semua jaringan Osama di seluruh dunia. Kalau sudah ketahuan, dengan mudah Amerika dapat mencantumkan jaringan ini kepada staf keamanan lokal untuk menangkap atau mendeportasi dan mengizinkan agen untuk melacak semua materi yang tertinggal di tempat tinggalnya. Dalam banyak kasus, CIA tidak tahu persis “apa yang dikerjakan oleh tiap-tiap orang,” ujar pejabat intelijen, “hanya dengan mengetahui bahwa dia bekerja sama dengan organisasi teror, kami akan bereskan dia.”

Satu operasi akan membongkar jaringan yang lebih luas. Sebagai contoh, seorang analis CIA menyelidiki satu berkas dengan coretan tidak dipahami yang ditemukan di dalam satu operasi penggerebekan, dan ternyata itu merupakan nomor telepon Osama di negara lain. Selanjutnya nomor ini akan menjadi target berikutnya dan akan membongkar bukti-bukti lain.

CIA juga punya “operasi penjaringan” serupa yang sedang dilakukan di Kenya satu tahun sebelum pemboman. Tempat agen yang berada di Nairobi merupakan pusat yang paling sibuk di Afrika, bertanggung jawab untuk mengawasi semua negara yang hancur karena perang, seperti Somalia, Sudan, Rwanda, dan Republik Demokratik Kongo. Di Kenya, CIA dan pejabat keamanan kedutaan yakin bahwa ancaman kepada Amerika merupakan tindakan kriminal biasa. Akan tetapi, risiko teror terselubung tidak sampai mencuat ke permukaan. Nairobi merupakan tempat transit agen-agen intelijen Iran dan Sudan. Di sini, sepanjang pantai bagian Samudra Hindia terdapat banyak veteran perang Afghanistan yang direkrut oleh Bin Laden sebagai agennya.

Pada bulan Agustus 1997, CIA telah berhasil melacak jaringan Osama di kota Nairobi. Para agen meyakini bahwa jaringan ini dikomandoi oleh Wadih el-Hage, seorang Lebanon yang berkewarganegaraan Amerika dan menurut dokumen peradilan dia pernah menjadi sekretaris pribadi Osama. Washington sudah mengirim permohonan rahasia kepada pemerintah Kenya di Nairobi untuk menangkap Wadih el-Hage. Dalam beberapa minggu, polisi Kenya yang terkadang ditemani agen FBI mulai mendatangi kediaman el-Hage di Nairobi, menggeledah kamarkamarnya dan merampas disket-disket komputer serta mengancamnya bahwa dia akan dihadapkan ke mahkamah kalau masih tetap berada di Kenya.

Penggerebekan tidak pernah menemukan daftar anggota jaringan secara jelas, tetapi setiap operasi dapat melacak beberapa anggota yang terlibat. Ada ketikan terbentang di layar monitor komputer el-Hage: “laporan keamanan” yang ditujukan kepada pembantu senior Osama dengan keluhan bahwa “jaringan dalam keadaan 100% bahaya” karena permusuhan agen-agen intelijen. Agen FBI meyakini bahwa yang membuat l
aporan adalah Abdullah Mohammed Fazul, orang yang dudentifikasi CIA sebagai kolega jauh el-Hage. Dia yang kemudian hari didakwa sebagai otak perencana pemboman kedutaan setahun kemudian. El-Hage akhirnya hijrah dengan keluarganya ke Texas, di sana dia hidup sebagai tukang ban hingga penangkapannya di musim gugur dengan tuduhan konspirasi pemboman di Afrika.

Pada saat yang sama, stasiun CIA mencium adanya indikasi bahaya setelah seseorang berjalan masuk ke dalam kedutaan di Nairobi pada September 1997. Orang yang tidak dikenal ini melaporkan perihal delapan orang Arab yang bekerja di LSM Islam lokal yang punya hubungan dengan kelompok Osama. Setelah dikonfirmasi, ternyata hubungan yang ada tidak secara langsung, maka pemerintah Kenya mengantisipasi dengan mendeportasi mereka ke negara mereka masing-masing, sedangkan pejabat CIA langsung menggeledah serta menyelidiki semua dokumen yang mereka tinggalkan.

Sekarang pejabat Deplu mempertanyakan, apakah CIA tidak melacak atau mengabaikan kemungkinan penyerangan di dokumen tersebut. Pejabat intelijen bersikeras mengatakan bahwa bukti-bukti itu tidak memberikan indikasi adanya kemungkinan pemboman. Yang jelas bagi mereka bahwa Osama punya jaringan di kota Nairobi dan CIA sudah melaporkan hal itu kepada kedutaan saat itu. Akan tetapi, agen tidak mengetahui apa rencana dan inisiatif yang harus dilakukan. Memang Bin Laden sudah membuat ancaman-ancaman secara publik kepada Amerika, tetapi CIA memperkirakan itu tidak akan terjadi di Afrika Timur karena pangkalau militer AS yang sangat dibenci tidak berada di sana, tetapi di negara-negara Teluk.

Dua bulan kemudian, November 1997, seorang informan lain datang ke kedutaan di Nairobi. Dia adalah Mustafa Mahmoud Said Ahmed, asli Mesir. Dia mengingatkan adanya rencana teroris untuk membom kedutaan dengan bom mobil dan mengungkapkan rencana serangan tersebut secara mendetail –persis seperti yang benar-benar terjadi sembilan bulan kemudian. (Dia kemudian ditangkap di Daressalam dengan tuduhan pemboman kedutaan AS di Tanzania.)

Dalam beberapa hari pejabat CIA terus menginterogasi Ahmed, tetapi akhirnya disimpulkan bahwa dia hanya membuatbuat. Kalau memang dia seorang informan yang dipercaya, agen tidak jarang langsung melakukan penyelidikan dan pelacakan, serta menugaskan tim samaran. Tim ini yang akan bersiaga penuh di kedutaan, dengan diperlengkapi perangkat pengindra malam dan petang hingga fajar serta mengintai dan jendela setiap gerak-gerik teroris yang mendekat gedung. Tidak ada tim samaran yang dikerahkan di Nairobi. Sebaliknya, stasiun keamanan di Kenya hanya mengirimkan laporan peringatan lain. Ahmed kemungkinan hanya mengarang-ngarang cerita, tetapi bisa jadi dia memang bercerita hal sebenarnya atau dia hanya mendekati kedutaan untuk mengecek sistem keamanan yang ada.

Itu reportase pejabat keamanan kedutaan yang sungguh tidak masuk akal. Peringatan sudah mengungkapkan segala sesuatu yang akan terjadi, tetapi tidak berbuat apa-apa. Walaupun demikian, keamanan tetap diberlakukan secara ekstra ketat di depan dan belakang gedung. Para pejabat keamanan yang terancam meyakinkan Dubes Prudence Bushnell untuk melayangkan surat kepada Albright mengingatkan bahwa kedutaan sangat terancam dengan bom mobil. Sayanguya, Nairobi belum termasuk dalam daftar negara yang menjadi prioritas dengan pertimbangan keamanan yang diperketat.

Setelah sembilan bulan kemudian, Afrika Timur lepas dari layar radar intelijen. Tidak ada lagi reportase ancaman teror yang dilayangkan CIA kepada kedutaan di Nairobi. Dalam keadaan seperti ini, mungkin saja ada indikasi bahwa sesuatu mungkin akan terjadi dengan mulus. Jaringan teror bergerak dengan tenang sebelum mereka benar-benar menyerang. Dalam perkiraan CIA, mereka sudah berhasil menggagalkan jaringan Osama. Akan tetapi, saat masa tenang, “tim-B masuk,” ucap pejabat intelijen AS. Mohammed Rashed Daoud Al-Owhali dan Mohammed Sadeek Odeh, yang mendapat latihan perangkat ledak di markas Osama, akhirnya bergabung dengan Fazul di Nairobi untuk mengoordinasi serangan.

Pada musim semi 1998, satu tim minor dan CIA-FBI yang diparkir di perbatasan Pakistan dan Afghanistan yang disebut dengan “zero line” mengoleksi dokumentasi intelijen atas diri Bin Laden. Sementara di Langley, CIA dan pejabat pasukan operasi khusus merancang rencana kontingensi untuk menerjunkan pasukan komando dalam berburu Osama di daratan Afghanistan. Namun Direktur CIA, George Tenet, menolak rencana ini karena khawatir akan terlalu banyak menelan korban pihak AS. Pada bulan Juni, agen kelihatannya berhasil. Dengan bekerja sama dengan kepolisian Albani, pejabat CIA dapat menangkap empat orang Osama yang berafiliasi dengan kelompok Al-Jihad Al-Islami Mesir, yang berencana membom kedutaan besar AS di Tirana.

Pada tanggal 7 Agustus 1998, matahari pagi belum sempat terbit ketika Langley digetarkan oleh ledakan bom dahsyat di Afrika Timur. Hanya dalam hitungan jam, pejabat CIA bidang kontraterorisme mulai sibuk memenuhi “fusion center”, ruangan kecil yang dipenuhi perangkat komputer untuk memonitor krisis teror di luar negeri dengan layar lebar yang menampilkan fotofoto satelit. Bakaran cerutu yang dibuang Tenet ke atas karpet saat meluapkan kegembiraannya setelah tertangkapnya Mir Amal Kasi (orang yang tertuduh membunuh dua pekerja agen ini di luar Langley) oleh pejabat CIA di Pakistan masih membekas. Korban yang jatuh di Afrika terlalu tinggi sehingga harus benarbenar menegangkan para pejabat CIA ini . Hampir dapat dipastikan langsung setelah itu bahwa pejabat CIA mengetahui siapa yang berada di belakang pemboman di Nairobi dan Daressalam. Tuduhan sudah tentu ke jaringan Osama bin Laden. Setelah peristiwa tragis ini, terbukti bahwa operasi pembersihan jaringan ini yang telah berjalan tahun lalu ternyata gagal menghancurkan sarang teroris.

Kesimpulan CIA semakin kuat setelah beberapa hari. FBI menangkap Odeh dan Al-Owhali dan menahan mereka di Nairobi. Di sini mereka mulai membongkar banyak rahasia. Operasi penjaringan Osama dan simpatisannya ternyata keropos, dan informan lainnya mulai membongkar bahwa Bin Laden ternyata punya rencana besar, menyerang kedntaan-kedutaan besar AS di Afrika, Asia, dan Timur Tengah.

Walaupun AS segera memperlihatkan ototnya dengan memuntahkan 80 rudal di atas markas Bin Laden yang ternyata berhasil membungkam jaringannya selama empat bulan, Washington tetap menganggap bahwa Bin Laden merupakan ancaman terbesar. Gedung Putih telah memerintahkan dilakukannya berbagai upaya untuk melumpuhkan semua jaringan teror Osama, tetapi sampai sekarang operasi-operasi tersebut belum berhasil secara memuaskan. Pejabat Departemen Keuangan belum berhasil melakukan terobosan untuk menutup keran finansial imperium Osama karena temyata kebanyakan investasi Bin Laden ditanam di berbagai perusahaan Eropa atau Afrika yang tidak dapat dijangkan oleh sanksi-sanksi ekonomi serta bukan dalam bentuk dolar AS (yang tidak memungkinkan Depkeu AS untuk melacaknya). Begitu juga dengan Deplu, belum juga berhasil meyakinkan penguasa Afghanistan, Taliban, untuk menangkap Bin Laden atau mendeportasinya sehingga FBI dapat mengajukannya ke pengadilan.

Pentagon juga masih berupaya keras untuk melancarkan serangan, dan CIA terus melanjutkan operasinya dalam penangkapan orang-orang Bin Laden. Baru-baru ini, kolega-koleganya telah berhasil diringkus di Inggris dan Jerman. Tiga bulan yang lalu, sumber intelijen mengungkapkan kepada Time bahwa CIA juga telah berhasil meringkus lingkaran Bin Laden yang telah merencanakan peledakan kedutaan AS di Baku, Azerbaijan. Setelah diidentifikasi, teroris Mesir ini berhasil dideportasi ke Kairo.

Washington tetap yakin bahwa Bin Laden akan melancarkan serangan balik. Dan kalau memang ternyata dia berhasil menumpahkan darah lagi, berarti semua operasi penangkapan dia selama ini benar-benar gagal mencegah serangan terbaru. Karena di dalam kalkulus terorisme, yang berh
asil memukul terakhir adalah pemenang sementara. “Permainan masih dimenangkan Osama sampai dia benar-benar pergi,” ucap pembantu Gedung Putih mengakui. “Itulah persoalan yang kami hadapi.” Kalau memang demikian, ini adalah peperangan –untuk sekarang ini– yang tak berakhir.

Pria Yang Sangat dibenci Amerika
Prof. Khalid Mahmud

Mengapa Osama kembali menjadi berita utama di berbagai media setelah lama tidak diperbincangkan? Persembunyiannya tidak diketahui, bahkan mungkin juga oleh FBI.

Dia sudah lama tidak muncul dan persembunyiannya atau memberi pernyataan publik yang punya konsekuensi politis. Dan sampai saat ini belum ada indikasi kuat yang mengatakan bahwa pengikutnya dalam keadaan siap siaga untuk melancarkan serangan baru. Bahkan orang yang masuk dalam target buruan AS ini semakin diblokir hampir di semua lini. Amerika senang untuk membenci dia, tapi dia tidak terlalu menghiraukan apa yang sedang direncanakan AS.

Six-Plus-Two di kota Tashkent diadakan, di antara persoalan-persoalan yang tercantum dalam kesepakatan dengan Taliban adalah keberadaan Osama di Afghanistan. Amerika sudah bertekad bulat menemukan dia hidup atau mati, dan masih ada kesempatan untuk melayangkan pesan ke Kabul.

Akan tetapi, Taliban adalah “makhluk” lain yang tidak terbiasa berkomunikasi dengan riak gelombang yang sama. Tidaklah aneh ketika konferensi itu gagal, kepala delegasi negosiasi Taliban mengatakan, “Terlalu aneh untuk mewujudkan perdamaian di Afghanistan jika harus ada Amerika.”

Desas-desus pendaratan pasukan komando AS di Pakistan santer terdengar, dengan rencana penyerangan masuk ke Afghanistan. Beberapa harian dalam bahasa Urdu mengatakan bahwa komando AS telah siap untuk dilepas dengan misi ini. Terlepas dan apakah isu ini berdasar atau tidak, yang jelas pemerintah Pakistan sudah terjebak dalam sikap yang salah. Menteri Dalam Negeri, Chaudhry Shujaat Hussain seharusnya mengeluarkan pernyataan bahwa Pakistan tidak akan memperkenankan teritorialnya dipergunakan untuk operasi apa pun terhadap Osama bin Laden.

Pada Agustus 1998, AS menembakkan rudal-rudal yang menghancurkan tempat berlatih dekat Durand Line, menewaskan 26 orang Akan tetapi, tembakan rudal-rudal pembalasan AS luput dari sasaran utama. Osama sedang tidak berada di tempat yang dituduh sebagai tempat markas operasional. Di antara mereka yang terbunuh adalah warga Pakistan, yang secara sukarela telah pergi untuk jihad.

Jelaslah bahwa target serangan AS adalah tempat berlatih mujahidin Kashmir. Kesalahan mengidentiflkasi sasaran tembak mengakibatkan AS harus mengakui kompleksitas operasi penjaringan Osama. Kelompok militan Islam terus menyuarakan rencana pembalasan atas serangan dan agresi membabi buta ini. Sentimen anti-AS kian meningkat di kalaugan rakyat Muslim. Di tengah pernyataan pemerintah yang mengatakan tidak mengetahui rencana serangan AS tersebut, banyak timbul kecurigaan di kalaugan rakyat akan “sandiwara” Islamabad.

Untuk memperlihatkan kecurigaan mereka atas sandiwara pemerintah Islamabad, rakyat bahkan tidak percaya kalau rudal-rudal tersebut benar-benar ditembakkan dari Samudra Hindia. Beberapa kritikan ditujukan kepada Islamabad tentang penerapan standar ganda, menuduh Islamabad mencoba “berlari dengan kelinci dan berburn dengan anjing buru.”

Kecurigaan ini bukan tanpa alasan. Hal ini diperkuat dengan kesepakatan Washington berkenaan dengan proyek perencanaan AS yang mengancam wilayah ini. Sikap pro-India AS dalam dispensasi regional bukan tanpa alasan dan banyak orang yang menentang, “Mengapa mereka terlalu meributkan 600 militan Kashmir yang menduduki dataran tiuggi Kargil?” Selama ini pertikaian di Cans Kontrol di Kashmir tidak begitu meresahkan Amerika. Banyak orang Pakistan yang enggan membeli “kengerian konfrontasi nuklir” sebagai niat untuk menarik simpati AS di Kargil. Menurut pengkritik, ini merupakan upaya membuka peluang menemukan legitimasi status quo di Kashmir sebagai sebuah penyelesaian akhir.

Kampanye India yang sudah lama berlangsung terhadap “terorisme perbatasan” di Kashmir dapat mencuri hati Amerika walaupun dulu Amerika sempat lama “menjalin cinta” dengan kelompok fundamentalis Islam yang berujung dengan peperangan militan di Afghanistan. Sejak berakhirnya kekuasaan Merah di Kabul, terlalu banyak “air” mengalir dari sungai di sana yang akhirnya menjadi bumerang, dan Amerika tidak perlu lagi mensponsori jihad untuk mengalahkan musuhnya.

Kini mujahidin menjadi kata tabu dan “setan” baru bagi Washington yang tidak perlu dikampanyekan untuk menarik simpati dunia, tidak terkecuali mujahidin di Kashmir. Amerika berinisiatif untuk “menjinakkan setan ini sebelum mekar menjadi bunga” yang ternyata cepat tumbuh menjadi sumber ancaman baru, bagi hal yang mereka sebut ke jalan hidup yang beradab (civilized way of life). Memang Amerika belum secara terang-terangan mendeklarasikan perang terbuka dengan mujahidin di Kashmir, walau sudah ada satu kelompok –Harkat-ul-Ansar– yang dinyatakan sebagai kelompok teroris. Namun, ada indikasi yang menunjukkan bahwa Amerika melihat kemungkinan bahaya yang timbul dan “internasionalisasi” perjuangan rakyat Kashmir.

Taliban belum mendapat dosis pukulan yang lebih menyakitkan, khususnya dalam kasus Osama. Di antara alasan yang dapat diberikan adalah bahwa AS tidak terlalu bersikeras menetralisasi rezim di Kabul yang diasumsi cocok untuk mengimbangi pengaruh Iran. Reportase sekitar tawaran negosiasi Taliban kepada AS dalam ekstradisi Osama merupakan suatu langkah mengejutkan. Namun tawaran ini menurut AS, jauh dari harapan karena persetujuan Osama harus menjadi prasyarat dalam negosiasi.

Dan semua pertimbangan, Taliban agak kecewa dengan sikap pemerintah Islamabad. Pemimpin tertinggi Taliban, Mulla Muhammad Omar, menyampaikan kekecewaannya melalui Maulana Fazlur Rahman (pimpinan jamaat Ulama Islam) tentang terhadap Kuwait pada 1990, merupakan provokasi bagi kekuatan agama. Laporan yang ditulis seorang mahasiswa Saudi di Harvard ke Deplu AS pada akhir 1998, mengatakan bahwa pemboman itu terjadi, pertama di Riyadh dan kedua di Dhahran, bukan berasal dan unsur luar. Akan tetapi, itu berasal dan mitra strategis AS, yaitu “sekte Wahabi arus-utama”.

Ada sedikit hal yang menarik, kini Osama bin Laden muncul menjadi seorang pahlawan sejati di Dunia Islam, terlebih lagi bagi rakyat Pakistan. Menurut reportase di News Week, rakyat benar-benar kagum dengan keberaniannya menentang AS. “Masyarakat di Dunia Islam sudah begitu muak dengan arogansi AS,” tulis harian berbahasa Prancis, Le Monde, pada September 1998. “Semua kekuatan Pentagon mungkin dapat dikerahkan untuk menaklukkan terorisme, tetapi itu tidak akan pernah dapat efektif membabat habis sampai ke akarnya selama keresahan dan kebencian Dunia Islam masih tumbuh dan ini yang terus memompa resistensi yang persisten,” seperti dikutip seorang penulis editorial Mesir.

Seseorang tidak harus menjadi seorang Muslim yang fanatik untuk mempertanyakan peranan yang dikembangkan AS dewasa ini. Bahkan mereka yang tidak mendapatkan alasan apa pun untuk bergabung dengan jihad yang dikumandangkan Osama, tidak ingin dituding sebagai antek penguasa yang turut mengekalkan orde dunia yang tidak adil, hanya karena mendukung kebijakan AS. Le Monde mengatakan bahwa AS telah menjebak dirinya di dalam “perang peradaban”, dan mendorong upaya-upaya untuk memperluas “perpecahan antara Dunia Islam dan Barat”.

Setengah bulan yang lalu, ABC News melaporkan bahwa Osama berada pada tahap akhir rencana serangan barunya atas AS. FBI tidak memberi konfirmasi tentang kebenaran isu itu, namun segala persiapan dan pengamanan instalasi AS diperketat dan disiapsiagakan, baik di Afrika maupun di Timur Tengah. Sebelumnya, dua pejabat tinggi AS, Madeleine Albright dan kemudian William Cohen, masing-masing me
mbatalkan kunjungan resminya ke Albania. Para pengamat menilai bahwa alarm sudah dipersiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan Osama. Dan ini mungkin akan menjadi justifikasi bagi mereka untuk mengulangi serangan ke Afghanistan.

AS yang kecanduan kekuasaan tidak memandang aksentuasi “konflik peradaban” sebagai kekeliruan. kalau memang benar mereka terus mengumbar kampanye vendetta, mungkin AS akan kehilangan kolega di Dunia Islam. Ironisnya, dilaporkan bahwa Mulla Omar mengatakan kepada Pangeran Saudi dalam kunjungannya ke Afghanistan, ‘Allah telah menganugerahkan segala sesuatu dalam jumlah yang tidak terhitung, mengapa Anda mesti mengemis kepada AS?’

Taliban Setuju Osama Diadili
Amir Mateen

Taliban hampir saja menyepakati keputusan penyidangan Osama di peradilan Islam di Arab Saudi tahun lalu. Kesepakatan itu dicapai oleh Kepala Intelijen Saudi, Pangeran Turki Al-Faisal, yang kemudian datang bersama delegasi kecil ke markas besar Taliban di Kandahar pada juni 1998.

Dalam satu wawancara yang langka dengan The New York Times, Pangeran Turki membeberkan bahwa pakta rahasia yang sudah disepakati itu ternyata hancur berantakan karena peristiwa pemboman di Kenya dan Tanzania dan terkubur bersama serangan pembalasan AS ke markas Bin Laden, dua minggu kemudian. Sebelum peristiwa ini, diramalkan kesepakatan bakal dapat menyelesaikan isu Bin Laden dan tidak akan sekompleks sekarang. Kerenggangan hubungan Saudi dan pemerintah Taliban yang pernah menjadi “saudara kandung”-nya, semakin memperparah isolasi rezim Kandahar dan menambah komplikasi upaya internasional dalam upaya penjeratan Osama bin Laden. Kedutaan-kedutaan besar AS tetap dalam siaga penuh untuk mengantisipasi segala kemungkinan serangan teroris.

Laporan itu mengatakan bahwa tidak jelas apakah deportasi Osama ke pemerintah Saudi dapat menghindari pemboman 7 Agustus 1998 yang menewaskan 224 orang itu. Tetapi AS dan Saudi tetap yakin bahwa Bin Laden lah yang menjadi arsitek semua konspirasi dan dia punya hubungan dengan para pelakunya beberapa saat sebelum bom meledak. Walaupun demikian, pejabat AS mengatakan bahwa mereka tidak terlibat dalam negosiasi dan mengaku tidak pernah tahu tentang pembicaraan rahasia Saudi-Taliban ini kecuali di awal tahun 1998.

Harian ini mengutip pernyataan Pangeran bahwa yang dikehendaki Saudi hanyalah agar Osama diusir dari Afghanistan atau ditangkap dan ditahan di Saudi untuk dimahkamahkan dengan tuduhan merongrong pemerintahan yang sah.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar tiga jam, Pangeran Turki mengatakan bahwa pimpinan tertinggi Mulla Muhammad Omar dan Badan Penasihat telah sepakat untuk melarang persembunyian Osama di tanah Afghanistan sejak 1996. Tetapi penyerahan Osama hendaknya dikoordinasi serapi mungkin agar tidak “merefleksi implikasi buruk bagi Taliban” dan tidak dianggap “pengkhianat sahabat”, menurut Turki.

Laporan ini mengatakan, kesepakatan itu dicapai setelah adanya jaminan dari pihak Saudi bahwa Osama akan disidang hanya di dalam persidangan yang Islami –persyaratan ini akan menghindari kemungkinan ekstradisi Osama untuk menghadapi prosekusi AS.

Mengutip pejabat tinggi administrasi Clinton yang bertanggungjawab atas penjaringan Osama bahwa tidak akan terjadi konflik antara AS dan Saudi dalam persoalan ekstradisi Osama:
“Kami dapat memahami ini… Yang penting bagi kami bahwa Bin Laden berhasil dimahkamahkan, di mana pun itu.”

Persyaratan kesepakatan akhir ini telah dicapai antara Taliban dan delegasi Saudi. Menurut Turki, pada saat yang sama pemerintahannya yakin bahwa pemboman itu memang disengaja untuk merusak kesepakatan. Negosiasi ini harus berakhir di tengah tuduh-menuduh yang membingungkan sebagai implikasi peledakan di Kenya dan Tanzania.

Menurut autoritas Barat, ledakan dahsyat itu jelas berhubungan langsung dengan Bin Laden, dengan efek samping yang nyata bahwa dukungan Taliban semakin bertambah. Karena itu, pembalasan rudal-rudal AS yang menghujani Khost hanya akan semakin menguatkan dukungan dan perlindungan mereka kepada Bin Laden.

“Meskipun proposal Saudi kepada Taliban masih ada, hanya ada sedikit tanda-tanda perbaikan di antara mantan kawan. Bulan lalu, juru bicara resmi Taliban mengatakan kepada harian berbahasa Arab, Al-Azarq Al-Azisat, bahwa Bin Laden tidak akan pernah dipaksa keluar Afghanistan karena hal itu bertentangan dengan keinginan pribadinya. Juru bicara mengesampingkan kemungkinan akan adanya kesepakatan dengan Saudi atau AS.”

Kaum Mujahidin mengatakan kepada The Times, “Taliban masih memberikan solusi penyerahan persoalan kepada komite intelektual Muslim dan Arab Saudi dan negara lain di wilayah ini yang dapat berdiri sebagai penengah.”

“Kalau mereka menyetujui itu, dia akan ditangkap, dan kami harus menjalankan kesepakatan ini; kalau mereka (para intelektual) mengatakan bahwa dia harus disidang di Arab Saudi, kami bersedia untuk menyerahkannya ke Saudi.”

Laporan itu juga mengatakan, pada bulan Juni 1998, delegasi Saudi dengan pakaian jubah putih dalam misi rahasianya datang ke markas Taliban yang disambut dengan hormat dan bersahabat di Kandahar. Turki mengatakan bahwa dia dan delegasinya, sebenarnya disambut dengan pelukan Mulla Omar yang hangat, pemimpin tertinggi Taliban yang hilang satu matanya saat jihad melawan Soviet. Mereka duduk bersama lusinan anggota badan syariat pemerintahan Taliban.

Agendanya hanya terbatas pada satu persoalan: Osama bin Laden. Saudi bersikeras untuk mengadili Bin Laden karena sikap durhakanya. Seorang mantan pengusaha ternama yang dicopot kewarganegaraannya pada 1994, telah menyerukan penggulingan kekuasaan keluarga Saudi di Jazirah Arab karena rezim ini telah bersekongkol dengan AS dan menerapkan kebijaksanaan yang pro-AS dan anti-Islam.

Belum jelas apakah sikap seperti itu dianggap undang-undang Saudi sebagai sikap subversif, yang dikenakan ancaman hukum mati –ditambah dengan pembunuhan massal dan konspirasi permusuhan dengan AS. Kepala intelijen Saudi itu hanya mengatakan bahwa hal itulah yang menyebabkan Osama telah melakukan tindakan kriminal yang tak terampuni.

Dalam kunjungan tersebut, Turki mengatakan bahwa pemimpin Taliban menganggap Osama sebagai “beban yang tidak disukai.” Keberadaan Osama dipandang sebagian orang hanya sebagai batu sandungan bagi masuknya investasi asing ke Afghanistan. Jelas dia juga telah menjadi beban berat yang merusak hubungan baik Kabul dan Riyadh, salah satu dan tiga sahabat Taliban.

“Sikap kami jelas, kalau mereka menghendaki hubungan baik dengan Riyadh, mereka harus mau menyerahkan Osama,” ucap Turki dalam wawancara tersebut.

“Osama mengklaim bahwa pemerintah Riyadh tidak sah. Dia mengklaim bahwa kami merongrong Islam. Ini semua menjadi landasan tuduhan kriminalitas dia,” kata Turki, sambil mengingat negosiasi yang “sangat ramah” dengan Mulla Omar, lantas Mulla menyepakati dan menjanjikan ekstradisi Osama bin Laden.

“Hal itu telah lama didiskusikan dan diulang berkali-kali di dalam pertemuan tersebut,” ucap Turki. Dia menambahkan bahwa pokok persoalannya didiskusikan di dalam pertemuan susulan antar-aparat kedua belah pihak untuk mengoordinasi mekanisme politis yang sensitif dalam penyerahan Osama.

Pertemuan-pertemuan itu berlanjut dalam rentang waktu dua bulan. Pihak Saudi merasa frustrasi dengan keterlambatan proses kelanjutannya tanpa mengetahui bahwa kesepatan itu harus diakhiri dengan komplikasi yang tidak berujung setelah peledakan terjadi. Secara tiba-tiba, menurut pihak Saudi, pihak Kabul menolak dan menampik adanya kesepakatan antara Riyadh dan Kabul. Lantas mereka mengecam pengalih bahasa yang salah memahami esensi pertemuan. Pihak Saudi merasa dipermalukan dan diserang.
“Mereka mengingkari,” ujar Turki. “Mereka berjanji mengeluarkan Osama dan Afghanistan, kemudian mereka mungkiri janji mereka.”

Taliban yang merepresentasikan Mujahid menganggap perselisihan itu sangat disayangkan dan menandaskan bahwa pemerintah Taliban “tidak bermaksud memusuhi kerajaan Arab Saudi.”

Dia mengatakan bahwa Taliban tetap mengucapkan tenma kasih yang tak terhingga kepada kerajaan Saudi atas semua dukungannya selama ini, secara khusus dalam jihad melawan Soviet dahulu.

Akan tetapi, loyalitas Taliban kepada Bin Laden sangat kuat. Dia sendiri secara pribadi telah mendanai dan membantu melatih serta merekrut pejuang Arab dalam peperangan mengusir pendudukan kekuatan Soviet. Mungkin perlu dicatat, bagaimanapun juga, menurut Turki, Bin Laden menjalin hubungan pribadi yang kuat dengan Omar.

Turki mencatat bahwa laporan yang dipublikasikan di Timur Tengah dan Eropa mengatakan bahwa Bin Laden sendiri membangun rumah bagi Mulla Omar. Dia juga menegaskan bahwa sumber intelijen yang belum dikonfirmasikan mengatakan bahwa salah satu dari lima anak perempuan Bin Laden dikawinkan dengan Mulla Omar dan menjadi istri terakhirnya. ini yang menjadikan Osama punya posisi kuat, sebagai mertua pimpinan Taliban.

Pemerintah Riyadh jelas berang dengan sikap Kabul. Pemboman telah mengubah peta kompromi kalkulus dengan cara meredam kritik internal Bin Laden. Pada 20 Agustus 1998, hanya dalam jarak dua minggu, AS melancarkan serangan balik ke markas Osama yang dituduh menjadi sarangnya.

Pada saat itu, harapan untuk memperbarui kesepakatan dengan Taliban sudah pupus. Pada pertengahan September 1998, setelah pertemuan Saudi dengan Taliban, Riyadh memanggil pulang wakil di Kabul dan sebaliknya Kabul juga memulangkan diplomat dan stafnya untuk meninggalkan Riyadh.

Sejak itu, AS terus mengintensifkan tekanan kepada dua negara lain, seperti Saudi yang mengakui pemerintahan Taliban. Bulan sebelumnya, administrasi Washington mengutus pejabat resmi delegasi untuk menekan penguasa Emirat Arab dan segala macam hubungan dengan Bin Laden.

The New York Times melaporkan bahwa Bin Laden mempergunakan jasa perbankan di Dubai untuk menghindari pembekuan aset internasionalnya. AS juga mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan penguasa Islamabad. “Pakistan dapat berbuat lebih banyak,” ujar seorang pejabat senior administrasi.

Koneksi Bin Laden
Imtiaz Alam

Pada 12 Oktober 1999, administrasi Jenderal Musharraf mendapat peringatan pertama ketika enam roket ditembakkan dengan sasaran kantor-kantor PBB dan AS di Islamabad. Jadwal penembakan roket tersebut mengandung intrik karena hal itu terjadi hanya dua hari sebelum diberlakukannya sanksi DK-PBB kepada Taliban untuk memaksa mereka menyerahkan Osama bin Laden.

Siapa pun yang bertanggung jawab atas tindakan nekat ini –kalau memang bukan dilakukan oleh orang yang pro-Taliban atau pro-Bin Laden– peledakan itu telah memberi implikasi yang besar kepada Islamabad untuk merevisi sikapnya. Karena ledakan im dapat membuat koneksi dan mengnbah hubungan internasional Islamabad terpuruk dalam bahaya jika terus mempertahankan kapasitasnya dan tetap mendukung Taliban yang akan mengancam eksistensi, koneksi dan reputasinya, administrasi militer yang masih berjuang agar dapat diakui secara internasional ini tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti konsensus internasional melawan rezim ekstremis Kabul atau terpuruk dan hancur bersama Taliban.

Sanksi ekonomi DK-PBB, disahkan berdasarkan Bab 7 PBB terhadap Taliban atas penolakan mereka untuk mendeportasi Osama bin Laden, merupakan awal dan sederetan upaya penghukuman dan koalisi internasional dalam penanggulangan ancaman terorisme internasional. Rusia, negara-negara Asia Selatan, Cina, Masyarakat Eropa, India, Iran, dan juga beberapa negara Muslim di Timur Tengah yang merupakan wilayah yang langsung terancam serangan terorisme ini, telah sepakat untuk bekerja sama memerangi hal yang mereka identifikasi sebagai ancaman yang paling berbahaya pada periode pasca Perang Dingin

Secara kolektif mereka memandang Taliban dan tamu kontroversial mereka, Osama bin Laden, secara langsung atau tidak langsung merupakan pelaku utama yang terlibat di dalam “terorisme Islam” di kawasan ini dan dunia pada umumnya. Terutama AS yang berobsesi mati-matian untuk membawa salah satu dan “sepuluh teroris yang paling dunginkan”, Bin Laden. Karena ini, AS tidak segan-segan menghujani persembunyiannya di Khost, Afghanistan, dengan rudal Tomahawk tempat berbagai kelompok ekstrem yang bergabung dengan Bin Laden berlatih. Selain Khost, Khartoum di Sudan juga mendapat “jatah” dan AS. Pabrik yang diduga menjadi tempat produksi bahan pembuatan senjata kimia dituding memiliki hubungan dengan kelompok militan Islam. AS tanpa meminta mandat dan PBB, langsung melancarkan serangan-serangan membunuh, hanya dua minggu setelah pembumihangusan dua kedutaan AS di Kenya dan Tanzania.

Walaupun ternyata serangan rudal-rudal tersebut gagal mengenai sasaran, tindakan ini merefleksikan solusi adidaya satu-satunya untuk tidak membiarkan pembunuh warga negaranya bebas hidup lepas dan kekuatan keadilan imperial. Di samping serangan ini telah memalukan arsitek paradigma strategis Pakistan, pemboman di Khost telah mengekspos relasi antar berbagai kelompok militan Wahabi dan Bin Laden, termasuk Sipha-i Sahaba (kelompok ekstremis di Pakistan) dan salah satu kelompok besar yang menggalakkan jihad di Kashmir.

Pada sisi lain, serangan membabi buta AS ini ternyata telah menguntungkan Osama dan aliansinya secara politis karena serangan itu telah memicu amarah Muslim di berbagai belahan dunia untuk menentang kesewenangan “imperialisme AS”. “Petualangan” Bin Laden, yang pernah menjadi sekutu AS saat berkecamuk perang melawan tentara Merah dan bahkan yang menurut Kolonel Al-Qadzafi sebagai agen CIA, secara ironis, hanya dalam satu malam, telah menjadi simbol resistensi Muslim sedunia. Ironi ini terletak pada kemungkinan semaraknya resistensi Muslim untuk mengikuti jejak yang sudah diprakarsai Osama. Dan bisa jadi ini akan membuat Muslim menjadi nekat untuk melakukan penghancuran-diri secara massal yang dibelokkan para ekatremis ke jalan yang salah

Serangan ini juga memperagakan perkembangan persenjataan AS yang punya sasaran hebat, khususnya kekuatan udara dan pengintaian dari luar angkasa sehingga dapat membidik dan mengeliminasi siapa saja tanpa harus mendaratkan pasukan. Dan ini juga yang dibuktikan AS atas Yugoslavia saat krisis Kosovo berkecamuk. Dalam hal sanksi kepada Taliban, DK-PBB memperlihatkan kekompakan yang mencengangkan dan tidak tejadi seperti saat NATO berinisiatif untuk intervensi di Kosovo.

Di bawah pergerakan para pelajar Wahabi yang didukung oleh Islamabad sebagai perluasan diri yang disebut dengan “kedalam strategis”, Afghanistan menjadi sarang pergerakan ekstremisme agama internasional yang mentargetkan semua orang kafir tanpa memandang implikasi geostrategis. Moskow telah menuduh Pakistan dan Taliban melatih pemberontak Chechnya dan begitu juga dengan mereka yang meramaikan peperangan Wahabi di Dagestan.

Di dalam peperangan melawan pemerintahan Karimov di Uzbekistan, ratusan pasukan gerilya masuk ke Kyrgystan dan Afghanistan, menundukkan beberapa kantong pertahanan dan menyandera 4 warga Jepang. Cina yang benar-benar terganggu dengan infiltrasi militan di wilayah Xinjiang, bergabung dalam koalisi Federasi Negara-Negara Merdeka yang terancam ekstremisme Islam yang punya relasi dengan Afghanistan. Konferensi Bishkek telah menyediakan sebuah platform internasional terhadap terorisme.

Kegagalan delegasi khusus Sekjen PBB untuk meredakan perselisihan di Afghanistan dengan tawaran pemerintahan multietnis dan meyakinkan Taliban untuk menyerahkan Osama, telah membuat
komunitas internasional frustrasi. Dengan sikap yang pertengahan dan barbarik, Taliban berhasil menciptakan opini publik internasional yang bertentangan secara diametral dan pendekatan yang ekslusif telah mengucilkan semua kekuatan yang bercita-cita membangun Afghanistan ini .

Malah sebaliknya, mereka memprovokasi semua negara tetangga untuk bergandeng tangan membentuk kekuatan untuk mendukung resistensi Aliansi Utara pimpinan Ahmad Shah Masood. Aliansi total Islamabad kepada Taliban, telah mengisolasi Pakistan dan sekutu-sekutu dekat Pakistan, seperti Iran dan Cina, dan memaksa negara-negara Asia Selatan dan Iran untuk berpaling kepada India, di samping terus mendukung oposisi Taliban.

Pada saat yang sama, saat episode krisis Kargil, India mendapat kesempatan emas untuk membangun neksus antar kelompok jihad yang bertempur di Kashmir dan terorisme internasional yang beraliansi dengan Taliban dan Laden. Kenyataannya adalah Pakistan harus membayar mahal pertualangannya yang keliru di Afghanistan dan telah mendorong India untuk menarik simpati sekutu-sekutu tradisional Pakistan. Islamabad sendiri harus terisolasi.

India telah berhasil menghubungkan jihad Kashmir dengan terorisme Islam yang terbukti mematikan dukungan komunitas internasional untuk posisi Pakistan. Namun, Islamabad kelihatannya terus mempertahankan kebijakan Afghanistan dan Taliban tanpa memedulikan risiko berat yang harus diderita, baik secara domestik ataupun internasional. Pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan mengindikasi hal itu.

Selain persoalan terorisme, Afghanistan dikenal sebagai penghasil opium terbesar di dunia dan diperkirakan akan semakin meningkatkan produksinya setelah sanksi diberlakukan. Perhatian Barat terhadap penyebaran narkotika sudah diketahui umum. Ini, ditambah dengan permusuhan mereka kepada Taliban, akan menyebabkan kebijakan Islamabad menghadapi pertemuan-pertemuan yang memalukan di forum-forum dunia. Sebagaimana yang terjadi karena dunia terus memperluas ruang lingkup sanksi-sanksinya kepada Taliban, Pakistan akan menanggung berbagai risiko, jika ia terus konsisten menyuplai berbagai kebutuhan kepada Taliban.

Perdagangan transit Afghanistan harus dikaji ulang dan perundangan anti-narkotika harus di-upgrade melalui Durand Line. Karena hampir semua lini pengisolasian Taliban diperketat, Pakistan sekali lagi akan dibanjiri pengungsi Afghanistan dan ini akan terus memperparah erosi keseimbangan demografik, tidak saja terjadi di wilayah perbatasan dan Baluchistan (keduanya merupakan provinsi Pakistan), tetapi juga di pusat-pusat kota Karachi dan Rawalpindi.

Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban tidak saja menjadi tempat penyemaian ekatremisme dan berbagai kelompok jihad, tetapi juga menempatkan Pakistan di bawah tekanan yang keras. Dengan kondisi ekonomi yang labil, masyarakat madani yang termarginalkan dan relasi etno-sektarian membuat Pakistan menjadi lebih rentan di bawah beban Talibanisasi kedua negara.

Apakah itu ancaman terorisme, ekstremisme sektarian, budaya Kalashnikov, obat bius, atau ketegangan etno-sektarian, tengah menyelimuti segenap kawasan Pakistan. Taliban sebenarnya telah menjebol keseimbangan demografis masyarakat Pakistan yang multi-etnis, multisekte dan multipolar. Milisi-milisi Islam dan partai-partai Wahabi arus-utama punya hubungan yang kuat dengan Taliban dan Bin Laden, dan dapat berbuat apa saja kalau AS melancarkan serangan-serangan lain.

Barangkali mengingat pertimbangan ini semua, Jenderal Musharraf telah menyampaikan keinginan pemerintahnya untuk berperan sebagai mediator antara AS dan Taliban –kesempatan yang mungkin sudah tidak tepat lagi. Dia juga memperlihatkan kecenderungan dan keinginan yang tegang, dalam suatu wawancara dengan CNN, untuk menemukan solusi mengenai isu Bin Laden. Pakistan dapatkan harus dengan minatnya sendiri membujuk Taliban untuk dapat keluar dan aliansi buta dengan Bin Laden dan mengekstradisinya ke negara ketiga.

Kendati demikian, para arsitek kebijakan Pakistan dengan Afghanistan akan tetap dalam keadaan dilematis: menjaga reputasi Pakistan di depan mata Taliban dan simpatisan Osama dan saat yang sama tidak melukai perasaan dunia internasional. Dilema akan menjadi lebih sulit, apalagi di masa yang akan datang, kalau seandainya Islamabad tidak merombak secara drastis kebijakan atas Afghanistan dan menekan terus Taliban untuk tunduk kepada konsensus dunia.

Taliban menantang Sanksi PBB
Pamela Constable

Di tengah koridor kekuasaan yang dingin, pejabat tinggi Taliban berkerumun di sekitar pemanas ruangan dan sebagaimana biasanya, sikap mereka terhadap Osama tetap konsisten. Osama, sang jutawan asal Saudi yang tetap tinggal di Afghanistan, mendorong AS memprakarsai sanksi ekonomi PBB atas negara yang morat-marit akibat perang berkepanjangan ini.

“AS menginginkan kami menangkap Osama dan mengirimnya kepada mereka sebagai hadiah,” ucap Wakil Ahmad Muttawakil, Menlu Taliban yang baru. “Kami siap berunding mengenai semua persoalan. Kami sudah tawarkan untuk mengadilinya di sini atau di negara-negara Muslim lain. Tapi mana mungkin kami dapat menghadiahkan manusia sebagai oleh-oleh, apalagi bila tindakan kriminal dia belum terbukti?”

Muttawakil mengatakan dalam wawancaranya pada Sabtu, 27 November 1999, bahwa sanksi PBB tidak terlalu banyak berpengaruh dalam jangka panjang –yang telah melarang terbang semua maskapai penerbangan Ariana, milik perusahaan swasta dan pembekuan aset luar negeri Taliban yang berlangsung sejak 14 November 1999. Dia mengatakan bahwa Allah Swt. akan melindungi rakyat Afghanistan dan semua kesengsaraan yang dipaksakan oleh tangan-tangan asing.

“Setiap beberapa tahun, AS mencari seseorang yang baru untuk dibenci. Sebelumnya Libia dan Irak, sekarang ini giliran Afghanistan,” ujar Menteri Luar Negeri Taliban ini, “Tapi kalau mereka berusaha untuk mencelakakan kami, mereka tidak akan memperoleh apa-apa. Allah Swt. senantiasa menerima doa mereka yang tak berdosa dan membela mereka yang dizalimi.”

Akan tetapi, kondisi di tengah jalanan yang membeku di sekitar ibu kota –tempat keluarga-keluarga menggigil kedinginan di tengah antrean mendapatkan roti atau berhari-hari mengumpulkan kayu untuk menghangatkan ruangan melawan udara dingin yang menghantam– membuat sambutan orang-orang Afghanistan secara tradisional kepada Osama, seorang tamu yang disanjung, akan menipis.

“Memang tradisi kami untuk bersikap ramah kepada tamu, tetapi kami juga menghendaki Osama cepat pergi dari sini karena rakyat yang tak berdosa harus menderita,” ucap Mohammad Taj, 45 tahun, seorang pekerja yang sedang antre untuk membeli roti. “Orang-orang yang berkuasa akan mementingkan diri sendiri dan sanksi-sanksi yang ada hanya akan menyengsarakan rakyat miskin. AS harus lebih berbelas kasih, tetapi para Mulla juga harus dapat menyelesaikan persoalan ini dengan PBB.”

Banyak orang Afghanistan yang mengecam AS dan sekutunya karena telah menjatuhkan sanksi ekonomi yang memberatkan mereka. Seminggu sebelumnya, gedung yang ditempati para pegawai PBB di enam kota Afghanistan habis dilempari batu atau dibakar oleh amukan massa. Kendati demikian, PBB tetap menyediakan bagi mereka bagian terbesar dan makanan dan bantuan medis.

“Kini, kami adalah negara lemah dan AS mencoba membiarkan kami dalam kondisi yang sama,” ujar Abdul Razaq, 30 tahun, petugas jaga malam. “Inilah saatnya mereka harus menolong kami, tetapi malah sebaliknya, mereka melakukan tindakan-tindakan yang kejam terhadap kami hanya karena satu orang.”

Osama –yang karena sikap anti– AS-nya menjadi figur terpandang di Dunia Islam diyakini para pejabat di Washington telah merencanakan dan mendanai pemboman dua kedutaan AS di Afrika Timur pada Agustus 1998. Pada bulan yang sama, AS
meluncurkan serangan rudal Tomahawk ke sasaran yang diduga sebagai tempat persembunyian Osama.

Sejak saat itu, pejabat Taliban telah menawarkan prosekusi atau memonitor aktivitas Osama, tetapi mereka menolak semua permintaan AS untuk mengekstradisi dan mengadilinya di AS. Sebagai balasannya, Washington menggagalkan semua perjanjian dagang dan investasi dengan Afghanistan, dan pada Oktober 1999, DK-PBB mengancam untuk memberlakukan sanksi lebih jauh kalau rezim Kabul tidak mau tunduk. Karena seruan DK-PBB benar-benar diabaikan, sanksi itu akhirnya diberlakukan pada 14 November 1999.

Walaupun sanksi tidak melarang import makanan, bantuan medis, atau perdagangan antara Afghanistan dan para mitranya dan negara-negara Muslim, ia datang justru di saat rakyat menghadapi kesulitan baru yang berlipat ganda. Kekeringan pada musim gugur yang lalu menyebabkan rakyat miskin tidak dapat memanen gandum yang baik. Pemerintah Pakistan yang baru telah melarang perdagangan ilegal. Dan dengan ibu kota (Kabul) yang sebagian besar tanpa pemanas, tentu keganasan musim dingin acapkali mengancam setiap saat.

Selanjutnya, sanksi ekonomi yang baru semakin memperparah kondisi rakyat yang kesulitan menerima uang kontan dan sanak famili mereka di luar negeri. Padahal, uang ini adalah sumber masukan terbesar sebuah negara yang kebanyakan penduduknya menganggur karena tidak adanya lapangan kerja. Bayangkan, dokter saja hanya berpenghasilan kurang dan 5 dolar per bulan. Sejak semua penerbangan ke Afghanistan dilarang, orang harus pergi atau terbang ke Pakistan untuk mengambil poswesel.

Sebagian penduduk di Kabul menuduh AS hipokrit dalam upaya penjaringan Osama bin Laden –figur penting yang banyak berperan dalam mendanai perlawanan Afghanistan terhadap pendudukan tentara Soviet selama 1980-an. AS dulu amat mendukung perlawanan itu, tetapi sejak milisi Taliban menaklukkan Kabul pada 1996 dan memperkuat implementasi syariat, Washington langsung berpaling menentang rezim. Sekarang, setiap upaya penangkapan Osama semakin memperuncing hubungan kedua negara.

“Bagi Amerika, saat perang suci melawan Soviet, Osama bagaikan malaikat; tetapi sekarang mereka menyebut dia adalah mata-mata dan teroris,” kata Mohammad Mirwaiz, mahasiswa Universitas Kabul. “Banyak orang yang telah melakukan kekejaman semasa perang di sini diizinkan hidup di AS. Mengapa kami tidak dapat meminta mereka menyerahkannya kepada kami?”

Menlu Muttawakil menegaskan bahwa AS, “Dikenal sebagai polisi dunia, tetapi sekarang polisi itu tengah membunuh rakyat kami dengan rudal dan kelaparan …. Saya tidak tahu apakah Osama itu seorang pahlawan atau bukan, tetapi sekarang AS telah membuatnya menjadi seorang pahlawan besar.”

Taliban Izinkan Osama Bicara
Rahimullah Yusufzai

Osama bin Laden kembali bicara dan tidak ada perubahan sedikit pun dalam pandangannya tentang AS dan Israel. Nadanya masih terasa keras dan dia menginginkan seluruh Muslim di dunia untuk bersama-sama menghadapi AS yang menjadi musuh utama Islam. Seseorang tidak dapat mengharapkan reaksi lembut dari seorang yang sudah dinobatkan sebagai “Musuh Publik Nomor Wahid” oleh Amerika dan diburu dengan berbagai cara oleh “polisi dunia” dewasa ini.

Ini merupakan kesempatan pertama dia berbicara di depan publik sejak 26 Mei 1998, ketika bertemu dengan 14 jurnalis Pakistan di markas Khost, yang semula dipandu oleh kelompok militan Islam Harkat-ul-Ansar yang bermarkas di Pakistan. Dalam jumpa pers kali ini, Osama –ditemani oleh tangan kanannya Syaikh Taseer Abdullah dan Dr. Ayman Al-Zawahiri, pimpinan Al-Jihad Al-Islami Mesir– mengumumkan fatwa yang dirumuskan olehnya dan beberapa ulama untuk berjihad melawan AS dan Israel.

Konferensi pers dan ancaman-ancaman Bin Laden kepada aliansi Salibis-Zionis, istilah yang kerap digunakannya untuk AS, Israel, dan Barat, cukup mengagetkan Taliban. Pimpinan tertinggi Taliban, Mulla Muhammad Omar, agak tersinggung dan berupaya mengambil langkah untuk mencegah Bin Laden agar tidak terlalu sering melancarkan serangan verbal kepada AS. Kelihatannya Bin Laden menerima permintaan pelindungnya dan berdiam untuk sementara. Tetapi serangan rudal di provinsi Khost pada 20 Agustus 1998 telah mengubah situasi dan Bin Laden serta letnan-letnan Arab lainnya merasa bahwa mereka harus bereaksi. Kalau tidak dengan serangan yang sama, paling tidak secara verbal.

Pada 21 Agustus, melalui Dr. Al-Zawahiri yang lancar berbahasa Inggris, Bin Laden menyampaikan pesan kepada penulis bahwa dia dan koleganya selamat dari serangan yang mematikan itu serta menegaskan bahwa serangan tersebut tidak dapat membungkam dan menghalangi kebulatan tekad mereka untuk terus melancarkan jihad melawan AS dan Israel. “Sampaikan kepada mereka bahwa perang baru saja dimulai. AS harus menunggu jawaban,” ucap Zawahiri menggertak.

Satu hari sebelum peristiwa pemboman di Khost, ada gelagat bahwa serangan pembalasan AS sudah dekat. Pemerintah AS memutuskan untuk menarik diplomat mereka dari Pakistan, dari komunitas Barat, baik yang bekerja di badan-badan PBB ataupun LSM juga mulai meninggalkan Afghanistan. Saat itu, Bin Laden sempat menyampaikan pesan kepada penulis tentang kemungkinan serangan. Secara insidental, pesan itu datang hanya berselang setengah jam sebelum penghujanan rudal-rudal di markas Bin Laden dan dia mengingkari keterlibatannya di dalam kasus pemboman di Kenya dan Tanzania. Permusuhannya kepada AS tidak sedikit pun berubah, bahkan dia terus menyeru kepada seluruh Muslim untuk melawan setiap kekuatan yang memusuhi mereka.

Ketika ancaman-ancaman Bin Laden kembali menghiasi berbagai media dunia, Taliban menganggap Osama sudah mengingkari janji untuk tidak mengeluarkan fatwa kepada publik atau mempergunakan wilayah Afghanistan demi kepentingan politis. Mulla Omar cukup berang dan pada akhirnya harus membuat pernyataan bahwa tidak mungkin ada dua kekuasaan yang bisa hidup bersama di Afghanistan, yaitu Taliban dan Bin Laden. Ekspresi geram Mulla Omar memang efektif untuk kembali membungkam Osama sehingga tidak ada yang dapat didengar dari dia kecuali seminggu sebelumnya ketika Taliban memutuskan untuk membiarkan Bin Laden kembali muncul.

Bin Laden pada dasarnya enggan menerima perintah Taliban untuk diam, tetapi karena secara faktual Osama tidak punya pilihan tempat berlindung di negara lain, dia terpaksa mentaatinya. Walaupun demikian, dia tetap meminta kepada Taliban untuk mengizinkannya berbicara karena kebungkaman dapat berdampak negatif terhadap reputasi dan karismanya. Permintaan ini secara khusus ditujukan kepada pemimpin senior Taliban dan wakil Menlu, Mulla Abdul Jalil, orang yang memang ditugasi untuk berunding dengan Bin Laden dan simpatisannya, agar dia diizinkan berbicara kepada insan pers internasional.

Menurut Bin Laden, pemimpin Taliban tiga kali mengizinkan dia untuk dapat diwawancarai penulis setelah terjadi serangan dahsyat ke markasnya di Khost. Akan tetapi, setiap kali ada kesempatan, digagalkan karena dikhawatirkan akan semakin memperburuk relasi Taliban dengan AS, Saudi, dan negara-negara lainnya. Menurut pembantu dekat Bin Laden, sangat berisiko berat untuk menghubungi para jurnalis dengan saluran satelit karena dapat dilacak oleh AS. Karena itu, kelihatannya perangkat ini sudah tidak dipergunakan lagi.

Kegigihan Osama ternyata ada hasilnya. Perkembangan tertentu membuat Taliban mengubah sikapnya dan membolehkan Osama untuk kembali berinteraksi dengan insan pers. Satu di antara perkembangan itu, yaitu spekulasi di berbagai media bahwa Osama sakit karena serangan penyakit kanker dan hampir mati. Taliban akhirnya mengharuskan Osama untuk tampil kembali di depan para reporter dan disorot televisi untuk membantah semua spekulasi. Tampaknya, para puritan Taliban, yang alergi dengan televisi dan gambar hidup, dapat berkompromi dengan peratur
an kalau memang itu untuk kepentingan yang bermanfaat.

Bin Laden tidak menyia-nyiakan kesempatan kali ini dan dengan susah payah menerangkan bahwa dirinya tidak sakit dan setiap hari masih aktif menunggang kuda di gurun pasir Afghanistan. Dr. Al-Zawahiri mengatakan bahwa Osama yang berumur 43 tahun ini memang terserang sakit tenggorokan dan itu sebabnya dia harus banyak minum air saat wawancara. Dia juga menambahkan bahwa saat bulan Ramadhan, Osama tidak dapat diwawancarai pada siang hari dan tidak dapat berbicara banyak karena penyakit ini. Mereka mungkin benar, tetapi seseorang mesti punya pertimbangan lain yang menyangkut masalah keamanannya. Ini yang mengharuskan dia untuk diwawancara saat malam hari di tenda yang ditancapkan di tengah buasnya alam Afghanistan.

Kehatian-hatian mereka terlihat dari yang dilakukan oleh para pembantunya yang menghapus sorotan video yang penulis ambil saat dia berjalan dengan bantuan tongkat, serta sorotan yang terarah kepada anggota pengawal yang bersenjata lengkap saat duduk berkerumun di tenda. Sebagaimana mereka ungkapkan bahwa mereka tidak mengenal kompromi dalam hal keamanan. Menurut mereka, Osama menggunakan tongkat karena sekarang Osama sedang sakit pinggang. Tujuh bulan yang lalu, saat memberikan konferensi pers di Khost, dia juga menderita penyakit yang sama.

Kolega Bin Laden dan pimpinan Taliban mengatakan bahwa keputusan untuk membolehkan Bin Laden berbicara karena pertimbangan bahwa cara ini dapat mengklarifikasi bahwa dirinya dan organisasinya, Al-Qaeda, tidak terlibat dalam pemboman di Kenya dan Tanzania atau dalam berbagai aksi terorisme lainnya. “Apa pun dan segala sesuatu yang terjadi di dunia sekarang ini dituduhkan kepada Osama. Mungkin Osama dan koleganya akan tetap dianggap bersalah kalau hanya tinggal diam menghadapi semua tuduhan tersebut,” ucap Dr. Al-Zawahiri. Petinggi Taliban lainnya, Mulla Jalil, mengakui dan mengatakan, bagaimana mungkin seorang yang sudah meninggalkan tempat kediamannya dan rela untuk tinggal di pegunungan dan gurun pasir yang tandus, dapat menjadi ancaman bagi AS dan mensponsori pemboman di negeri yang jauh di sana.

Penyerangan yang dilancarkan oleh AS-Inggris atas Irak juga mempengaruhi Taliban untuk segera mengubah sikapnya dan mengizinkan Bin Laden berbicara, dengan tetap mengulangi teori bahwa Amerika, Inggris, dan Israel tidak pernah akan dapat dijadikan sahabat oleh seorang Muslim. Taliban, dengan harapan tipis yang masih tersisa untuk memperbaiki hubungannya dengan AS dan Arab Saudi, meyakini bahwa pemerintahan mereka kelihatannya tidak mungkin mendapatkan pengakuan dunia internasional. Sekarang sudah saatnya untuk berhenti menenteramkan tukang fitnah mereka dan sebaliknya memanfaatkan kartu Bin Laden yang mungkin dapat membawa keberuntungan.

Setelah satu setengah jam perjalanan dan Kandahar di atas jalan, yang menurut orang sisi kanan dan kirinya dipenuhi dengan ranjau sejak pendudukan Soviet, seseorang datang bertatap muka dengan orang yang sekarang menjelma menjadi sosok yang menakutkan dunia. Bin Laden yang tampak pemalu dan sederhana tidak memperlihatkan sama sekali sosok yang dapat mensponsori peledakan bom yang membunuh sasaran dan orang yang tidak berdosa. Hangat dan bertutur lembut, bilioner Saudi jangkung ini telah memilih hidup yang penuh kesengsaraan, terjun ambil bagian dalam jihad Afghanistan pada tahun 1980-an. Dan, sekarang menantang keperkasaan AS dan Arab Saudi dengan melancarkan serangan-serangan dari keterasingan di bawah kontrol pelindung yang tidak dapat diterka apakah tetap konsisten melindungi atau malah sebaliknya.

Dengan pakaian shalwar-kameez (pakaian tradisional Pakistan) serta jaket perang yang dibungkus dengan chaddar dan wol untuk melindungi sengatan udara dingin gurun, suaranya agak meninggi dan bahasa Arabnya semakin fasih saat masuk ke dalam subjek favoritnya: bunuh Amerika. Serban putihnya berkilau saat diterpa cahaya lampu yang memancar kuat dan mesin generator besar di dalam tenda saat dia mengalunkan firman-firman Allah Swt., bagai seorang intelektual dan alim ulama yang ingin membuktikan pijakan dasar sikapnya selama ini. Ungkapan syukur dan puji kepada Allah Swt. selalu mengawali setiap kali jawaban. Dan, suara serta sikap tegar Bin Laden memecah kesunyian malam di tengah gurun pasir yang buas saat menyatakan, “Kalau menganjurkan jihad melawan Yahudi dan Amerika demi membebaskan Masjid Al-Aqsa dan Masjid Al-Haram dianggap sebuah tindakan kriminal, biarkan sejarah menjadi saksi bahwa saya seorang kriminal.”

Amerika berburu Osama
Dr. Ijaz Husein

Sorotan terhadap Osama bin Laden baru-baru ini memperlihatkan perkembangan besar yang kurang menyenangkan. Pertama, seperti pesan Amerika yang didengungkan secara jelas dan keras oleh Asisten Menlu Urusan Asia Selatan, Inderfurth, yang meminta kerja sama Pakistan dalam penangkapan Osama. Sikap ini diikuti oleh resolusi Dewan Keamanan PBB yang meminta pemerintah Taliban untuk tidak memberikan “istana” dan fasilitas berlatih kepada para teroris internasional. Hal ini dipertegas oleh reportase pers Barat yang menuduh Bin Laden telah membangun kembali “Universitas Teroris” di Afghanistan dan mengingatkan kemungkinan serangan yang akan dilancarkan oleh jaringan-jaringan dia di berbagai kota di daratan Eropa.

Di tengah ramai dan semaraknya reportase tersebut, AS dilaporkan telah memulai langkah-langkah nyata untuk itu, dengan menutup semua misi diplomatik di Afrika, kecuali di Kenya, Afrika Selatan, dan Burkina Faso. Dan, yang paling menyakitkan lagi dan perkembangan tersebut, yaitu berita dan jubir Taliban bahwa Arab Saudi telah menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Osama, kendati pemerintah Saudi secara resmi mengingkari keterlibatan mereka di dalam konspirasi ini. Karena itu, bukan hal yang aneh kalau AS akan kembali menghujani Afghanistan atau mencoba menculik dan membunuh Bin Laden.

Yang mereka lakukan dapat dipahami. Namun, apakah rencana aksi serangan AS kepada seorang tertuduh teroris merupakan jalan penyelesaian yang terbaik? Kedua, konsekuensi apa yang mungkin akan muncul dari serangan AS ke Afghanistan?

Dalam situasi seperti sekarang ini, operasi militer AS apa pun terhadap Afghanistan untuk menangkap atau membunuh Bin Laden, atau menghancurkan hal yang dianggap sebagai “universitas teroris”, sama sekali tidak dapat dibenarkan dengan dalih hak untuk mempertahankan diri. Sebelum melancarkan serangan itu, AS harus dapat menunjukkan bukti-bukti nyata keterlibatan Osama dalam aktivitas terorisme yang dituduhkannya. Tanpa itu semua, aksi Amerika bukan apa-apa, kecuali suatu tindakan terorisme negara. Dan yang terjadi di lapangan, serangan AS atas Sudan dan Afghanistan pada 20 Agustus 1998 masuk di dalam kategori ini karena mereka gagal membuktikan kebenaran hubungan antara aksi-aksi teroris melawan AS dengan Bin Laden.

Dalam persoalan Sudan, pabrik yang dipersepsi kriminal dan menjadi sasaran tembak AS ternyata hanya pabrik yang memproduksi obat-obatan farmasi, jauh dari tuduhan AS bahwa di sana diproduksi bahan-bahan persenjataan kimia. Ini bisa menjadi alasan mengapa AS menolak mentah-mentah permintaan Sudan mengirim tim khusus untuk menginvestigasi reruntuhan pabrik tersebut. Begitu juga halnya dengan kasus di Afganistan, AS tidak mengajukan bukti sedikit pun pada waktu operasi ataupun sesudahnya. Menurut reportase pers, Jaksa Agung AS, Janet Reno, telah memperingatkan Menlu AS, Madeleine Albright, untuk tidak mengambil tindakan dalam operasi militer melawan Afghanistan tanpa bukti-bukti yang kuat.

Pada kenyataannya, satu pembenaran atas aksi AS (peran Bin Laden di dalam pembunuhan tentara-tentara AS di Arab Saudi) ternyata kandas saat pemerintah Arab Saudi membebaskan Bin Laden dari tuduhan keterlibatannya dalam berbagai serangan teroris baru-baru ini .

Kalau memang AS mengatakan bahwa mereka punya bukti-bukti ata
s keterlibatan Bin Laden di dalam aktivitas teroris melawan kepentingan AS, mereka harus secara sukarela memenuhi permintaan pemerintah Taliban dan bukan dengan memaksakan kehendak kepada mereka sementara mereka sendiri bungkam tidak memberikan bukti. Kebungkaman AS pada waktu itu terdapat banyak intrik dan akan menghasilkan persepsi publik yang berbeda kepada AS yang telah gagal menunjukkan bukti. Sebagai contoh, dikatakan bahwa AS tidak melakukan itu untuk menghindari pengakuan atas pemerintahan Taliban.

Kemudian, keengganan untuk memenuhi tuntutan Taliban tetap dipertahankan untuk menjaga kerahasiaan sumber-sumber informasi yang paling rahasia. Dan, alasan terakhir, reservasi AS dalam kasus ini dapat dijustifikasi dengan alasan tidak menerima peradilan syariat yang ditawarkan, hanya karena berkarakter tidak sekular dan antagonistik dengan nilai-nilai Amerika. Kalau memang keberatan-keberatan ini relevan dalam konteks pengaktifan kembali peradilan syariat, kami usulkan untuk meninjau hal-hal berikut ini .

Kalau memang mengkhawatirkan keabsahan pemerintahan Taliban, lalu tetap bersikap bulat untuk tidak mengakuinya, maka dengan hanya menyerahkan bukti di depan peradilan syariat tidak dapat dijadikan alasan sebagai pengakuan terhadap pemerintahan Taliban dengan imajinasi apa pun. Banyak yurisprudensi di dalam kasus semisal yang mendukung persoalan sekarang. Satu contoh yang kasat mata adalah negosiasi antara pemerintah Pakistan dan wakil pemerintah Afghanistan pada 1980-an, yang akhirnya menghasilkan perjanjian Jenewa. Kendati demikian, pemerintah Pakistan tetap menolak untuk mengakui pemerintahan di Kabul.

Dalam hal proteksi sumber-sumber informasi, sama-sama tidak dapat dipertahankan. Kasus yang dibawa ke depan peradilan dunia oleh Nikaragua melawan AS pada 1980-an, sebagai protes terhadap penambangan AS di pelabuhan Nikaragua guna menghalangi kapal-kapal Soviet yang membawa peralatan perang, memberikan ilustrasi pemikiran ini. Administrasi Reagan akhirnya harus memboikot laporan sidang menurut tingkatan baik-buruknya di lapangan karena adanya hakim Soviet di sana. AS ketika itu tidak dalam posisi untuk membeberkan informasi yang dapat mempertahankan persoalan keamanan yang sensitif dan rahasia.

Dalam persoalan ini, alasan AS hanyalah dalih untuk bisa lari dan kenyataan bahwa aksi militernya benar-benar aksi yang ilegal dan tak dapat dipertahankan. Kelihatannya, penolakan dan keengganan untuk menyerahkan bukti di dalam kasus sekarang ini bukan semata-mata karakter kerahasiaannya, tetapi suatu pernyataan maaf.

Akhirnya, di dalam persoalan persidangan Osama dengan peradilan syariat, adalah prinsip hukum umum internasional bahwa sah-sah saja jika seorang kriminal buronan punya dua pilihan: baik diekstradisi atau diadili di negara yang melindunginya. Kalau memang pemerintah Taliban siap untuk membawa Osama ke meja hijau di Afghanistan, AS seharusnya bekerja sama dengan membantu secara maksimal serta menyerahkan bukti-bukti yang relevan. Dan AS dapat meminta agar persidangan dilakukan dengan transparan dan terbuka untuk media internasional. AS juga harus melihat bahwa di dalam persidangan nanti, perwakilan mereka diizinkan untuk keluar masuk persidangan memonitor berlangsungnya peradilan.

Kalau memang ternyata Taliban menolak persyaratan-persyaratan di atas, AS telah menemukan landasan kuat untuk menentang Taliban sekaligus memberikan justifikasi untuk memperlakukan pemerintahan Kabul dengan cara yang setimpal. Mengecam sistem peradilan domestik suatu negara –dengan mengatakan itu tidak sekular atau tidak berkarakter Barat sementara tidak melakukan persidangan secara fair terhadap teroris teroris lain– pada saat yang bersamaan tidak hanya menentang prinsip-prinsip akal sehat dan hukum internasional, tetapi juga pukulan imperialisme budaya.

Kalau memang AS akan tetap melancarkan serangan militer baru atau berhasil menangkap Bin Laden, lalu membunuhnya atau menculiknya, itu tidak akan menyelesaikan persoalan terorisme secara mendasar. Ini merupakan proses pemupukan kebencian dan amarah massa Muslim di dunia. Mereka sudah cukup berang terhadap Barat karena nyata-nyata mendukung serangan udara AS-Inggris melawan bangsa Irak yang tak berdosa. Sebuah persepsi akan semakin mengkristal bahwa Barat adalah anti-Islam.

Jangan lupa bahwa Bin Laden bukan sosok Ramzi Yousef atau Aimal Kanzi, melainkan seorang pahlawan di belahan dunia ini. Apa saja operasi AS di bumi Afghanistan hanya akan semakin meradikalisasikan masyarakat yang sudah menderita selama dua dekade peperangan sehingga keadaan ini dapat dimanfaatkan oleh Taliban untuk melawan Barat. Kalau ini yang terjadi, bahayanya adalah Afghanistan kembali akan menjadi benteng-pertahanan Islam radikal di dunia. Dalam situasi seperti ini, bukan mustahil akan terjadi serangan radioaktif nuklir Pakistan.

Inilah skenario yang kelihatan akan terjadi di belahan dunia ini. Untuk alasan ini dan demi terealisasinya rule of law di tengah komunitas internasional, AS seharusnya bisa menangani kasus Osama dalam siklus pendekatan yang konstruktif dengan pemerintah Afghanistan ketimbang harus memperlihatkan arogansi kekuatannya.

Berburu Osama bin Laden
Rahimullah Yusufzai

Kehidupan di Kandahar –Markas besar Pergerakan Islam Taliban yang puritan di Afghanistan– berjalan normal dan hingga kini merupakan tempat tinggal Osama. Beberapa tahun belakangan, Kandahar menjadi ibu kota de facto sebagai pengganti Kabul dan dari kota ini pemimpin tertinggi Taliban, Mulla Muhammad Omar, memulai pergerakan. Lebih dari itu, Mulla Omar lebih menghendaki pengendalian administrasi dan komando dari kota ini ketimbang Kabul. Tidak ada kemajuan yang berarti di dalam kehidupan masyarakat yang berpenduduk sekitar setengah juta jiwa ini . Bahkan perkembangan negatif dan yang terjadi, para Kandaharis harus selalu siap menghadapi ancaman AS yang dapat menyerang kota ini dengan mudah untuk memaksa Taliban mengusir Osama dan Afghanistan.

Sebagian besar penduduk Kandahar dan daerah lainnya tetap meyakini bahwa Osama masih berada di Afghanistan. Dalam wawancara baru-baru ini dengan berbagai strata sosial masyarakat di Kandahar, mereka percaya bahwa Bin Laden, yang dituduh sebagai otak pemboman di kedutaan besar AS di Kenya dan Tanzania, masih tetap di Afghanistan.

Dalam kesempatan wawancara eksklusif Mulla Omar dengan The News baru-baru ini, dikabarkan bahwa Bin Laden telah menghilang. Tetapi, dia mengatakan bahwa bukan merupakan otoritasnya untuk mengatakan bahwa Bin Laden telah pergi meninggalkan Afghanistan. Menurut Mulla, keputusan bulan Februari 1999 untuk memberikan sepuluh pengawal kepada Bin Laden itu diambil saat ruang gerak Osama dibatasi dan diawasi. Termasuk dalam pembatasan ini adalah menyeleksi para pengunjung Osama dan memutuskan saluran teleponnya. Taliban juga mengatakan bahwa Osama dapat tinggal di Afghanistan sebagai tamu, namun tidak boleh menggunakan tanah ini untuk mengumbar ambisi politik. Omar yang kehilangan sebelah mata kanannya saat perang melawan Soviet juga menyampaikan tiga alasan mengapa Osama tidak diekstradisi oleh Taliban. Pertama, Bin Laden terkenal dengan pandangan-pandangan keislamannya dan AS yang bangga sebagai negara demokratik yang menjunjung tinggi hak berekspresi dan kebebasan beragama dan yang menolak dikatakan sebagai anti-Islam, selayaknya tidak terlalu memaksakan kehendak. Kedua, Taliban tidak dapat mempertaruhkan tradisi dan sejarah Afghanistan dengan mengkhianati seorang yang meminta perlindungan saat terdesak. Ketiga, saya merasa sangat sakit hati karena tidak ada satu negara Muslim pun yang menampakkan keinginan untuk melindungi orang yang membutuhkan.”

Menurutnya, Taliban dibenci oleh Arab Saudi dan menderita hujanan rudal pada bulan Agustus 1998 karena menolak untuk menyerahkan Bin Laden kepada musuh-musuhnya. Dan, di sini Mulla Omar menand
askan bahwa Taliban siap mengorbankan lebih banyak lagi untuk tujuan ini. Bahkan kalau memang setengah dari bumi Afghanistan harus hancur, tidak ada kompromi bagi bangsa ini untuk dipaksa melaksanakan stigma di dalam agama dan kultur mereka. Dia menerangkan bahwa tamu di Afghanistan harus dilindungi dan bukan dikhianati.

Menurut Mulla Omar, yang biasa dipanggil Amirul Mukminin oleh para anggota Taliban, AS telah gagal membawa bukti-bukti keterlibatan Osama dengan aksi-aksi terorisme, meskipun Taliban sudah menawarkan solusi bahwa Bin Laden dapat dimahkamahkan di depan peradilan Islam di Afghanistan. Lebih lanjut, menurutnya, bahwa ancaman AS untuk kembali menggunakan kekerasan melawan Afghanistan tidak akan dapat memaksa Taliban mengusir tamu kehormatannya. Dia menjelaskan bahwa Soviet juga negara adidaya, tetapi terbukti gagal memaksa Afghanistan agar tunduk di ketiak supremasinya.

Seperti komunitas Kandaharis dan yang lainnya, pejabat AS juga percaya bahwa musuh mereka ini masih bercokol di Afghanistan. Jubir Deplu AS mengatakan bahwa AS tidak punya informasi bahwa Osama telah pergi dari Afghanistan. Dia menegaskan, Taliban merupakan pihak yang bertanggung jawab mengekstradisi dan membawa Bin Laden ke depan mahkamah dengan tuduhan “tindakan kriminal keji dan brutal terhadap rakyat sipil.” Walaupun demikian, Taliban tetap saja membantah tuduhan bahwa aksi pembatasan ruang gerak Osama akhir-akhir ini merupakan jalan keluar Taliban untuk menghindari serangan AS karena Inderfurth telah melayangkan surat peringatan kepada wakil Menlu, Mulla Abdul Jalil di Islamabad. Menurut jubir senior Taliban, Mulla Wakil Ahmad Muttawakil, tidak ada perundingan resmi antara Jalil dan Inderfurth. Dia mengatakan bahwa Inderfurth hanya memberikan surat yang meminta Taliban untuk mengusir Osama atau mengekstradisinya ke AS atau Arab Saudi, dan ini merupakan ancaman terbuka bagi Taliban. Rumor tentang semakin dekatnya serangan AS ke Kandahar sudah bukan rahasia lagi di kalaugan penduduk. Sebagian besar penduduk Kandahar sudah terbiasa dengan perang dan ancaman penyerangan AS tidak dapat mengubah komitmen mereka untuk tidak tunduk kepada negara adidaya ini setelah mereka merasa berhasil mengalahkan negara adidaya lainnya, Soviet. Menurut Muttawakil, sejarah menjadi saksi bahwa Afghanistan melawan dua kekuatan besar di abad ini, Inggris dan Soviet, dan berhasil mengusir mereka keluar dan bumi Afghanistan.

Motif keramahtamahan rakyat Kandahar kepada Bin Laden lebih karena dia telah mati-matian berkorban untuk menolong rakyat Afghanistan berjuang melawan invasi Soviet. Menurut mereka, sungguh hina bagi rakyat Afghanistan, khususnya rakyat Poshtoon, untuk tidak menghormati tamu dan mengusirnya. Bagi mereka, Taliban sudah bulat dengan keputusan mereka untuk tidak dapat berkompromi dengan tradisi hospitalitas yang lestari berabad-abad walau negara yang sudah hancur ini harus menanggung risiko kebencian dan serangan AS, negara Barat, dan Arab Saudi. Kendati demikian, sebagian rakyat Kandahar juga mengecam sikap Taliban seperti ini . Menurut mereka, Afghanistan sudah hancur karena perang dan tidak mungkin harus terus menderita selamanya. Mereka sangat kritis dengan sikap Taliban yang, di satu sisi, terlalu mengobral isu-isu kontroversial yang menjadi bumerang dan membahayakan negara, sedangkan di sisi lain, melupakan kewajiban mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Dan, bahkan seorang pemimpin Taliban mengatakan bahwa rakyat Afghanistan menjadi satu-satunya “Muslim sejati” yang tersisa di dunia ini dan oleh karenanya harus dapat melindungi nilai-nilai keislaman serta memperjuangkannya.

Karena gema berita bahwa Osama masih berada di Afghanistan cukup terdengar dan pemimpin pucuk Taliban masih enggan memastikan bahwa Osama benar-benar sudah hengkang, spekulasi sekarang beralih ke fokus persembunyian Bin Laden yang baru. Sejak kembali ke Afghanistan di bulan Mei 1996, Bin Laden selalu menjaga kerahasiaan persembunyiannya dan tidak pernah lalai dengan aspek keamanan. Persembunyian yang sudah diketahui ada di empat tempat, di antaranya dekat Jalalabad di Provinsi Nangrahar, di Provinsi Logar, di Khost yang menjadi sasaran rudal-rudal AS, dan yang terakhir di dekat Kandahar. Bisa jadi, ada tempat persembunyian baru dan markas lain. Satu indikasi bahwa Bin Laden masih berada di Afghanistan adalah pernyataan Muttawakil bahwa istri-istri dan anak-anaknya masih berada di tempat yang dirahasiakan.

Sebagaimana halnya Bin Laden, pembantu dekatnya, seperti Syaikh Taseer Abdullah alias Abu Hafs Al-Misri –yang menurut AS dikenal dengan Muhammad Atef — kepalanya juga dihargai 5 juta dolar AS. Sementara, Abu Hafs dan Dr. Ayman Al-Zawahiri sama-sama menghilang dari peredaran selama ini .

Lebih jauh, pernyataan ketidak tahuan Taliban perihal persembunyian Osama dan pengikutnya serta pengawal terkesan tidak masuk akal. Kelihatannya, Taliban berusaha keras menjauhkan diri dari isu Osama, meskipun tidak terpikir oleh mereka untuk mengusirnya. Beberapa pemimpin Taliban merasa senang dapat membuat AS berspekulasi tempat persembunyian Bin Laden. Namun, bagi AS, taktik yang mereka gunakan untuk mengelabui AS tidaklah terlalu canggih. Rakyat biasa Afghanistan tidak terlalu tertarik dengan persembunyian Osama dan saat wawancara pada 22 Desember 1998, Bin Laden mengatakan bahwa dia sengaja menjauhi keramaian penduduk agar tidak membahayakan rakyat sipil yang tidak berdosa dari kemungkinan serangan AS. Karena itu, Osama dapat bersembunyi di kejauhan gurun dan pegunungan Afghanistan yang dapat memberikan dia sedikit ketenangan, dan hanya segelintir pemimpin Taliban yang tahu persis tempat persembunyian itu berada serta tetap merahasiakannya. Yang jelas, AS tidak mau menerima sikap Taliban seperti ini dan mungkin mereka akan melakukan hal lain untuk dapat membongkar kebungkaman mereka tentang tempat Osama bersembunyi dan mengusir dia ke AS. Peristiwa teroris apa pun yang akan terjadi terhadap kepentingan AS di dunia ini, Osama pasti menjadi sasaran tuduhan AS. Untuk skenario ini, tekanan-tekanan atas Taliban dan sekutu terdekatnya, Pakistan, tentu akan semakin digalakkan dan akan mengakibatkan konsekuensi lain yang akan terjadi di wilayah ini .

Bagi Bin Laden, sebagaimana biasanya, dia tidak dapat tinggal diam untuk waktu yang lama karena dia perlu liputan media dan menyebarkan pesan serta berupaya untuk tetap berjuang secara politis di Dunia Islam. Dengan simpati yang tumbuh dan berkembang di Dunia Islam, dia perlu menjaga sikap anti-AS ini untuk dapat mempertahankan komitmen para simpatisan. Kalau memang dia tidak berhasil mempertahankan gelombang itu dan Taliban berpegang teguh membatasi ruang geraknya, hal itu dapat menjerat Osama, dan ini memungkinkan dia mencari tempat perlindungan lain –Sudan yang harus dia tinggalkan dengan terpaksa pada Mei 1996; Saddam Hussein yang tidak dapat dipercaya dan sulit untuk menjamin keamanannya; Iran tempat para pengikut Syi’ah garis keras terlibat di dalam kompetisi merebut kekuasaan dengan para Sunni moderat dan Osama yang Sunni jelas akan alergi dengan penguasa Syi’ah; Yaman yang merupakan negeri asal keluarga Bin Laden sebelum tinggal di Arab Saudi; Chechnya yang semi-independen tempat para pejuang mencemooh autoritas pemerintahan Presiden Mashkhadov dan pemerintahan ini gagal melindungi presiden mereka, Zokhtar Dudayev; atau Somalia tempat Osama punya banyak kolega yang berpengaruh. Kelihatannya, sampai sekarang ini tidak ada tempat yang lebih aman bagi Osama keculi Afghanistan.

Berburu Osama bin Laden lagi
Samiullah Koreshi

Mengungkapkan pendapat mayoritas yang bisu akan sangat bermanfaat kendati tidak terlalu berkesan. Mungkin hanya elemen massa yang berpikiran religius saja yang akan mengagitasi persoalan ini lebih jauh. Para intelektual beranggapan bahwa peragaan otot negara adidaya tidak lebih dari upaya mempertontonkan ketidak adilan sebuah kekuasaan secara vulgar dengan pelanggaran norma-norma perundangan i
nternasional.

Rumor mengatakan bahwa sekarang ini agen-agen AS berkeliaran bebas di Pakistan dan Afghanistan guna menangkap dan menjerat Osama bin Laden. Setahun yang lalu, rudal-rudal AS telah menghujani Khost dan menghancurkan tiga markas yang dituduh sebagai tempat persembunyian Osama. Dia dituduh menjadi otak peledakan bom di dua kedutaan AS di Kenya dan Nairobi. AS juga telah menghancurkan pabrik di Sudan dengan dasar “informasi” bahwa di sana diproduksi senjata-senjata kimia. AS dengan bulat mengatakan bahwa Osama terlibat di dalam peristiwa-peristiwa kriminal brutal itu.

Namun, dalam proses penghujanan Afghanistan dengan rudal-rudal, AS juga melanggar wilayah udara Pakistan. Beberapa dan rudal yang ditembakkan jatuh di wilayah Baluchistan. Diyakini bahwa AS bermaksud menghantam fasilitas uji coba nuklir Pakistan di Pegunungan Chaghi, namun meleset.

Amerika terlalu berlebihan mempertontonkan aktivitasnya karena mereka yakin bahwa mereka tak terjamah hukum, yakni hukum internasional. Mereka dapat melanggar wilayah udara negara Pakistan dan Afghanistan yang berdaulat, dan mereka dapat menghakimi siapa yang teroris dan apa itu terorisme serta berhak menangkap siapa saja yang dianggap dan dan negara mana pun mereka. Mereka satu-satunya pemilik keputusan dan fakta. Kelihatannya AS mengaku kebal dan kesalahan. Mereka menganggap bahwa ada kebenaran tertinggi untuk membuat pernyataan dogmatik. Semua keistimewaan ini mereka rasakan karena mereka satu-satunya adidaya dunia.

Pada 1988, wilayah udara Pakistan dilanggar tanpa diketahui Pakistan. Sementara itu, Badan Sentral Komando Amerika sedang berada di Rawalpindi (dekat Islamabad) dan tetap di sana hingga operasi penghujanan Khost selesai.

Pada tahun itu pula, tuduhan Amerika atas Sudan ternyata keliru. Sudan yang malang berteriak bahwa tidak ada pabrik kimia di sana. Setelah itu, terbukti bahwa tempat yang dihujani bom memang tidak menyimpan atau memproduksi kimia, dan Amerika ternyata secara brutal melakukan kesalahan fatal. Namun, tidak ada satu pihak pun, baik dan organisasi negara-negara Islam maupun PBB yang menuntut AS untuk minta maaf atau memberikan kompensasi. Kesalahan ini dibungkus sedemikian rupa untuk menyelamatkan reputasi polisi dunia karena bagi mereka meminta maaf kepada Sudan adalah hal yang memalukan.

Sekarang surat kabar Washington Post mengangkat tuduhan kepada Osama yang terlibat di dalam peledakan kedutaan dan mengatakan bahwa tuduhan itu semata hanya berdasarkan bukti tidak langsung atau gosip. Sebagaimana diketahui oleh insan hukum bahwa bukti tidak langsung tidak dapat diterima di hadapan semua peradilan hukum. Itu hanya desas-desus alias rumor bahkan lebih kecil daripada gosip skandal first ladies dan first gentlemen di dunia Barat.

Saya heran kalau ada manusia normal dapat menerima tuduhan AS bahwa Osama terlibat di dalam hampir semua tindakan kriminal, dari Chechnya, Sudan, Kenya, Yaman, Saudi, sampai Filipina, dan hanya Allah yang tahu di mana lagi AS mencap Bin Laden hampir di mana-mana dengan kekayaan yang dia miliki, serta mendanai semua aktivitas di mana pun adanya. Bukankah tuduhan ini terlalu kasar untuk ditelan secara mentah-mentah. Seseorang akan tergoda untuk melontarkan idiom Amerika “Go and tell it to the marines.” Itu omong kosong.

Bin Laden merupakan nama yang terpandang dengan proyek-proyek miliaran dolar untuk perluasan dan keindahan Al-Haramain Al-Syarifain. Sebagaimana dia juga adalah seorang filantropis kenamaan.

Menjadi seorang Muslim yang sejati bukanlah tindakan kriminal dan berupaya mensejajarkan Islam dengan terorisme bukan saja tidak fair; melainkan benar-benar prasangka. Orang yang memiliki pemahaman seperti itu tidak akan dapat mengerti arus dan gelombang kebangkitan Islam dewasa ini. Pendekatan seperti itu harus dihindari. Afghanistan adalah negara Islam yang mengikuti tipe sistem yang mengaplikasi ajaran Islam dan Bin Laden merasa lebih nyaman untuk tinggal di sana.

Istilah baru Amerika “pluralisme” –yang ingin memberikan lahan bagi semua ajaran– hanya diterapkan untuk kepentingan mereka dan mereka mengadopsi metode yang ambivalen saat berhubungan dengan Islam, khususnya Taliban. Mereka boleh bebas mengkritik, menyanggah, ataupun mengecam Taliban dan corak keislamannya, tetapi mereka juga harus belajar toleransi kepada orang, kultur, dan sistem yang lain. Mereka tidak berhak memaksakan sesuatu kepada orang lain. ini merupakan sikap yang dapat memukul keyakinan agama Evangelisme walaupun itu dikemas serapi mungkin, namun tetap salah kaprah dan salah alamat di dalam meletakkan terminologi. Beberapa waktu yang lalu, harian Daily (Karachi) yang bertendensi Barat, menerbitkan sebuah surat Syaikh Omar yang disusupkan dari penjara dan menceritakan perlakuan tidak senonoh yang diterimanya selama ini . Perlakuan para penjaga penjara ini sangat menghina kehormatannya dengan menggeledah sekujur tubuh Syaikh Omar setiap kali selesai dikunjungi seseorang, bahkan bagian tubuhnya yang sangat pribadi pun tidak luput dari sentuhan dengan dalih penggeledahan barang-barang berbahaya. Lebih dari itu, syaikh yang harus mematuhi hukum, pemerintah pun harus demikian. Dan, berstatus adidaya tidak berarti bisa bebas dan semua peraturan.

Paling tidak, AS harus lebih toleran kepada Osama bin Laden yang keislamannya masih di dalam lingkaran aktivitas normal yang punya legitimasi. Apalagi AS belum dapat mengemukakan bukti-bukti keterlibatan Osama sebagai teroris atau sebagai otak aktivitas terorisme. Perlu dipertegas bahwa AS tidak di atas hukum internasional. Siapa saja yang diburu oleh suatu negara, persoalannya masih tetap kontroversial. Seseorang harus membuat daftar orang-orang yang diburu untuk diserahkan, seperti Salman Rushdie atau Komando Perang Teluk yang telah memorak porandakan rumah sakit dan fasilitas sipil lainnya yang jelas melanggar Konvensi Jenewa. Lebih jauh lagi, arogansi kekuasaan AS pada masa sekarang ini telah menciptakan kesan di negara-negara kecil bahwa Barat telah memprovokasi sebuah perang peradaban.

Kalau AS tidak mengindahkan hal ini, bisa jadi AS akan menuai permusuhan dan pemburuan orang-orang Islam. AS harus menjaga citranya di Dunia Islam yang lebih bersifat mencela dan dia harus berpikir memperbaiki citranya.

Bagaimanapun, Pakistan tidak mesti bekerja sama dengan AS dalam upaya penangkapan atau penculikan Osama, atau mengizinkan fasilitas agen AS untuk beroperasi di tanah Pakistan dalam penjeratan Osama, sebagaimana dalam kasus Ramzi Yousef dan Aimal Kanzi yang mendapat pengadilan tidak fair di negara benteng kebebasan terbesar itu.

Sanksi Aneh Amerika
Rahimullah Yusufzai

Sanksi ekonomi terbatas yang diberlakukan oleh DK-PBB kepada Afghanistan telah diberlakukan sejak 14 November 1999, ketika penguasa pergerakan Taliban menolak untuk mengusir pembangkang Saudi, Osama bin Laden, untuk diadili dengan tuduhan sebagai otak peledakan kedutaan AS di Afrika Timur. Ancaman implementasi sanksi ekonomi PBB gagal menggertak Taliban untuk mengubah sikap dan keputusannya. Kalau ternyata di masa yang akan datang sanksi ini juga gagal, kemungkinan PBB akan memperluas lingkup sanksi dan memperketatnya untuk memaksa penguasa Kabul mengusir Osama.

Pada 15 Oktober 1998, DK-PBB menggolkan resolusi yang luar biasa (No.1267) bahwa jika Bin Laden tetap tidak diekstradisi ke negara ketiga dalam tempo satu bulan, PBB mengancam sanksi ekonomi atas Afghanistan. Semua negara anggota DK ini, termasuk lima negara pemegang hak veto, secara simultan sepakat dengan resolusi ini. Dari kesepakatan ini, ada indikasi munculnya penobatan AS sebagai penguasa tunggal dunia modern dewasa ini, tidak saja bagi sekutunya Inggris dan Prancis, tetapi juga bagi Cina dan Rusia. Kedua negara terakhir ini tidak seperti biasanya turut mendukung resolusi yang mentargetkan indi
vidu dan tuan rumah Taliban dengan alasan mereka mengancam keamanan dan perdamaian internasional. Bin Laden sudah lama diburu AS walaupun kasus dakwaan terhadapnya masih diperdebatkan. Apakah Washington punya cukup bukti dalam keterlibatan dia di dalam berbagai aksi terorisme? Akan tetapi, resolusi PBB cukup menjadi alat kecaman yang menyatakan bahwa Islamis asal Saudi ini merupakan orang “terkutuk” dan dicari oleh 15 negara anggota DK-PBB. Di dalam proses sanksi ini, setiap anggota PBB wajib untuk menaati dan mematuhi resolusi, termasuk Pakistan, Arab Saudi, dan Emirat Arab yang telah mengakui legitimasi pemerintahan Kabul.

Ini merupakan peristiwa kedua di dalam sejarah DK-PBB yang menyepakati resolusi dalam penangkapan individu yang diduga sebagai teroris dan dicari AS. Pada 1992, sanksi ekonomi juga telah dijatuhkan atas Libia yang menolak untuk mengekstradisi warga negaranya yang dituduh meledakkan pesawat komersial di atas Lockerbie, Skotlandia pada 1986. Sanksi ekonomi itu terus diperketat sejak diberlakukannya sampai akhirnya dilenturkan setelah Libia berkompromi untuk mengadili kedua warganya di negara ketiga.

AS telah menggunakan semua cara dan nyaris putus asa di dalam upaya menjaring Osama. Beberapa reportase mengatakan bahwa AS telah menekan pemerintahan Sudan, Presiden Omar Al-Bashir, untuk mengusir Bin Laden keluar pada Mei 1996. Saat itu, milioner asal Saudi ini dikecam sebagai dermawan yang menghidupi pergerakan radikal Islam di berbagai penjuru dunia. Bin Laden semakin dimusuhi oleh AS dan beberapa negara Barat dan Arab saat dia mulai berani meneriakan penarikan mundur pasukan AS, Inggris, dan Perancis dari Jazirah Arab tempat terdapatnya beberapa tempat tersuci di dalam Islam. Dalam wawancara dengan media internasional pada 1996 dan 1997, dia berkali-kali mengkritik kebijaksanaan AS/Barat di negara-negara Islam dan kaum Muslim, khususnya di Timur Tengah.

Sirine mulai bergaung di berbagai ibu kota negara Barat ketika Bin Laden mendeklarasikan peluncuran Front Islam Internasional untuk Jihad (International Islamic Front for Jehad) pada Mei 1998. Bagi AS, ini benar-benar aksi provokatif. Dan, tidak lama berselang, Osama dinobatkan sebagai musuh Publik Washington Nomor Satu. Tepatnya pada 7 Agustus 1998, saat Kedutaan Besar AS di Nairobi (Kenya) dan Daressalam (Tanzania) di Afrika Timur diledakkan dengan 240 orang korban, termasuk sekitar belasan warga Amerika tewas. Terang saja AS langsung menuding Osama yang berada di belakang peledakan ini dan Presiden Bill Clinton menjanjikan pembalasan. Hanya berselang tiga belas hari, AS meluncurkan 80 rudal Tomahawk dengan sasaran Bin Laden dan menghancurkan ketiga markas yang diduga sebagai sarang terorisme. Namun, keberhasilan menghancurkan markas Osama ternyata tidak cukup karena mereka gagal mengeliminasi gerak Bin Laden.

Tampakuya, AS benar-benar serius untuk membekuk Osama. Karena itu, AS telah mencoba melakukan tarik-menarik untuk memaksa Taliban menyeret Bin Laden. Keinginan AS untuk bernegosiasi dengan Taliban muncul saat rezim ini terpojok dan terisolasi dari percaturan komunitas dunia. Dan, perusahaan minyak raksasa AS, Unocal, yang berminat untuk membangun saluran minyak dan gas dari Turkmenistan ke Pakistan melalui Afghanistan dapat dikategorikan sebagai “pemikat” yang ditawarkan kepada Taliban. Adapun kategori “pemukul” yang dilakukannya, tercermin dari pemaksaan mundur perusahaan ini dan konsorsium yang telah melenyapkan mimpi Taliban untuk mendapatkan investasi asing yang terbesar di wilayah itu. Begitu pula dengan kursi perwakilan Afghanistan di PBB yang masih “dihadiahkan” kepada pemerintahan Rabbani meskipun hanya menguasai kurang dari 10% wilayah.

Keberangan AS kepada Taliban juga berimplikasi besar kepada negara-negara asing lainnya. Konsekuensinya, bantuan dunia internasional akan terus menurun secara drastis dari kondisi sosio-ekonominya akan semakin memburuk.

Sanksi ekonomi yang diprakarsai AS –kendati sekarang ini masih terbatas– merupakan hukuman terbaru yang diderita Afghanistan. Resolusi PBB dan semua pendekatan berikutnya hanyalah sanksi yang mentargetkan Taliban dan bukan Afghanistan, sebagaimana yang ditegaskan sebelumnya bahwa hukuman yang dijatuhkan hanyalah untuk menghukum Taliban. Namun, sayang tidak ada penjelasan bagaimana rakyat biasa dapat menghindari pukulan sanksi ketika maskapai Ariana harus dihentikan pula. Dan, konsekuensinya rakyat harus terbang ke negerinya setelah transit ke Pakistan atau negera tetangga lainnya dengan biaya yang tentu saja lebih mahal. Begitu pula halnya, biaya ekstra untuk transportasi mesti dibebankan kepada konsumen ketika para pedagang tidak dapat mengimpor barang secara langsung ke Afghanistan baik dengan Ariana ataupun lainnya. Bahkan surat-surat ke mancanegara yang biasanya mempergunakan jasa Ariana akan lebih mahal dan memerlukan waktu lebih lama untuk sampai ke tujuan karena harus melalui Pakistan lebih dahulu.

Di sini jelas, kooperasi Pakistan sangat vital dan krusial untuk mempertahankan ekonomi Afghanistan yang morat-marit, dan pasca sanksi Pakistan menjadi lifeline Afghanistan untuk memasok berbagai kebutuhan rakyat yang terus menderita. Dan bagi Taliban, mereka akan tetap menolak tunduk kepada tekanan AS untuk mengusir Bin Laden, bahkan mereka lebih senang menderita dalam sanksi ekonomi PBB daripada harus mengorbankan prinsip-prinsip hidup.

Sekarang sudah jelas bisa dibaca bahwa akan ada trend baru di dalam hubungan internasional yang akan diimplementasi di masa mendatang, sebagaimana telah diperagakan AS dengan penghujanan rudal-rudal ke Afghanistan dan Sudan serta sekarang sanksi ekonomi PBB yang diprakarsai AS pada Taliban. Pada trend pertama, AS tidak perlu mempergunakan jalur PBB dan sebalikuya memperagakan keperkasaannya untuk menghukum Bin Laden dan tuan rumah Taliban. Juga pabrik farmasi yang dibom AS ternyata bukan milik Bin Laden dan tidak memproduksi senjata-senjata kimia sebagaimana yang sering diklaim Washington. Namun, hal ini sama sekali tidak digubris AS. Padahal, sebenarnya harus ada persidangan di Washington yang mengizinkan petisi pemilik pabrik untuk meminta kompensasi atau ganti rugi.

Mengenai resolusi PBB yang menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Afghanistan karena menolak untuk menyerahkan seseorang yang diburu oleh negara lain, perlu diketahui bahwa ekstradisi hanya dapat dilakukan dengan kesepakatan bilateral. Dan, di bawah hukum internasional, setiap negara harus mengikuti prosedur yang sudah digariskan untuk menangkap seseorang yang diburu dan berlindung di negara asing. Kalau memang tidak ada kesepakatan ekstradisi antar kedua negara atau negara yang melindungi tetap tidak mau menyerahkan, tidak banyak yang dapat dilakukan secara legal. AS bisa saja beralasan bahwa Bin Laden bukan merupakan individu biasa. Dia memiliki kekayaan dan jaringan yangjuga masih diperdebatkan atau karena disiden Saudi ini jelas punya karakter yang luar biasa, dan karena itu penjaringannya perlu ditangani secara Thusus.

Pejabat pemerintah AS juga mengatakan bahwa kalau memang perjanjian ekstradisi antara AS dan Afghanistan tidak ada, maka Bin Laden dapat diekstradisi ke negara ketiga dan baru kemudian dibawa ke pengadilan federal di AS untuk disidang dengan tuduhan terorisme. Namun, sebagian besar rakyat di negara kecil dan lemah seperti Afghanistan sulit untuk mencerna alasan dan argumentasi seperti ini, sebagaimana mereka semua tahu persis bahwa tidak ada kekuatan apa pun yang dapat menghalangi AS –entah itu hukum ataupun logika– jika dia telah memutuskan untuk mengejar musuh-musuh yang dia persepsikan secara sepihak di mana pun adanya.

Osama yang Dibenci dan Dipuji

“Osama, para pengikut, dan simpatisan globalnya tengah berada pada fase terakhir dalam rencana menyerang kita,” ungkap George Tenet, Direktur CIA, dengan yakin di hadapan Komite Senat pada Januari awal 1999, “Kita telah menyerang markasny
a, sekarang dia akan balik memukul kita,” Ucap salah seorang pegawai Deplu AS menambahkan.

Terang saja ini membuat seluruh perangkat jerat musuh Amerika nomor wahid ini disiagakan. Madeleine Albright membatalkan rencana kunjungannya ke Albania karena konon menteri luar negeri Paman Sam juga tercantum dalam urutan teratas target simpatisan Osama. William Cohen pun tidak ketinggalan untuk melakukan hal serupa: membatalkan perjalanannya. Kendati demikian, sampai sekarang belum ada penyerangan terhadap pembesar AS yang dalam istilah Osama adalah aliansi Salibis-Yahudi.

Memang, semua ini adalah tindakan preventif yang sangat ekstra hati-hati dan hasil pemantauan jaringan CIA dan FBI seantero dunia. Mereka tidak mau kecolongan untuk kesekian kalinya setelah sebelumnya mereka kebobolan. Mulai pemboman WTC di New York, penembakan agen CIA di depan markas mereka di Langley, pemboman di Dhahran, Arab Saudi, dan yang terakhir pemboman dua kedutaan besar Amerika di Kenya dan Tanzania dengan korban 224 meninggal dan ribuan luka, 7 Agustus 1998. Ini semua bukan tanpa alasan. Dr. Ayman Al-Zawahiri, tangan kanan Osama sekaligus pimpinan Al-Jihad Al-Islami Mesir, lang-sung bereaksi sehari setelah pengiriman rudal ini . Dia yang fasih berbahasa Inggris inenelepon Rahimullah Yusufzai, wartawan harian The News (Pakistan), Time, dan ABC seraya berkata, “Katakan kepada mereka bahwa perang baru saja dimulai; orang Amerika sekarang harus menunggu balasan kami,” tegasnya menggertak. Ungkapan dengan nada kesatria ini, spontan keluar setelah mereka selamat dari serangan paling dahsyat dalam sejarah perang Penguasa dunia melawan individu AS vs Osama bin Laden, saat itu 50 rudal dimuntahkan dari 7 kapal perang di Samudra Hndia yang menghancurkan enam gedung Harkat-Al-Anshar yang dituduh sebagai tempat persembunyian Osama. Peristiwa itu menelan korban 13 meninggal dan dna lusinan luka-luka. “Serangan ini tidak akan menggoyahkan jihad dan sikap kami terhadap aliansi Salibis-Yahudi,” tandas Dr. Al-Zawahiri.
Upaya Penjaringan Osama

Berbagai cara dan strategi dipergunakan untuk menyeret Osama ke meja hijau baik di Amerika, Arab Saudi maupun di Mesir. Dalam hal ini, Amerika mempergunakan tiga cara sekaligus: via tekanan diplomatik, jalur intelijen, dan sarana politis dan yudisial. “Kami tidak pernah akan membiarkan mereka sampai keadilan ditegakkan,” ucap Bill Clinton pada acara memperingati peristiwa pemboman di Nairobi dan Daressalam yang membunnh 224 orang dan 12 di antaranya warga Amerika.

Penyerangan terhadap berbagai kepentingan AS benar-benar membuat penguasa negeri adidaya ini kebakaran jenggot. Betapa tidak, Uni Soviet saja dengan arsenal hulu ledak nuklir berjumlah ribuan bisa bertekuk lutut. Sekarang, justru ada individu yang berani mengusik kenyamanan sang polisi dunia dan merongrongnya. Berbagai keputusan demi keputusan diambil. Dan pengesahan perintah paling rahasia oleh Bill Clinton terhadap CIA di depan Komite Kongres untuk menjebol jaringan Osama pada 1995, 200 orang agen membentuk pasukan khusns untuk membekuk Bin Laden hingga kampanye di BBC seluruh dunia.

Namun, Clinton belum juga mampu menjerat Osama, kendati sudah 80 orang lebih Muslim ditangkap dengan tuduhan mempnnyai hubungan dengan Osama. Negara adidaya ini memang serius dan bersumpah untuk membabat habis jaringan ‘Al-Qaeda” sampai ke akar-akarnya yang dituduh milik Osama.

Pada ulang tahun penyerangan tempat Osama di Khost, Amerika berkampanye di televisi BBC dengan menayangkan lintasan pelbagai tragedi di belahan bumi lebih kurang 30 detik yang bertujuan memperlihatkan komitmennya untuk tidak membiarkan Osama bebas hidup. Kepala Osama dihargai 5 juta dolar, sebuah harga kepala paling mahal di akhir abad ke-20.

Bahkan, Amerika membujuk negara-negara lain untuk mau menayangkan kampanyenya. Sejak 1996, Amerika sudah memantau semua jaringan kerja Al-Qaeda, status operasional harian, taktik, daftar target potensial, mendeteksi kode nama-nama samaran pengikutnya, dan relasi mereka dengan warga Amerika. Tidak hanya itu, Pasukan Pentagon’s Delta Force dan M16 yang sudah terlatih khusus diterjunkan untuk menyeret Osama dari Afghanistan. Namun, upaya ini gagal karena tempat persembnnyian Osama terlalu sulit dijangkau, ditambah lagi medan yang tak mudah ditembus sehingga tidak memungkinkan penyediaan infrastrnktnr di lapangan guna kesuksesan operasi. Di samping itu, ada kekhawatiran banyaknya korban dari pihak Amerika, mengingat para tukang pukul Osama yang tangkas dan ahli dengan medan dan alam Afghanistan, plus dukungan pemerintah Taliban yang setia melindungi Osama selama 24 jam.

Namun, Amerika tidak kehabisan akal. Dalam berbagai forum dan kesempatan, Osama pasti menjadi agenda penting. Dalam konferensi damai Afghanistan, 6 plus 2 di kota Tashkent akhir bulan Juli 1999, Osama menjadi isu panas yang justru membuat konferensi tidak bisa menemukan titik temu. Pada Jumat, 12 Maret 1999, AS berhasil mengajak Rusia untuk bersama menekan Taliban dan Pakistan, yang dituduh punya pengaruh kuat terhadap pemerintahan Taliban. Tentu saja dengan tujuan memaksa Osama keluar dari persembunyiannya dan membawanya ke pengadilan di Amerika.

Kebijakan ini diambil setelah asisten menteri luar negeri urusan Asia Selatan, Karl Inderfurth berhasil mencapai kesepakatan dengan wakil Menlu Rusia, Grigory Karasin di Moskow.

Dalam pernyataan bersama ini, Inderfurth menandaskan bahwa “AS dan Rusia akan terus merasa prihatin atas konfrontasi militer yang berkepanjangan di Afghanistan yang akan terus melahirkan ancaman serius dan berkelanjutan terhadap keamanan dan perdamaian regional dan internasional.” Maka, delegasi mengimbau Afghanistan untuk pertama, komit dengan dialog damai. Kedua, menghargai hak asasi manusia. Ketiga, mengusir semua teroris dan bumi Afghanistan. Terakhir, secara khusus Taliban harus mau mengusir Osama bin Laden dan semua jaringannya serta membawa mereka ke meja hijau.

Mereka juga dituntut untuk mengakhiri pembudidayaan tanaman untuk bahan heroin dan mencegah penyelundupannya. Imbauan yang represif ini ditawarkan AS dengan imbalan bahwa AS akan bersedia bekerja sama dengan komunitas internasional untuk mengupayakan perdamaian di Afghanistan. Ini bagian dan realisasi upaya tekanan diplomatik AS.

Osama yang kehilangan kewarganegaraan Saudi-nya pada tahun 1994, selaln saja menjadi beban bagi tuan rnmah karena komitmen AS untuk memburunya di mana pun dia berada. Sudan yang tidak kuat menanggung tekanan AS dan Saudi, akhirnya menganjurkan Osama untuk keluar dan negeri yang terkena embargo PBB dan AS ini .

Kedatangan Osama untuk kedna kalinya ke Afghanistan pada Mei 1996 bukan untuk berjihad melawan tentara Beruang Merah, namun melawan aliansi Salibis-Yahudi. “Setiap orang Amerika adalah musuh bagi kami,” tegas Osama kepada stasiun televisi Qatar, Al-Jazeerah, 11 Juni 1999 lalu.
Beban Taliban

Kedatangan Osama semakin memperberat beban Taliban dan membuatnya berada dalam posisi yang sangat dilematis. Bagi Taliban, Osama adalah tamu terhormat yang telah bertahun-tahun bahu-membahu dengan bangsa Afghanistan berjihad mengusir tentara Merah. Pada sisi yang lain, Taliban memerlukan legitimasi dunia internasional sebagai penguasa resmi karena sampai saat ini baru Pakistan, Arab Saudi, dan Emirat Arab yang telah niengakui pemerintahannya.

Berbagai sanksi dijatuhkan oleh AS atas Taliban. Dewan keamanan PBB mengeluarkan resolusi mendesak Taliban untuk tidak memberikan “istana” kepada teroris internasional. Dan, bahkan pada tanggal 6 Juli 1999, AS telah menjatuhkan sanksi ekonomi atas Taliban. Sampai di mana efektivitas sanksi belum diketahui secara pasti. Namun, Taliban juga menganjurkan kepada rakyat untuk tidak membeli barang apa saja yang berbau Amerika.

Kalau dianggap bahwa Afghanistan dirugikan dengan tekanan ekonomi ini, toh rakyat
nya sudah terbiasa dengan hidup pas-pasan. Yang jelas, Taliban terus melakukan tindakan ekspansif dan ofensif besar-besaran terhadap kekuatan Aliansi Utara yang dikomandoi Ahmad Syah Masood.

Pada dasarnya, AS dan Taliban memang tidak bisa bertemu karena persepsi teroris menurut AS sangat bertolak belakang dengan persepsi Taliban.
Osama Diisukan Minggat

Bagi Taliban, Osama adalah pahlawan. Karenanya Taliban meminta bukti nyata AS, jika benar dia teroris. Satu permintaan yang sampai saat ini belum juga dipenuhi AS. Bagi Taliban, dalam pernyataan hari Selasa, 9 Februari 1999, “Osama bebas meninggalkan Afghanistan, tetapi dia tidak akan pernah diusir.” Jubir Taliban, Abdul Mutmaen, mengatakan kepada kantor berita di Islamabad bahwa “Osama bin Laden dapat meninggalkan Afghanistan kalau memang mau dan kami tidak berkeberatan sama sekali. Tetapi Taliban sekali lagi tidak akan memaksa dia keluar.”

Pada 13 Maret 1999, beban yang dirasakan oleh Taliban mengusik Osama untuk meninggalkan persembunyiannya. Dan, menurut pengakuan Taliban, “Kami tidak tahu-menahu ke mana Osama pergi bersama sepuluh orang agen yang ditugaskan sebagai pelindung sekaligus mata-mata,” tegas Wakil Ahmad Muttawakil, jubir pimpinan tertinggi Taliban, Mulla Muhammad Omar. Menurut analis, Osama hanya berpindah lebih kurang 50 mil ke tempat yang relatif aman di wilayah Islam, Dar. Tempat ini kelihatannya cocok bagi Osama untuk bernostalgia mengenang hari-hari menjelang keruntuhan Soviet. Persembunyian yang baru ini penuh dengan gua-gua dan barak-barak bebatuan yang dulu dipakai Mujahidin melawan pasukan Soviet. Wilayah diapit oleh Pegunungan Syaikh Hazrat, tempat yang dilindungi oleh ranjau-ranjau darat yang hanya bisa dilewati dengan jalan setapak.

Selain informasi itu, ada rumor bahwa kemungkinan Osama hengkang ke Irak, karena Irak menawari Osama suaka politik. Menurut info ini Osama telah melintasi Torghundi, perbatasan Pakistan-Iran di Provinsi Herat, baru kemudian ke Irak.

Menurut para analis, adalah upaya Taliban untuk mendapatkan dukungan dan pengakuan internasional karena saat itu Taliban sudah mengnasai 90% wilayah Afghanistan. Tetapi ada versi lain berbau menggelitik di harian Al-Quds Al-Arabia yang berbasis di London bahwa Osama pergi karena dia merasa terhina oleh Mulla Muhammad Omar yang membiarkannya kedinginan di markas lebih kurang 2 jam saat hari raya Idul Fitri. Sumber lebih jauh menandaskan bahwa, “Seorang Arab sejati tidak akan mentoleransi penghinaan atau pelecehan dan siapa pun. Lebih baik mati daripada hidup terhina. Mungkin itu yang menjadi sebab utama Osama meninggalkan Afghanistan,” ujar Abdul Bani Atwan, editor harian ini .

Bagaimanapun alasan Taliban, yang jelas menurut AS, Osama masih berada di Afghanistan. Ada alasan mendasar bahwa “ini yang menjadi masalah … Barat tidak mempercayai kami dan kami tidak mempercayai Barat,” jelas Haji Fazle Mohammad, jubir Kemlu Taliban.

Ketidaktahuan Taliban dianggap sebagai upaya dan taktik mereka untuk menghindari Osama, sang tertuduh. Bagaimanapun alasannya, Amerika tetap mencari dan memonitor jaringan Al-Qaeda 24 jam sehari. Kelihatannya proses operasi penjaringan Osama sudah sampai ke titik fase final. Indikasi itu terlihat dan konsultasi pejabat tinggi AS dengan Kepala Menteri Provinsi Punjab, Shahbaz Sharif sehubungan dengan kemungkinan peluncuran serangan baru ke persembunyian Osama.

Dalam hal ini, AS meminta Pakistan untuk bekerja sama, sebagaimana dapat dibaca dan pertemuan antara Bill Clinton dan Nawaz Sharif di Washington pada 4 Juli 1999 guna menyelesaikan ketegangan antara Pakistan dan India di Kargil, dan Osama menjadi bagian dan agenda Clinton. Menurut Masood Haider, karena Pakistan dapat berperan banyak dalam hal ini, terutama bila teritorinya harus dipergunakan dalam penyerangan susulan terhadap Osama.
Rumor Pendaratan Komando AS

Rumor penyerangan menyebar di Pakistan dan bahkan pesawat tempur AS telah mendarat di Islamabad, dan mesti membawa misi menyerang Afghanistan, ungkap perwakilan Taliban di Abu Dhabi. Menurut kantor berita Reuters, stasiun televisi Qatar, Al-Jazeerah, memberitakan pendaratan dua pesawat tempur AS hari Ahad di pangkalau udara Pakistan dengan lusinan tentara komando yang disiagakan untuk menyerang basis Osama bin Laden.

Dan, menurut versi harian The Nation, pada Jumat 23 Juli 1999, Radio Teheran memonitor kontingen pasukan komando khusus AS mendarat di lapangan udara Peshawar pada malam Rabu guna menjaring Osama. Konon, setelah bertemu dengan pemerintah setempat, mereka meninggalkan Peshawar dengan pesawat khusus menuju kota Dera Ismael Khan, lalu mendarat di wilayah selatan Waziristan yang berbatasan dengan bagian timur Afghanistan. Setelah dikonfirmasi, ternyata tak satu pihak pun yang menjustifikasi pendaratan pasukan komando AS ini, baik Deplu AS maupun petinggi militer Pakistan. “Sepanjang yang saya ketahui, itu tidak ada,” tegas pejabat senior Deplu AS. Dan, ketika wartawan The News mengkonfirmasi rumor ini ke jubir militer Pakistan, dia mengatakan “Tidak ada pesawat AS mendarat hari di pangkalau udara militer Chaldala.”

Kalau serangan susulan memang akan terjadi, toh Taliban dan rakyat Afghanistan sudah siap untuk itu, sebagaimana diungkap oleh Wakil Ahmed Muttawakil, jubir Mulla Muhammad Omar dengan nada bangga bercampur pesimistis, “Serangan AS bukan hal yang aneh … itu semua memang sudah nasib kami harus diserang oleh setiap orang.”

Selain ada kekhawatiran pada sebagian rakyat Afghanistan, mayoritas dan mereka merasa bangga karena Osama telah mengangkat semangat juang bangsa ini. Sejarah telah membuktikan semangat patriotisme mereka yang berhasil merobohkan benteng dan mitos keperkasaan negara adidaya. Dan, sekarang, ancaman AS untuk menyerang negeri ini mereka sambut dengan sukacita selayaknya seorang tamu agung. “Dulu Soviet kami kalahkan dan sekarang giliran AS merasakannya,” ujar pembesar Taliban.

Namun, ketika dikonfirmasi kepada Pangab AS, Jenderal Henry IA. Shelton, dia mengatakan, “Kami akan jaring dia dengan segala cara yang tepat,” tandasnya. Dan tampak dari penangkapan Shadiq Ahmad yang mengaku sebagai suruhan Pangeran Salman bin Abdel Aziz, saudara Raja Fahd yang mengepalai dinas intelijen Arab Saudi, dengan iming-iming kewarganegaraan plus satu juta real.

Dalam hal ini, kelihatannya Saudi banyak sekali berperan karena Osama, milioner dengan aset sekitar 300 sampai 500 juta dolar, dituduh memprovokasi rakyat untuk menggulingkan singgasana kerajaan Bani Saud di jazirah Arab. Termasuk pembujukan Salman bin Abdul Aziz kepada Mulla Muhammad Omar yang konon menyetujui permintaan Saudi agar Osama diekstradisi ke Saudi. Namun, kesepakatan gagal total setelah penghujanan Khost dengan 80 rudal oleh Amerika.

Bagaimanapun, ini disangkal oleh Mulla Omar. Bukan hanya itu, pada Kamis 8 Agustus 1999, dia juga menyangkal tuduhan AS bahwa Osama punya tempat pelatihan terorisme di sana dan sekali lagi tidak akan menyerahkan Osama ke aliansi Salibis-Yahudi dan para anteknya. “Bin Laden tidak punya tempat pelatihan militer di bumi Afghanistan,” ujar Muttawakil, jubir senior Taliban. Dia berkali-kali menyatakan bahwa semua aktivitas Osama distop karena semakin kuatnya tekanan Amerika dan kemungkinan serangan mereka. Memang, jasa dan budi baik Osama tidak disia-siakan atau dikhianati oleh Taliban. Osama telah mengorbankan jiwa raga dan hartanya berjihad di front terdepan mengusir tentara merah Soviet. Menurut tuduhan para oposisi, ekspansi Taliban terakhir ke daerah Lembah Pansher, markas Syah Masood, juga diperkuat oleh brigade 055 pasukan Osama dengan kekuatan lebih kurang 500 pasukan tangkas dan pemberani.
Simpati Pembesar Agama Bermunculan

Rumor serangan atas Osama yang santer di hampir seluruh penjurn dunia, sampai detik ini belum kunjung dilakukan AS. Prediksi bahwa seranga
n akan dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 1999 terbukti tidak terjadi. mungkin ini menurut para agen CIA dan FBI belum saatnya dan kurang tepat. Dan, ini beralasan. Di tengah rumor yang terjadi, berbagai kalaugan agamawan garis keras terus menggalang massa untuk merapikan barisan, menentang, dan menghadang kemungkinan serangan. Pimpinan Jamiat-e-Ulema Islam (JUI) Maulana Fazlur Rahman pada Sabtu, 7 Agustus 1999, menyeru kepada segenap rakyat Pakistan untuk membunuh siapa saja orang Amerika yang ada di tanah Pakistan dan agen spionasenya di kawasan Tribal, kalau memang Pakistan dimanfaatkan untuk menyerang Osama dan Taliban. Maulana Fazlur Rahman minta kepada AS untuk menghentikan rencana penyerangan kalau tidak mau melihat rakyatnya bersimbah darah.

Belum lagi pimpinan Jamaat-ul-Islami (JI Sami) Maulana Ajmal Qadri pada Senin 9 Agustus 1999 berkata, “Kalau AS benar menyerang Afghanistan dengan alasan Osama bin Laden, maka secara praktis anggota partainya akan bereaksi dan membalas serangan itu di Washington dalam tempo delapan jam saja.” Dan, bukan hanya gertak sambal karena memang JI Sami punya anggota terlatih secara militer lebih kurang tiga ratus ribuan orang. Maulana Fazlur Rahman dan Ajmal Qadri tidak hanya kampanye di satu tempat. Di Islamabad pada tanggal 13 Agustus 1999, Maulana Fazlur Rahman berkampanye dengan motto “Down with America”, mengancam pemerintah Nawaz Sharif bila bekerja sama dalam penyerangan.

Maulana Fazlur Rahman tampak mati-matian berupaya menghentikan rencana serangan ini karena dia turut membidani kelahiran jabang bayi Taliban dan memeliharanya hingga menjadi besar. Ancaman Maulana-maulana ini membuat AS mundur sekian langkah, dan berupaya membujuk mereka menarik kembali seruannya. Para diplomat AS di Pakistan spontan kehilangan nyali dan berupaya meredakan keadaan. Namun, Maulana Fazal tetap tidak menoleransi serangan apa pun dan bersumpah tidak akan menyisakan satu warga Amerika pun di wilayah ini .

Terang saja AS protes berat atas ucapan Maulana ini yang dilayangkan saat pertemuan antar pejabat kedutaan AS Islamabad dengan Maulana. Maulana meminta, kalau memang AS tidak akan menyerang Osama dan Taliban, pemerintah AS memberi jaminan kepada Taliban. “Kalau Amerika minta solusi politis, kami siap. Kalau meminta penyelesaian diplomatik, kami sepakat dengan Anda. Tetapi kalau Amerika ingin penyelesaian dengan darah, jawaban kami tentu juga dengan darah,” tegas Manlana Fazal menggertak. “Saya sampaikan kepada diplomat AS, kalau Amerika tidak membiarkan kami hidup aman, bagaimana mungkin mereka mengharapkan kedamaian hidup di sini,” pesan Maulana mengancam.

Ancaman ini cukup efektif untuk membungkam serangan AS dan membuat Amerika harus mencari solusi terbaik, kalau tidak mau kerugian lebih besar jatuh di pihaknya. Wajar saja Kepala Jaksa Agung AS, Janet Reno, mengingatkan Madeleine AIbright untuk tidak mudah menyerang Afghanistan tanpa bukti kuat karena akan menjadi bumerang. Belum lagi pernyataan Menteri Dalam Negeri Saudi, Pangeran Nayef yang cukup memukul AS, bahwa kerajaan Saudi membebaskan Osama (41 tahun), yang konon masih aktif menunggang kuda, dan semua tuduhan keterlibatan aktivitas terorisme.

Amerika terlihat kewalahan, berbagai cara diupayakan termasuk pembekuan semua aset Osama. Tetapi karena hampir semuanya dalam bentuk joint venture dengan perusahaan Eropa dan Afrika yang tidak mempergunakan dolar, sulit bagi kementerian kenangan AS untuk melacaknya.

Namun, AS memiliki beberapa alternatif lain untuk menangkap Osama. Di antaranya dengan mempersenjatai Taliban moderat dengan tujuan menumbangkan Mulla Muhammad Omar, sebagaimana disarankan oleh Yayasan Afghanistan yang berbasis di Washington.
Jalan Pintas

Peristiwa pemboman rumah kediaman Mulla Omar, Selasa malam 24 Agustus 1999 di kota Kandahar yang menewaskan 10 orang (6 tentara Taliban dan 4 pejalan kaki) serta 60 yang terluka, merupakan upaya menggeser Mulla Omar secara paksa. Ini beralasan karena Mulla Omar menjalin hubungan yang erat dengan Osama sehingga mustahil baginya untuk mengusir atau mengekstradisinya. Meskipun Taliban tidak secara terang-terangan menuding AS berada di belakang pemboman ini, narasi bait-bait pemburuan Osama baru-baru ini menyebabkan AS-lah yang tertuduh. Mulla Omar tetap mengklaim bahwa ini adalah upaya konspirasi mnsuh-musuh Islam.
Sanksi Dewan Keamanan PBB

Konsistensi Mulla Omar untuk tetap melindungi Osama membuat Amerika kewalahan. Kalau saja Mulla mau bekerja sama, kasus Osama sudah dapat diselesaikan dengan tidak menjatuhkan banyak korban di pihak Amerika. Dan, ini yang paling efektif untuk mencegah amukan massa simpatisan Osama yang malah akan menjadi kontra-produktif

Yang paling anyar adalah resolusi Dewan Keamanan PBB (DK-PBB) pada hari Jumat 15 Oktober untuk menjatuhkan sanksi pelarangan terbang maskapai Ariana Airlines milik Afghanistan ke semua negara anggota PBB, ditambah lagi dengan pembekuan seluruh asetnya, meskipun tetap diizinkan penerbangannya untuk keperluan bantuan kemanusiaan dan ibadah haji. Sanksi ini akan diberlakukan jika Taliban tidak mau berkompromi menyerahkan atau mengusir Osama sampai tanggal 14 November. Menurut koordinator bantuan kemanusiaan PBB, Erick de Mul, kepada BBC, keputusan ini sangat tidak rasional dan perlu dipertanyakan motif politis di balik resolusi tersebut karena akan semakin memperparah keadaan rakyat yang sudah sekian dekade dilanda perang dan kesengsaraan.

Namun, PBB sudah mantap dengan resolnsinya. Di tengah ancaman sanksi DK-PBB, Kepala Badan Anti-Terorisme di Deplu AS, Michael Shan, menyatakan bahwa dia dan pejabat AS lainnya sudah siap bernegosiasi dengan Taliban dalam isu Osama. Di dalam statemennya di siaran Radio Suara Amerika dia menyatakan, “Kami menginginkan dia datang ke AS dan diadili dengan tuduhan keterlibatan terorisme bersama para koleganya. Kalau memang ini tidak mungkin, masih ada alternatif penyelesaian dan dia dapat diekstradisi ke negara lain. Kami menghendaki dia dimejahijaukan dengan berbagai tuduhan, khususnya pemboman kedutaan besar AS di Afrika Timur,” tegasnya. Kemungkinan negosiasi dan kompromi Taliban ini juga ditegaskan oleh Menpenbud Amir Klian Muttaqi, sekarang di Departemen Urusan Administrasi, bahwa “Untuk solusi kasus Osama, Emirat Islam Afghanistan siap untuk berdialog dengan AS,” tegasnya pada 23 Oktober 1999.

Pelbagai tekanan terhadap Taliban akan semakin mengucilkan pemerintahan yang sudah 95% menguasai wilayah Afghanistan ini. Isolasi dan derita rakyat tak berdosa yang akan terus meningkat mungkin menjadi motivasi Osama untuk melayangkan surat pribadi kepada Mulla Muhammad Omar pada Jumat, 28 Oktober 1999, di samping kemungkinan kompromi Taliban dalam pengekstradisian Bin Laden. Osama menyatakan tawarannya tentang kemungkinan untuk meninggalkan negara yang dituduh sebagai “Universitas Teroris” ini dan meminta Taliban untuk mencarikan persembunyian baru serta merahasiakannya. Tampaknya, Bin Laden mengkhawatirkan kesetiaan Taliban.

Namun, hal ini dapat diredam setelah Mulla mempertanyakan apakah Osama sudah mantap untuk meninggalkan negara ini atau hanya karena khawatir akan kesetiaan Taliban. Sebagaimana dinngkapkan oleh Kepala Deppen Taliban, Mulla Abdul Hye Mutmain, Mulla Omar di dalam suratnya meminta Bin Laden untuk tenang dan meyakinkannya bahwa Taliban tidak akan mengusir atau menyerahkan dia kepada negara lain. Mulla Omar juga menambahkan bahwa “kalau memang Osama sudah mantap untuk pergi, Taliban akan mengulurkan bantuan. Adapun untuk mencarikan negara yang dapat melindungi Osama, itu bukan tanggungjawab dan tugas Taliban,” tandas Mulla.

Mulla berupaya meyakinkan rakyatnya di tengah tuduhan yang tertuju kepadanya karena melindungi satu orang rakyat harus menderita. Menurut Mulla Omar, ini bagian dan konsekuensi seorang Muslim yang ingin benar-benar menerapkan ajaran Islam. Seorang Muslim harus melindungi
saudara Muslim lainnya yang dalam keadaan bahaya dan meminta perlindungan. Bagi Taliban, tidak ada satu pun kekuatan dunia ini yang dapat menekan bangsa lain. “Kalau ada orang yang memaksakan kehendaknya kepada rakyat Afghanistan, sejarah tanah ini menjadi saksi bahwa rakyat Afghanistan tidak pernah berkompromi dalam hal-hal prinsip dan tradisi,” tegas Mulla Amir Khan yang baru diangkat di Departemen Urusan Administrasi.
Konsistensi Osama

Konsistensi permusuhan Osama dengan aliansi Salibis-Yahudi dan komitmen Amerika untuk membekuknya dengan segala cara telah melahirkan simpati luar biasa dan berbagai penjuru Dunia Islam.

Di Pakistan, terutama di Peshawar, provinsi yang berbatasan dengan Afghanistan, ratusan lembar poster Osama laris terjual per harinya dan dengan seketika dia menjadi idola sekaligus pahlawan. Maulana Fazal terus saja maraton berkampanye “Death with America” di berbagai tempat termasuk di wilayah legal senjata api.

Manuver Fazal ini benar-benar mengkhawatirkan pemerintahan Nawaz. Akhirnya dia dilarang masuk ke wilayah kabilah di provinsi perbatasan yang berbatasan dengan Afghanistan. Karena menolak, pada Jumat 3 September 1999, dia ditangkap dan dikenai tahanan rumah di Chasma. Maulana ini dibebaskan setelah pemerintah diultimatum oleh anggota partai untuk membebaskannya dalam 24 jam. Kalau tidak, akan ada protes di setiap provinsi. Tentu saja pemerintah tidak mau mengambil risiko yang lebih berat sehingga terpaksa membebaskannya pada Ahad, 5 September 1999.

Betapa menakjubkan kepribadian Osama sehingga banyak yang menaruh simpati dan mendukung. “Dia menjadi pemimpin karismatik seperti Ayatnllah Ruhollah Khomeini,” ucap Kenneth Katzman, analis masalah Timur Tengah dan ahli terorisme di Congressional Research Service.

Osama bukanlah seperti Ramzi Yousef, yang dituduh otak pemboman WTC New York atau Amil Kanzi, tertuduh penembak dua agen CIA di Langley, yang keduanya tertangkap di Pakistan. “Dan ini yang paling mengkhawatirkan saya, Osama merupakan satu-satunya Muslim saat ini yang memangku persepsi yang maksimal: Pan-Islamis dan pandangan solid, tidak ada kompromi dengan Israel, tidak ada kompromi dengan AS, dan tidak ada kompromi dengan Mesir,” ungkap Kenneth memuji dengan penuh kekhawatiran.

Kalau memang Osama dapat ditangkap oleh AS, dia telah menjadi icon resistensi Muslim terhadap arogansi aliansi Salibis-Yahudi. Osama seperti legenda dan mitos. Dia menjelma sebagai seorang ideolog yang berani, yang dipuji dan dibenci.

Pemburuan yang Tidak Menyelesaikan Masalah

Pada bulan April 1991, Bin Laden hengkang dari Saudi dan setahun kemudian (1992) dia berada di Khartoum sebagai protes terhadap AS yang pernah menjadi mentornya saat jihad mengusir Soviet. Melalui koneksi Bin Laden dan institusi yang ada di London, dia terus menuntut untuk melakukan perubahan radikal di Arab Saudi. Sebagai balasannya, pada tahun 1994 Kerajaan Saudi mencabut kewarganegaraannya.

Pada 1996, dengan bantuan AS, Saudi berhasil menekan Sudan untuk mengusir Bin Laden dan akhirnya dia kembali ke Afghanistan. Sampai saat itu, Osama belum secara terbuka menantang AS, kecuali setelah pendeklarasian Jihad pada 23 Agustus 1996. Osama mengajak seluruh kaum Muslim untuk membunuh orang Amerika yang menjajah tanah Arab Saudi dan berfatwa:

“Tembok-tembok penindasan dan kehinaan, tidak dapat dihancurkan kecuali dengan hujanan peluru,” tegas Osama dengan tegar.

Dan, pada Februari 1998, Osama lebih jauh lagi mengajak seluruh kaum Muslim untuk menyerang apa saja kepentingan Amerika di seluruh dunia. Osama memprakarsai pembentukan Front Jihad Islam Internasional (International Islamic Front for Jihad) melawan aliansi Salibis-Yahudi. Seruan ini yang dituduhkan AS sebagai pemicu peledakan dua kedutaan besar Amerika di Kenya dan Tanzania, 7 Agustus 1998.

Madeleine Albright, Menlu AS, langsung mengumumkan Osama sebagai tertuduh utama di belakang peledakan di Nairobi yang menelan korban 224 meninggal dan peledakan di kota Daressalam dengan 11 meninggal dan 70 luka.

Pada 2 Juni 1999, Mary Jo White, jaksa AS wilayah bagian selatan New York dan Lewis Schiliro, pejabat asisten direktur FBI New York, sepakat mengajukan tuduhan tambahan kepada semua terdakwa walaupun belum mencantumkan tanggal persidangan kasus ini.

Yang jelas, dua orang langsung dituding. Dr. Ayman Al-Zawahiri, kaki tangan Osama, dan Khaled Al-Fawwaz. Tuduhan ini mendakwa Dr. Zawahiri sebagai pemimpin organisasi jihad di Mesir yang bekerja sama dengan “Al-Qaeda” pimpinan Osama bin Laden untuk memburu orang Amerika. Sementara Fawwaz didakwa berkonspirasi untuk membnnuh warga Amerika di luar AS. Dan, pada 4 Agustus 1999, lembaran fakta dibeberkan dengan mendakwa 16 orang termasuk Osama. Mereka itu adalah:
Osama Bin Laden.
Muhammad Atef
Dr. Ayman Al-Zawahiri.
Khaled Al-Fawwaz. Wadih el-Hage.
Mohammed Sadeek Odeh.
Mohammed Rashed Daoud Al-Owhali.
Mamdouh Mahmud Salim.
Mustafa Mohammed Fadhil.
Kahlfan Khamis Mohammed.
Ahmed Khalfan Hailani.
Fahid Mohammed Aly Salam.
SyaiTh Ahmed Salim Swedan.
Ali Mohammed.
Adel Mohammed Abdul Almagid Bary.
Ibrahim Hussein Abdelhadi Eidarons.

Lima dan tersangka di atas sudah mendekam di tahanan AS; satu di Inggris. El-Hage dan Ali Mohammed tertangkap di AS. Odeh dan Al-Owhali tertangkap di Kenya dan dibawa ke AS. Tertuduh kelima, Salim, tertangkap di Jerman bulan September 1999 dan akan diekstradisi ke AS bulan Desember 1999. Khalid Al-Fawwaz ditangkap di Inggris dan akan diekstradisi ke AS. Sementara sepulnh lainnya masih buronan termasuk Osama bin Laden. Sejak Juni 1999, Osama menjadi orang pertama dalam urutan yang dicari oleh FBI dengan 5 juta dolar imbalan untuk informasi penangkapan.

Terlepas dan semua yang dituduhkan, masih ada orang yang berani mempertanyakan validitas tuduhan itu. Artikel di The New York Times, “Kasus AS Melawan Bin Laden dalam Pemboman Hanya Berdasarkan Ide” dengan tegas menyatakan invaliditasnya. Artikel mempertanyakan sejauh mana legalitas tuduhan itu. Hal serupa juga diangkat oleh Washington Post bahwa tuduhan terhadap Osama hanyalah berdasarkan gosip atau bukti tidak langsung.

Bagi Samiullah Koreshi (Pakistan Observer, 9 Agustus 1999), akal sehat dan indra yang normal akan sulit menerima semua tuduhan keterlibatan Osama dalam setiap aksi dan Chechnya, Sudan, Kenya, Yaman, sampai Filipina. Dan, ini, menurut Tim Weiner di The New York, merupakan salah satu masalah besar dan paling kompleks dalam sejarah investigasi kriminal internasional Amerika.

Bagi pejabat Amerika, penangkapan Osama bisa menambah komplikasi permasalahan. Mereka berkeyakinan bahwa bukti pertama yang dipergunakan dalam mahkamah nanti akan sulit melacak keterlibatan dia dalam peristiwa pemboman. Menurut catatan, tidak ada satu pun informan yang terlibat dalam kasus ini tahu persis keterlibatan Osama.

Jadi, sampai saat ini, para hakim penuntut kelihatannya hanya menggiring Osama dengan implikasi “fatwa dan ide.” Menurut mereka, fatwa yang didengungkan dan Afghanistan ini telah memancing kekerasan dan aksi terorisme di belahan dunia lain. “Tugas saya hanya menyeru dan, dengan rahmat Allah, kami berhasil. Beberapa orang menanggapi seruan itu,” respons Osama dengan santai kepada majalah Time, 1/11/1999.

Mungkin karena kompleksitas investigasi kasus Bin Laden ini yang membuat Amerika kewalahan. Hingga saat ini Amerika belum kunjung bersedia menyerahkan bukti-bukti keterlibatan Osama dalam berbagai aksi terorisme internasional. Kalau memang AS punya bukti, lantas kenapa tidak diserahkan ke Taliban? Alasannya, karena menghindari interpretasi pengakuan terhadap Taliban dan untuk menjaga kerahasiaan sumber informasi. Namun, secara faktual, menur
ut Dr. Ijaz Hussain, kepala departemen HI Quaid Azam Universitas Islamabad, alasan itu hanya dibuat-buat untuk lari dari kenyataan apologis atas aksi militer AS yang memang ilegal dan tidak bisa dibenarkan sama sekali.

Sebenarnya, kalau mau fair, AS dapat menerima tawaran pengadilan Osama secara Islam oleh Taliban. Tawaran ini ditolak AS dengan aasan tidak sekular dan bertentangan dengan nilai-nilai Amerika. Namun, bukankah prinsip umum hukum internasional menyatakan bahwa kriminal yang dicari dapat diekstradisi atau diadili oleh negara yang melindunginya?

Selama Taliban bersedia mengadili Osama di Afghanistan, hendaknya AS dapat mengulurkan bantuan dan bukti-bukti. Persidangan akan dilakukan secara terbuka dan diliput secara internasional.

Kalau memang Taliban tidak bersedia dengan persyaratan ini, maka AS akan punya alasan untuk menekan dan bahkan memberi pelajaran kepada Taliban. Menurut Dr. Ijaz, mengutuk sistem pengadilan dengan ini dan itu, sementara tidak pernah melakukan pengadilan secara fair dan transparan terhadap “ekstremis” Islam, tidak hanya bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan dan hukum internasional, namun juga berbau imperialisme budaya.

Kalau memang AS tetap bersikeras untuk mengejar Osama dengan cara militer dan sukses membunuh atau menculiknya, belum akan menyelesaikan masalah dasar terorisme. Dan, bahkan, menurut Dr. Ijaz, merupakan proses penyemaian permusuhan yang lebih “semarak” dan pemuda Islam internasional. “Kalau memang kami belum mampu membalas Amerika semasa hidup kami, biarkan Osama-Osama muda yang memberi pelajaran,” ujar Abdel Aziz, 43 tahun, simpatisan asal Pakistan yang menamai bayi laki-lakinya, Osama.

Osama bin Laden Mujahid atau Teroris?

Menurut majalah News Week vol. 133, Osama adalah orang Muslim yang taat, kaya, berbakat, karismatis, dan cakap. Osama sama sekali tidak mempunyai kesan angker dan arogan, tetapi sebaliknya, sopan dan lembut. Namun, mengapa dalam potret Amerika Osama adalah teroris kelas kakap yang paling berbahaya?

Menurut Osama dalam wawancara dengan The National, 5 Januari 1999, seluruh Dunia Islam sedang dieksploitasi aliansi Salibis-Yahudi. Lihat Pakistan, dia di bawah tekanan kuat mereka secara ekonomis dan politis. Afghanistan, Iran, Irak, Suriah, Palestina, Lebanon, Sudan, Somalia, Libia, Mesir, dan negara-negara Teluk termasuk Saudi, semuanya di bawah tekanan konspiratif aliansi ini. Dan, status quo seperti ini akan terus dipertahankan, agar Islam tetap tersubordinasi, ini hanya perpanjangan perang salib.

Dalam wawancara dengan harian Palestina bulan November 1996, Osama benar-benar mengeluhkan perlakuan kerajaan Saudi terhadap intelektual Muslim: “Memecat mereka dari pos-pos di berbagai universitas dan masjid di kerajaan ini, bahkan melarang peredaran kaset-kaset mereka, melarang ceramah-ceramah mereka yang hanya memberi nasihat mana yang baik dan mana yang buruk.” Ini yang membuat Osama benar-benar membenci apa saja yang berbau Amerika karena mereka telah berhasil membentengi dan mendikte kerajaan Saudi dengan tujuan eksploitasi harta negara dan mempertahankan eksistensi 500 ribu tentara AS di Jazirah Arab ini.

Bagi Osama, AS datang bukan untuk mempromosikan demokrasi di dunia Arab dan mendukung perlawanan bangsa Palestina menentang pendudukan Israel, bahkan sebaliknya berkonspirasi menggerogoti oposisi terhadap penguasa Arab dan melindungi Israel.

Dari persepsi ini, Osama akhirnya mendeklarasikan jihad menentang aliansi dan konspirasi Salibis-Yahudi. Prioritasnya adalah membebaskan Al-Haramain dan Al-Quds. Kalau memang aliansi tidak mau keluar secara sukarela dari tanah Arab, “Amerika akan meninggalkan Timur Tengah apabila semua tentara dan rakyatnya dikirim pulang dalam peti mati. Begitulah keadaannya saat Anda akan hengkang,” ucap Osama menggertak dalam wawancara ABC “Nightline.”

Komitmen dan konsistensi oposisinya yang menjadi pelatuk simpati dan berbagai belahan bumi Islam. Sebagaimana diakui oleh pejabat senior Amerika yang memantau aktivitas Osama baik di Afghanistan, Sudan, maupun di mana saja, “Dia mendapat dukungan kuat di kalangan rakyat biasa di Dunia Islam hanya dengan argumen politik sentralnya: tentara Amerika harus keluar dari Arab Saudi.” Dan, esensi seruannya yang berkali-kali diucapkan dalam setiap wawancara.

Menurut Osama, agenda besar konspirasi adalah memecah-belah umat Islam dan ini yang harus kami lawan. “Jihad adalah bagian dari agama Islam. PLO melepas senjata dan mendapat kekuasaan Palestina. Namun, apa yang telah Yahudi berikan? Sampai sekarang Israel tidak pernah memberikan 1% pun dari hak-hak Palestina,” ujar Osama dalam wawancara denganYusufzai, di majalah Time.

Menurut Osama, sangat keliru menuduh dia terlibat dalam pelbagai aktivitas terorisme. “Tuduhan Amerika itu tidak benar, kecuali kalau memang mereka kaitkan peristiwa itu dengan seruan saya. ini jelas dan saya akui itu. Saya termasuk salah seorang yang menandatangani fatwa dan mengajak mengobarkan jihad,” tegasnya membela.

Osama bereaksi dalam upaya membebaskan diri dan Dunia Islam dari hanya yang diyakininya sebagai konspirasi besar Salibis-Yahudi, lain tidak.

Dan, kalau memang keyakinannya sebagai seorang Muslim untuk membela diri dan menerapkan ajaran Islam dianggap sebagai sebuah tindakan kriminal, maka Osama menyatakan, “Kalau memang mengobarkan jihad melawan Yahudi dan Amerika untuk membebaskan Al-Aqsa dan Ka’bah dianggap sebuah tindakan kriminal, biarkan sejarah menjadi saksi bahwa saya adalah kriminal.”

Pemburuan yang Tidak Menyelesaikan Masalah

Pada bulan April 1991, Bin Laden hengkang dari Saudi dan setahun kemudian (1992) dia berada di Khartoum sebagai protes terhadap AS yang pernah menjadi mentornya saat jihad mengusir Soviet. Melalui koneksi Bin Laden dan institusi yang ada di London, dia terus menuntut untuk melakukan perubahan radikal di Arab Saudi. Sebagai balasannya, pada tahun 1994 Kerajaan Saudi mencabut kewarganegaraannya.

Pada 1996, dengan bantuan AS, Saudi berhasil menekan Sudan untuk mengusir Bin Laden dan akhirnya dia kembali ke Afghanistan. Sampai saat itu, Osama belum secara terbuka menantang AS, kecuali setelah pendeklarasian Jihad pada 23 Agustus 1996. Osama mengajak seluruh kaum Muslim untuk membunuh orang Amerika yang menjajah tanah Arab Saudi dan berfatwa:

“Tembok-tembok penindasan dan kehinaan, tidak dapat dihancurkan kecuali dengan hujanan peluru,” tegas Osama dengan tegar.

Dan, pada Februari 1998, Osama lebih jauh lagi mengajak seluruh kaum Muslim untuk menyerang apa saja kepentingan Amerika di seluruh dunia. Osama memprakarsai pembentukan Front Jihad Islam Internasional (International Islamic Front for Jihad) melawan aliansi Salibis-Yahudi. Seruan ini yang dituduhkan AS sebagai pemicu peledakan dua kedutaan besar Amerika di Kenya dan Tanzania, 7 Agustus 1998.

Madeleine Albright, Menlu AS, langsung mengumumkan Osama sebagai tertuduh utama di belakang peledakan di Nairobi yang menelan korban 224 meninggal dan peledakan di kota Daressalam dengan 11 meninggal dan 70 luka.

Pada 2 Juni 1999, Mary Jo White, jaksa AS wilayah bagian selatan New York dan Lewis Schiliro, pejabat asisten direktur FBI New York, sepakat mengajukan tuduhan tambahan kepada semua terdakwa walaupun belum mencantumkan tanggal persidangan kasus ini.

Yang jelas, dua orang langsung dituding. Dr. Ayman Al-Zawahiri, kaki tangan Osama, dan Khaled Al-Fawwaz. Tuduhan ini mendakwa Dr. Zawahiri sebagai pemimpin organisasi jihad di Mesir yang bekerja sama dengan “Al-Qaeda” pimpinan Osama bin Laden untuk memburu orang Amerika. Sementara Fawwaz didakwa berkonspirasi untuk membnnuh warga Amerika di luar AS. Dan, pada 4 Agustu
s 1999, lembaran fakta dibeberkan dengan mendakwa 16 orang termasuk Osama. Mereka itu adalah:
Osama Bin Laden.
Muhammad Atef
Dr. Ayman Al-Zawahiri.
Khaled Al-Fawwaz. Wadih el-Hage.
Mohammed Sadeek Odeh.
Mohammed Rashed Daoud Al-Owhali.
Mamdouh Mahmud Salim.
Mustafa Mohammed Fadhil.
Kahlfan Khamis Mohammed.
Ahmed Khalfan Hailani.
Fahid Mohammed Aly Salam.
SyaiTh Ahmed Salim Swedan.
Ali Mohammed.
Adel Mohammed Abdul Almagid Bary.
Ibrahim Hussein Abdelhadi Eidarons.

Lima dan tersangka di atas sudah mendekam di tahanan AS; satu di Inggris. El-Hage dan Ali Mohammed tertangkap di AS. Odeh dan Al-Owhali tertangkap di Kenya dan dibawa ke AS. Tertuduh kelima, Salim, tertangkap di Jerman bulan September 1999 dan akan diekstradisi ke AS bulan Desember 1999. Khalid Al-Fawwaz ditangkap di Inggris dan akan diekstradisi ke AS. Sementara sepulnh lainnya masih buronan termasuk Osama bin Laden. Sejak Juni 1999, Osama menjadi orang pertama dalam urutan yang dicari oleh FBI dengan 5 juta dolar imbalan untuk informasi penangkapan.

Terlepas dan semua yang dituduhkan, masih ada orang yang berani mempertanyakan validitas tuduhan itu. Artikel di The New York Times, “Kasus AS Melawan Bin Laden dalam Pemboman Hanya Berdasarkan Ide” dengan tegas menyatakan invaliditasnya. Artikel mempertanyakan sejauh mana legalitas tuduhan itu. Hal serupa juga diangkat oleh Washington Post bahwa tuduhan terhadap Osama hanyalah berdasarkan gosip atau bukti tidak langsung.

Bagi Samiullah Koreshi (Pakistan Observer, 9 Agustus 1999), akal sehat dan indra yang normal akan sulit menerima semua tuduhan keterlibatan Osama dalam setiap aksi dan Chechnya, Sudan, Kenya, Yaman, sampai Filipina. Dan, ini, menurut Tim Weiner di The New York, merupakan salah satu masalah besar dan paling kompleks dalam sejarah investigasi kriminal internasional Amerika.

Bagi pejabat Amerika, penangkapan Osama bisa menambah komplikasi permasalahan. Mereka berkeyakinan bahwa bukti pertama yang dipergunakan dalam mahkamah nanti akan sulit melacak keterlibatan dia dalam peristiwa pemboman. Menurut catatan, tidak ada satu pun informan yang terlibat dalam kasus ini tahu persis keterlibatan Osama.

Jadi, sampai saat ini, para hakim penuntut kelihatannya hanya menggiring Osama dengan implikasi “fatwa dan ide.” Menurut mereka, fatwa yang didengungkan dan Afghanistan ini telah memancing kekerasan dan aksi terorisme di belahan dunia lain. “Tugas saya hanya menyeru dan, dengan rahmat Allah, kami berhasil. Beberapa orang menanggapi seruan itu,” respons Osama dengan santai kepada majalah Time, 1/11/1999.

Mungkin karena kompleksitas investigasi kasus Bin Laden ini yang membuat Amerika kewalahan. Hingga saat ini Amerika belum kunjung bersedia menyerahkan bukti-bukti keterlibatan Osama dalam berbagai aksi terorisme internasional. Kalau memang AS punya bukti, lantas kenapa tidak diserahkan ke Taliban? Alasannya, karena menghindari interpretasi pengakuan terhadap Taliban dan untuk menjaga kerahasiaan sumber informasi. Namun, secara faktual, menurut Dr. Ijaz Hussain, kepala departemen HI Quaid Azam Universitas Islamabad, alasan itu hanya dibuat-buat untuk lari dari kenyataan apologis atas aksi militer AS yang memang ilegal dan tidak bisa dibenarkan sama sekali.

Sebenarnya, kalau mau fair, AS dapat menerima tawaran pengadilan Osama secara Islam oleh Taliban. Tawaran ini ditolak AS dengan aasan tidak sekular dan bertentangan dengan nilai-nilai Amerika. Namun, bukankah prinsip umum hukum internasional menyatakan bahwa kriminal yang dicari dapat diekstradisi atau diadili oleh negara yang melindunginya?

Selama Taliban bersedia mengadili Osama di Afghanistan, hendaknya AS dapat mengulurkan bantuan dan bukti-bukti. Persidangan akan dilakukan secara terbuka dan diliput secara internasional.

Kalau memang Taliban tidak bersedia dengan persyaratan ini, maka AS akan punya alasan untuk menekan dan bahkan memberi pelajaran kepada Taliban. Menurut Dr. Ijaz, mengutuk sistem pengadilan dengan ini dan itu, sementara tidak pernah melakukan pengadilan secara fair dan transparan terhadap “ekstremis” Islam, tidak hanya bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan dan hukum internasional, namun juga berbau imperialisme budaya.

Kalau memang AS tetap bersikeras untuk mengejar Osama dengan cara militer dan sukses membunuh atau menculiknya, belum akan menyelesaikan masalah dasar terorisme. Dan, bahkan, menurut Dr. Ijaz, merupakan proses penyemaian permusuhan yang lebih “semarak” dan pemuda Islam internasional. “Kalau memang kami belum mampu membalas Amerika semasa hidup kami, biarkan Osama-Osama muda yang memberi pelajaran,” ujar Abdel Aziz, 43 tahun, simpatisan asal Pakistan yang menamai bayi laki-lakinya, Osama.

Osama bin Laden Mujahid atau Teroris?

Menurut majalah News Week vol. 133, Osama adalah orang Muslim yang taat, kaya, berbakat, karismatis, dan cakap. Osama sama sekali tidak mempunyai kesan angker dan arogan, tetapi sebaliknya, sopan dan lembut. Namun, mengapa dalam potret Amerika Osama adalah teroris kelas kakap yang paling berbahaya?

Menurut Osama dalam wawancara dengan The National, 5 Januari 1999, seluruh Dunia Islam sedang dieksploitasi aliansi Salibis-Yahudi. Lihat Pakistan, dia di bawah tekanan kuat mereka secara ekonomis dan politis. Afghanistan, Iran, Irak, Suriah, Palestina, Lebanon, Sudan, Somalia, Libia, Mesir, dan negara-negara Teluk termasuk Saudi, semuanya di bawah tekanan konspiratif aliansi ini. Dan, status quo seperti ini akan terus dipertahankan, agar Islam tetap tersubordinasi, ini hanya perpanjangan perang salib.

Dalam wawancara dengan harian Palestina bulan November 1996, Osama benar-benar mengeluhkan perlakuan kerajaan Saudi terhadap intelektual Muslim: “Memecat mereka dari pos-pos di berbagai universitas dan masjid di kerajaan ini, bahkan melarang peredaran kaset-kaset mereka, melarang ceramah-ceramah mereka yang hanya memberi nasihat mana yang baik dan mana yang buruk.” Ini yang membuat Osama benar-benar membenci apa saja yang berbau Amerika karena mereka telah berhasil membentengi dan mendikte kerajaan Saudi dengan tujuan eksploitasi harta negara dan mempertahankan eksistensi 500 ribu tentara AS di Jazirah Arab ini.

Bagi Osama, AS datang bukan untuk mempromosikan demokrasi di dunia Arab dan mendukung perlawanan bangsa Palestina menentang pendudukan Israel, bahkan sebaliknya berkonspirasi menggerogoti oposisi terhadap penguasa Arab dan melindungi Israel.

Dari persepsi ini, Osama akhirnya mendeklarasikan jihad menentang aliansi dan konspirasi Salibis-Yahudi. Prioritasnya adalah membebaskan Al-Haramain dan Al-Quds. Kalau memang aliansi tidak mau keluar secara sukarela dari tanah Arab, “Amerika akan meninggalkan Timur Tengah apabila semua tentara dan rakyatnya dikirim pulang dalam peti mati. Begitulah keadaannya saat Anda akan hengkang,” ucap Osama menggertak dalam wawancara ABC “Nightline.”

Komitmen dan konsistensi oposisinya yang menjadi pelatuk simpati dan berbagai belahan bumi Islam. Sebagaimana diakui oleh pejabat senior Amerika yang memantau aktivitas Osama baik di Afghanistan, Sudan, maupun di mana saja, “Dia mendapat dukungan kuat di kalangan rakyat biasa di Dunia Islam hanya dengan argumen politik sentralnya: tentara Amerika harus keluar dari Arab Saudi.” Dan, esensi seruannya yang berkali-kali diucapkan dalam setiap wawancara.

Menurut Osama, agenda besar konspirasi adalah memecah-belah umat Islam dan ini yang harus kami lawan. “Jihad adalah bagian dari agama Islam. PLO melepas senjata dan mendapat kekuasaan Palestina. Namun, apa yang telah Yahudi berikan? Sampai sekarang Israel tidak pernah memberikan 1% pun dari hak-hak Palestina,” ujar Osama dalam wawancara denganYusufzai, di majalah Time.

Menurut Osama, sangat keliru menuduh dia terlibat dalam pelbagai aktivitas terorisme. “Tuduhan Amerika itu tidak benar, kecuali kalau memang mereka kaitkan peristiwa itu dengan seruan saya. ini jelas dan saya akui itu. Saya termasuk salah seorang yang menandatangani fatwa dan mengajak mengobarkan jihad,” tegasnya membela.

Osama bereaksi dalam upaya membebaskan diri dan Dunia Islam dari hanya yang diyakininya sebagai konspirasi besar Salibis-Yahudi, lain tidak.

Dan, kalau memang keyakinannya sebagai seorang Muslim untuk membela diri dan menerapkan ajaran Islam dianggap sebagai sebuah tindakan kriminal, maka Osama menyatakan, “Kalau memang mengobarkan jihad melawan Yahudi dan Amerika untuk membebaskan Al-Aqsa dan Ka’bah dianggap sebuah tindakan kriminal, biarkan sejarah menjadi saksi bahwa saya adalah kriminal.

OSAMA BIN LADEN MELAWAN AMERIKA
Editor: Ahmad Dhumyathi Bashori MA.
Penerbit: Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124
Cetakan 1, Rajab 1421 /Oktober 2000
Telp.(022) 700931 Fax.(022) 707038

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: